
Berbeda dengan Rahan yang menikmati hari jadinya dan memang besok Ais pun harus berangkat, jadi ini hari terakhir mereka bertemu dan mungkin beberapa bulan lagi baru ketemu.
Berbeda pula dengan Galang mendengar
Rahan jadian dengan Ais membuatnya sedikit tersenyum, Galang mendekati istrinya yang sibuk berbenah.
"Rahael, bisa enggak kita tunda kepulangan kita, sehari saja dan juga keberangkatan Twin," ujar Galang. Mendengar ucapan suaminya, Rahael seketika menatap bingung, "kenapa Mas?" tanya Rahael.
"Entalah. Mas, merasa sedikit takut Rahael, Rahan sudah nembak calon mantu kita,"
ucap Galang pelan. Rahael yang mendengar ucapan suaminya hanya membalas dengan senyuman.
"Ternyata kesampaian juga, punya calon mantu seperti Ais," ujar Rahel tiba-tiba.
"Terus, mau Mas Galang mereka di ikat?" tanya Rahael, "biar mereka jalani dulu Mas,
Menunggu setahun enggak masalah bagi kita," ucap Rahael.
Rahael sejenak menghentikan kegiatannya, menatap lekat suaminya, "lagipula besok mereka juga pisah, satu di sini satu di pondok, aman Mas. Kita beri kepercayaan saja sama Rahan yang penting sekarang ijin dulu sama Rini dan Noni kalau anaknya bakal kita ambil jadi mantu," ujar Rahael bersemangat.
"Duh, enggak terasa anak kita sudah gede gede Mas," tutur Rahael dan ucapan Rahael membuat Galang tersenyum. "Terus jika Rini dan Nono jadi besan kita, terus kita mereka apa, ya. Rahael?" tanya Galang aneh.
"Enggak tahu, Mas. Kita pikirkan nanti saja," jawab Rahael sembari tertawa.
Setelah percakapan singkat yang terjadi di kamar akhirnya kami keluar melihat Twin Al dan Rayhan. Kami tersenyum saat melihat mereka tengah bercanda, "mana Kakak kalian?" tanya Mas Galang.
"Rayhan? Mana Kakak kalian?" tanya Mas Galang lagi.
Rayhan belum juga menjawab pertanyaan Bapaknya, hingga Rahan muncul sembari tersenyum, "tuh Pak, yang di cari sudah datang," jawab Rayhan pelan.
Melihat Rahan duduk dengan tersenyum Galang sedikit menyerngit, "dari mana Rahan?"
Rahan hanya tersenyum senang, "pasti jalan sama Kak Ais," jawab Rayhan kesal.
Seketika Galang dan Rahael saling menatap, tetapi pandangan Galang langsung berpindah ke arah Rahan. "Wah. ada berita sebagus ini kenapa Bapak tidak tahu dan Rahan, kamu dan Ais kok tiba-tiba sudah jadian?" tanya Bapak heran.
"Akh, siapa lagi kalau bukan Rayhan," ujar Rahan sembari menatap Rayhan.
"Senyum-senyum lagi," ujar Rahan.
Galang, hanya menggeleng melihat ulah Rahan dan Rayhan, "Rahan, ingat! Ais itu anak orang yang harus di jaga," tutur Bapak sembari tersenyum.
Twin Al yang sedari tadi mendengarkan saja, akhirnya ikut bicara juga, "asyik, jika Kak Rahan jadian dengan Kak Ais, nanti di pondok kita bisa bareng terus sama Kakak ipar," ujar Twin senang.
"Ya, seperti itulah maksud Kak Rahan, meski Kak Ais ada di pondok, ada Twin yang mengawasi," ujar Rayhan asal sembari dan berlalu.
__ADS_1
Ibu dan bapak hanya menggelen, "ada-ada saja, Rayhan itu," ucap Bapak.
Tak terasa malam makin larut tak ada pembatalan pulang Bi Narmi juga sudah kembali dari rumah saudaranya.
