Rahael

Rahael
BAB 51 . LUCUNYA TWIN GEMBUL KU


__ADS_3

Dengan adanya Bi Narmi, Rahael sedikit mempunyai waktu lebih santai sedikit.


Apalagi mengingat keinginan Rahael yang ingin menambah momongan lagi.


Apalagi Twin yang kini sudah mulai belajar merangkak dan sekali-kali berdiri membuat Rahael dan Bibi repot di siang hari.


Dengan ocehannya yang kadang tak jelas dan yang pasti membuat Galang dan Bibi selalu tersenyum di tambah wajahnya yang gembul i dan sedikit ngeces karena gigi susunya mulai tumbuh satu dua, hingga menemukan apapun pasti di raihnya dan ingin di kunyah nya.


Pagi ini semuanya terkejut saat Twin menyebut nama bapaknya dengan panggilan terbata.


"Bapa-pa-pa ... "


Panggilan ini membuat Mas galang tersenyum puas berjongkok meraih Rahan sembari menciummi wajah gembulnya.


Rayhan yang awalnya diam mulai ikut meraih tangan Mas Galang dan mulutnya tak berhenti mengoceh.


"Mam-mam-pa-pa."


Mendengar ocehan Twin membuat Mas Galang tertawa terpingkal-pingkal sembari mencium kedua Twin secara bergantian. Rahael yang melihat itu hanya mencebik iri.


"kenapa pula Bapaknya yang di sebut pertama kali," ucap Rahael.


Mendengar ucapan Rahael, Mas Galang langsung tersenyum.


"Nggak boleh iri," ucap Mas Galang dan langsung menghampiri Rahael dan mencium seluruh wajah Rahael.

__ADS_1


"Ish! Ada Bi Narmi, Mas nggak tau malu," ucap Rahael.


Bi Narmi yang sedang menyuapi Twin hanya tersenyum sembari mengelengkan kepala.


"Mam-mam-mam," itu yang di ucapkan Twin bila Bi Narmi terlambat menyuapi.


Mas Galang yang sedang tertawa puas, meledek Rahael, terkejut saat tiba-tiba telfon berdering.


"Siapa Mas?" tanya Rahael.


"Mawan," jawab Galang pelan.


"Jangan kasih ketemu," ucap Rahael seketika.


"Nggak Rahael ini minta di kirim video katanya."


Melihat Twin gembul, serasa semakin tak rela membagi mereka dengan Bapak biologisnya, sedikit kecewa saat Mas Galang membagi video mereka.


Rahael hanya duduk terdiam, melihat Mas Galang sekilas, Mas Galang menatap dan tersenyum dan beranjak duduk di samping Rahael.


"Kenapa?" tanya Galang.


"Katanya sudah boleh. Mas, nggak pingin nantinya anak-anak Mas jadi pendendam, Mas juga nggak ngerti Rahael, bagaimana menjelaskan pada mereka jika sudah dewasa nanti nya."


"Mas hanya pingin mereka terbiasa saja dengan keadaan ini. Paling tidak memanggil

__ADS_1


Mawan sebagai ayah bagi mereka.


Bagaimanapun Mas yang merasa paling di untungkan memilikimu dan Twin secara bersamaan."


"Rahael, kalau boleh biarkan keadaan ini seperti ini, biasakan Twin memanggil Mawan ayah dan memanggil aku, Bapak. Oke?"


"Saat ini aku menyadari bahwa Twin mempunyai banyak orang-orang yang menyayanginya, bukan kita orang tuanya saja, ada kedua neneknya dan kakeknya."


"Mas hanya pingin Rahael ikhlas, maaf ...


berubahlah demi Twin dan anak-anak kita kelak, mau kan?"


Galang merengkuh tubuh Rahael, melihat mereka berdua seperti itu siapapun pasti merindukan dua bocah gembul dan sangat lucu.


Rahael hanya diam dan menatap. Galang membiarkan dia bermain dengan pikirannya.


Galang hanya ingin Rahael memahami keadaan ini. Hingga suatu saat sakit yang di rasakan menjadi sesuatu yang tidak menyulitkannya kelak.


"Mas ke bawah dulu Rahael, toko rame. Mau ikut bantu-bantu kayak dulu? Twin ada bi Narmi, mau kan?" tanya Galang sembari menoel hidungnya.


Melangkah menuju Twin menciumnya bergantian. "Cepet bobok, nggak boleh rewel ya!" Biar Ibu dan Bibi bisa istirahat," pesan Galang pada Twin.


"Bapak kerja dulu," ucap Galang sambil berlalu menuruni anak tangga.


Duduk di meja sebelah kasir sembari memeriksa pembukuan membuat aktifitas terhenti sejenak.

__ADS_1


'Mungkin ide ini juga bagus untuk di coba sebelum Rahael hamil lagi,' ucap batin Galang.


Kemudian Galang melanjutkan pekerjaan dengan setenang mungkin.


__ADS_2