
BAB 18 . Tentang Galang
Setelah pernikahan yang di lakukan, ini adalah genap dua minggu Galang menetap di Kota M. Mau tidak mau Galang juga harus kembali untuk melanjutkan studinya di kota S.
Hari ini hari terakhir Galang di kota M. Masih menatap kearah kamar di sampingnya, pikiran Galang seajan berjalan di dua minggu sebelum pernikahan.
Galang laki-laki berusia dua puluh tiga tahun, saat ini Galang kuliah di kota S. Kota yang lumayan jauh, masih delapan jam perjalanan bahkan lebih jika di tempuh dengan naik bis.
Galang memang sedari kecil teman Rahael secara otomatis karena ibu dan bapaknya bekerja di rumah Rahael .
__ADS_1
Setelah mendapat telfon dari bapaknya dia jadi dilema di samping sebagai teman Galang juga cuma anak pegawai Bu Rahayu sungguh berat sebenarnya mengatakan hiya .
Tapi mengingat kebaikan Bu Rahayu saat ini sungguh seperti ada hutang budi yang harus di bayar. Sang ibu cuma berharap semoga keputusan ini yang terbaik dan tak ada jeleknya membantu menjaga nama baik orang yang selama ini membantu kita. Kata-kata itu yang terus terngiang semalam, akhirnya hati Galang luluh juga, akhirnya Galang menyetujui juga sebenarnya bukan masalah bagi Galang, toh ini juga sementara.
Setibanya di rumah pagi itu, hatiku trenyuh melihat Rahael wajahnya pucat dan Galang jug mendengar Rahael juga muntah-muntah .
Galang tergagap saat Bapak menyuruhku ke rumah belakang saat itu aku sadar sesadarnya jika keputusan yang Galang ambil sudah benar, walau hanya sebagai penutup aib Rahael gadis kecil sepermainnanku.
Bapak menyuruh Galang untuk istirahat dulu sembari menunggu Bu Rahayu datang, sungguh saat itu Galang sempat kaget karena ada sesuatu yang ingin Bu Rahayu sampaikan. Ada perasaan was-was saat mendengar ucapan Bapak hingga Bapak dan Ibu datang yntuk meredakan hati Galang karena jujur ini adalah pertaruhan antara kepercayaan dan nama baik tentang aib seorang gadis dan nama baik keluarga yang selama ini secara tak langsung ikut membesarkan keluarganya juga.
__ADS_1
Galang, seharian Galang hsnya bergekung di ranjangnya, sebelum panggilan di sore hari dari Bapaknya membuat Galang semakin dilema, entah apa tang akan Galang berikan jawaban untuk Bu Rahayu, atau orang tyanya telah membicarakan ini sebelum kedatangan Galang.
Cukup lama Galang mengulur waktu untuk datang menemui Bu Rahayu, hingga panggilan Bapak untuk kedua kalinya membuat Galang tahu seperti apa lekalutan hati para orang tua di rumah ini. Rasa takut, sedih dan amarah jelas terlihat dari wajah mereka. Galang hanya menghela naoasnya dalam-dalam sebelum Gakang keluar dan menemui Bu Rahayu, entah mengapa ada rasa takut yang tiba-tiba menyelusup di hati Galang, karena selama tinggal di sini Bu Rahayu sedikitpun tak pernah memahari Galang dalam hal apapun.
Hufff
Galang kembali menghela napas panjangnya sembari keluar dari kamar. Entah percakapan seperti apa yang akan Galang dengar. Entah itu baik atau buruk. Namun, saat ini ada satu hal yang Galang yakinkan bahwa dirinya hanya berniat menolong da tak lebih.
Berprasangka buruk akan hal yang belum pasti kejelasannya, lebih tepat saat itu yang Galang rasakan.
__ADS_1