"Bi, besok kita mengantar Twin dan setelah itu kita langsung pulang," ujar Rahael saat melihat Bi Narmi di dapur.
Bi Narmi hanya tersenyum, "Bu, kalau saya tinggal di sini saja sama Den Rahan, bagaimana? Kasihan Bu, Den Rahan sudah seperti anak saya sendiri dan juga Twin Al, jika saya di sini saya juga mengawasi Den Rahan dan menjenguk Twin di pondok," ujar Bi Narmi.
Rayhan yang sudah di pintu kamar seketika berbalik arah, "loh! Bibi kok tega, ninggalin Rayhan," ucap Rayhan tak terima.
"Maaf. Den Ray, di sana kan juga ada Bi Nina.
Rayhan seketika terdiam, hanya netranya saja yang menatap Bi Narmi sendu dan tak lama Rayhan kembali masuk dalam kamar.
"Bagaimana Bu?" tanya Bi Nina.
"Bi, kenapa mendadak?" tanya Rahael.
Galang yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Rahael di dapur akhirnya menghampiri juga bersama Rahan.
"Rahan bagaimana menurutmu?" tanya Bapak. "Rahan sih, setuju-setuju saja Pak," jawab Rahan.
"Rahael, biar Bi Narmi di sini saja, lagi pula biar ada yang mengawasi anak-anak," tutur Rahan. "Terserah, Mas Galang asal itu baik," ujar Rahael sembari menguap, "ayo, Mas tidur. Besok kita harus bangun pagi dan bersiap," ujar Rahael.
"Rahan!" panggil Ais, sekalian kita ajak bersama ke pondok," ujar Ibu. Mendengar perintah dari Ibunya Rahan langsung bergegas ke bawah, belum sampai menuju kamar bawah Tante Rini dan Ais sudah datang.
Ais tersenyum malu menatap Rahan, "Ais ingat jaga hati di sana," ucap Rahan sembari naik ke atas.
Tak berapa lama jami pun sudah siap, perjalanan yang lumayan jauh dalam perjalanan Bapak hanya terdiam sembari memikirkan sesuatu sedang Ibu sibuk dengan Twin Al dan wejangannya.
Tiba di pondok kami pun di sibukkan dengan Twin Al, mengantar Twin Al sementara Tante Rini mengantar Kak Ais, hingga beberapa saat kami keluar hampir bersamaan. Ibu tanpa sungkan langsung memeluk Rahan, "baik-baik saja di sini, jaga Twin," pesan Ibu sembari memeluk Rahan erat dan setekah itu bergantian dengan Bapak dan Rayhan.
Hingga tatapan Ibu tertuju pada Tante Rini, "Rini, titip anak-anak dan tolong jaga Ais, mantu kami," ucap Ibu pelan.
Mendengar ucapan Ibu, seketika Tante Rini menatap Rahan, "kalian?" tanya Tante Rini terkejut. Rahan hanya mengangguk menghiyakan pertanyaan Tante Rini.
"Rini, titip anak-anak, di rumah ada Bi Narmi dan ingat jaga calon mantu," ucap Rahael mengulang kata-katanya.
Mendengar ucapan Ibu, seketika Rahan tersenyum, "Bapak pulang, nanti sebulan sekali Ibu dan Bapak datang, jaga Twin Al, Rahan," ucap Bapak sembari memeluk.
Rahan hanya tersenyum saat kembarannya hanya menunduk, "terima kasih," ujar Rahan sembari memeluk Rayhan.
Rayhan seketika membalas pelukan Kakaknya sembari berbisik, "ingat perjanjian yang kita buat," ucap Rayhan sembari melepas pelukannya dan berlalu masuk dalam mobil.
Perjalanan masih jauh, sepi kini yang terasa
__ADS_1
Rayhan hanya tiduran di mobil dan Ibu duduk dengan Bapak di depan. Beberapa kali berhenti hanya sekedar makan dan sholat, hingga tak terasa tiba di rumah sudah larut malam lelah itu yang terasa. Tiba di rumah kami tak ingin membangunkan siapapun masuk dengan kunci cadangan yang kami bawa. Kami segera masuk ke kamar masing-masing, langsung membersihkan diri dan bergegas tidur.
