
Tak terasa waktu berlalu kini sudah seminggu sejak pernikahan Rahan.
Ingatan Rahan kembali ke awal seminggu pernikahan, senyum simpul Rahan terus mengembang, benar jika Ibu mengirim serbuk berendam dan Rayhan kau juaranya, memberiku solusi jitu saat Ais merengek kesakitan.
Dan yang membuat Rahan heran mesti sesudahnya merengek tapi dia tak menolak jika aku meminta jatah, kini aku duduk di ruang tengah ruko. Ais di dapur dengan Bi Narmi, melihat anak-anak sibuk di bawah merupakan kesenangan tersendiri.
Mertua Rahan pun sudah tak lagi bekerja di ruko tapi kapan pun aku meminta bantuan pasti mereka siap membantunya.
Lamunan Rahan buyar saat Ais menyusupkan kepala di dadanya, masih menjaga aurat meski di rumah, kecuali di kamar dia akan memamerkan semuanya meski aku tak meminta. Ku kecup pucuk kepalanya, wajahnya sedikit pucat karena kegiatan yang kulakukan bisa menyita waktunya semalaman. Merasakan nikmat yang tiada tara membuat Rahan ketagihan siang dan malam.
Masih mendekap Ais, saat pagi ini ibu meminta aku pulang bersama mertua dan juga Bi Narmi, karena acara nguduh mantu yang di laksanakan sehari lagi.
Mengusap bahunya sesaat, itu membuat Ais semakin mendekatkan tubuhnya," sudah peking Ais? tanya Rahan pelan. Ais hanya mengangguk.
Melihat aku dan Ais berangkulan membuat Bi Narmi menegur," Den, masuk kamar banyak pembeli malu," ucap Bi Narmi pelam dan berlalu ke dapur.
Aku hanya tersenyum," maaf B,"i ucap Rahan.
"Ke kamar yuk," ajak Rahan. Ais tak menolak ajakan aku dan masih saja bergelayut di lengan aku. Saat masuk kamar dengan tersenyum, aku mengunci pintu dan langsung menangkup wajah istrinya," hem ... cantiknya Mas," ucap Rahan lembut.
Belum juga melepas hijabnya aku sudah melakukan serangan dadakan setelah memberikan ciuman dadakan untuk Ais. Kini aku sudah menyusupkan kepala di balik hijab Ais mencari benda kesukaan yang sudah seminggu ini menjadi favorit Rahan.
Mengusapnya perlahan dan kembali bermain di sana Ais dengan desahannya membuat Rahan semakin menggila bukan hanya bibirku tapi tanganku, juga sudah merayap kemana-mana. Tubuh Ais bergetar saat sentuhan ku mengenai tempat faforit hingga membuat Ais kembali mendesah. Mendengar desahannya membuat darahku semakin memuncak.
Ku bopong tubuhnya ke rajang tanpa melepas pautan bibir kami berdua, hasrat yang sudah di ubun ubun membuat Rahan ingin segera menyelesaikan serangan di siang bolong.
Dengan napas sama-sama terengah-engah aku menuntaskan semuanya hingga aku terkulai di sisi Ais. Kami saling tersenyum dan menatap," Terimabkasih ucap Rahan sembari mengecup bibir Ais sekali lagi. Kami pun tertidur hingga sore menjelang saat Bi Narmi mengetuk pintu kamar, aku baru terbangun saat melihat Ais masih tertidur dengan bajunya yang berantakan, karna ulah ku tapi hijabnya sudah jatuh entah kemana.
Aku menutup tubuh Ais saat ketukan itu terdengar lagi sebentar," Rahsn menjawab sembari memakai kolornya. Membuka pintu kamar dan segera keluar kemudian menutupnya lagi karena Ais kini tengah tidur.
"Maaf Den," ucap Bibi sambil menunduk.
"Nggak apa Bi , ucap Rahan.
"Ada apa? tanya Rahan lagi.
"M ... itu ponsel Aden dari tadi siang bunyi terus." Aku melihat sejenak, memang kini sudah berbunyi lagi dengan segera aku mengambilnya dan menekan tombol hijau
"Assalammualaikum wr, wb.
__ADS_1
"Waalaikum salam," jawab di seberang sana.
"Rahan ... suara ibu tertahan.
"Ada apa Bu? jawab Rahan, tak lama terdengar suara ibu tertawa di seberang sana.
"Nganten baru, kemana saja dari siang Ibu nelpon nggak di angkat? tanya Ibu dsn itu membuat Rahan tersipu malu.
"Toko rame Bu," alasan Rahan sembari tersenyum. Jelas terdengar di seberang sana jawaban Ibu, saat mendengar jawaban Rahan.
"Sebenarnya Ibu marah, tapi Ibu pingin Rahan pulang, ingat pulang," ucap Ibu sembari menutup telfonnya sepihak.
Aku tersenyum kecut setelah nya dan kembali ke kamar dan belum benar-benar masuk aku melihat Bibi melintas," Bi, sudah siap-siap tanya Rahan.
"Sudah Den," jawab bibi
Menghubungi mertuaku, karena perjalanan
ini aku putuskan untuk berangkat lebih awal.
Melihat Ais dengan rambut hitam yang tergerai dan banyak lagi kelebihan yang tak bisa Rahan sebutkan, mendekati kata sempurna," sempurna dengan senyum penuh arti. Masih melihat Ais yang tertidur, sinar sore hari kini menerpa wajahnya dengan kulitnya yang bersih.
Mendekat, sesaat kembali aku tersenyum sendiri saat melihat Ais menggeliat dengan baju berantakan menatapnya sesaat dan Rahan baru tersadar kemana benda kecil penutup benda faforitnya.
Pukul lima sore aku terbangun dan melihat Ais sudah selesai mandi dan menyisir rambutnya," mandi Mas sudah sore, bentar lagi magrib."
"Aku masih enggan beranjak, masih saja aku pandang siluet tubuh Ais, kini dia sudah memakai hijab lebarnya hingga menutup dadanya, kemudian menoleh ke arahku.
"Mas ... ucapnya lagi. "Mandi .... "
"Hm," hanya itu yang ke luar dari bibir Rahan. "Kok hem Mas, bangun kini sudah meraih tangan Rahan. Aku malah merentangkan tubuh saja di ranjang.
"M ... tak berbicara, namun aku melirik Ais berjalan mendekat naik ke ranjang.
"Cup, cup mandi," ucap Ais sembari keluar kamar, menerima kecupan tiba-tiba membuat Rahan tersenyum dan bergegas mandi.
Melihat toko belum tutup saat aku keluar dari kamar, melihat jam sudah pukul tujuh belas tiga puluh. Aku sengaja turun, melihat mereka masih sibuk," kok belum tutup Sain sudah jam segini? tanya Rahan.
"Setelah pelanggan terakhir tutup Sain mau magrib," ucap Rahan mrngingatkan.
__ADS_1
Husain yang mendengar perintah seperti itu langsung memberi tahu yang lainnya. Berjalan berkeliling melihat keadaan toko, karena selama seminggu ini jarang aku turun ke bawah.
Aku memanggil Husain," Sain tolong mungkin agak lama saya di kota M tolong jaga dan awasi anak-anak," ucap Rahan.
Setelah berbicara dengan Husain Rahan naik keatas, melihat Ais sudah bersiap dengan Bibi, mengeluarkan tas dan perlengkapan lainnya.
"Mas, kata Bapak mending kita berangkat malam saja," ucap Ais memberitahu.
Aku melihat jam," shalat magrib dulu Ais," ucap Rahan sembari melangkah ke kamar mengambil air wudhu. setelah shalat," Bi , tolong siapkan semuanya, saya ke bawah sebentar.
Melihat Husain dan yang lainnya masih beres beres," Sain," panggil Rahan.
Yang kupanggil langsung mendekat," saya akan berangkat malam ini, tolong untuk beberapa hari tidurlah di sini ruko kosong Sain, ucap Rahan memberi tahu.
"Apa boleh saya mengajak Hendro?
"Nggak apa Sain! setelah saya berangkat tutup saja."
Setelahnya aku bergegas ke atas
"Ais dan Bi Narmi sudah siap,tak berapa lama terdengar suara orang tua Ais datang.
Mendengar itu Ais langsung tersenyum," ayo Mas, Bapak sudah datang," ucap Ais sembari tersenyum.
Memanggil Husain untuk membantu mengangkat tas dan yang lainnya.Begitu melihat orang tua Ais aku langsung salim
setelahnya membuka pintu mobil.
Menatap sejenak ruko sebelum aku melajukan mobil.Benar kata orang tua Ais melakukan perjalanan malam hari
lebih menyenangkan, tetapi harus lebih hati hati.
Melirik Ais yang sudah menguap dari tadi," tidur Ais," ucap Rahan sembari memberinya bantal untuk leher. Sudah pukul tiga dini hari aku memasuki daerah kota M, udara makin dingin saat aku menghentikan mobil di masjid sembari menunggu shalat subuh dan mata Rahan juga sedikit mengantuk.
Hampir satu jam menunggu akhirnya adzan subuh berkumandang, Ais sudah bangun dan juga orang tua Ais dan Bi Narmi.
Kami semua keluar untuk melaksanakan shalat subuh, air yang dingin membasahi wajah membuat mata Rahan jadi terbuka lebar.
Setelah shalat subuh kami melanjutkan perjalanan," Mas, cari sarapan dulu yuk
__ADS_1
tuh pecel glintung sudah buka," ucap Ais.
Aku langsung membelokkan mobil di warung biru kecil dan sederhana, tempat di pinggir jalan memudahkan siapa pun untuk datang, tempat yang ramai. Menyantap sarapan pagi hari, meski kami belum mandi dan gosok gigi dari semalam.