Bangun di pagi hari dengan suasana berbeda yang biasanya rame kini jadi sepi. Begitu di meja makan, Eyang Jum yang dari tadi diam tiba tiba bertanya, "Bi, Narmi mana Galang? kenapa enggak ikut pulang?" tanya Eyang Jum sembari mencari sosok Bi Narmi.
"Bi, Narmi memilih tinggal di sana Bu, biar Bi Narmi mengawasi anak-anak," jawab Galang pelan. "Rumah jadi sepi Galang," ujar Ibu lirih.
Rayhan yang sedari tadi di dalam kamar akhirnya keluar juga dengan berpakaian rapi, Rayhan menyapa Eyang Jum. "Pagi Eyang," ujar Rayhan sembari salim.
"Pak Rayhan mau ke kampus mengurus ini dan lainnya," pamit Rayhan.
"Sarapan dulu Rayhan nanti Bapak antar," ujar Galang.
Tak berapa lama mereka sudah berangkat,
perjalanan lumayan jauh, mendaftar di universitas Negeri di kota M. Setelah semua urusan selesai mereka bergegas pulang, "pak Rayhan mampir ke Eyang terus nanti pulang agak sore," ucap Rayhan lagi.
Galang hanya tersenyum dan menghiyakan keinginan Rayhan, "Enggak apa-apa, Rayhan hati-hati," ucap Galang sembari melajukan mobilnya.
Rayhan yang sampai di rumah Eyang Panji langsung menghempaskan tubuhnya begitu saja, melihat itu Eyang Panji langsung menghampiri Rayhan, "kenapa?"
"Rumah sepi Eyang, Kak Rahan dan Twin sudah berangkat, Bi, Narmi juga ikut-ikutan tinggal disana," ujar Rayhan.
"Lah, katanya Rayhan mau di sini, mengurus Toko," ucap Eyang Panji.
"Hiya sih, Eyang. Eyang, Eyang mau tahu enggak. Kak Rahan sudah punya pacar," ucap Rayhan keceplosan.
"Mana, mungkin Rayhan," ujar Eyang Panji tak percaya
"Sungguh! Mungkin tahun depan nikah," ucap Rayhan tanpa di tutup-tutupi.
"Mana mungkin, Eyang saja belum melihat calonnya," ujar Eyang pelan.
"Masih di pondok Eyang, baru lulus tahun depan," cerita Rayhan.
"Jadi, begitu ceritanya. Terus Rayhan sendiri kapan punya pacar," ledek Eyang Panji. "Rayhan. Sih gampang, Rayhan tinggal mengejar saja, lagipula, Rayhan masih ingin bersenang-senang, masih mau kuliah," ujar Rayhan sembari mengubah posisi tidurnya.
Mendengar cerita Rayhan, sesaat Eyang Panji menatap Rayhan lekat ada yang menyentil hati Eyang Panji saat mendapati cucunya cerita tentang isi hatinya. Eyang Panji kini kembali tersenyum.dan ingin menggoda Rayhan, "Kenapa, harus main kejar-kejaran Rayhan, memangnya ..., sengaja Eyang Panji menjeda ucapannya ingin melihat reaksi Rayhan.
"Nah itu Eyang, Rayhan masih mencari di mana rumahnya," jawab Rayhan tiba-tiba.
"Ya, sudah. Istirahat saja, nanti sore ikut Eyang, kerumah temen Eyang siapa tau ketemu jodoh di sana," ujar Eyang Panji menggoda.
"Ig, enggak mau Eyang, lagipula Rayhan masih kecil, Rayhan sih enggak terburu-buru," jawab Rayhan.
Mendendengar ucapan Rayhan Eyang Panji langsung tetawa, "anak jaman sekarang ada- ada saja," ujar Eyang sembari menutup pintu kamar Rayhan.
__ADS_1