Rahael

Rahael
Bab 21. pingin Gudeg komplit


__ADS_3

BAB 21. PINGIN GUDEK KOMPLIT


Sudah hampir seminggu, kondisi Rahael membaik, muntah- muntah yang sering di rasakan kini sudah seminggu Rahael tak muntah -muntah makannya juga bertambah.


"Bu ... "panggil Rahael sembari berjalan.


"Ada apa, Rahael! Kok keras suarannya," jawab Bu Jum yang merasa heran dengan panggilan Rahael.


"Bu.Kapan Mas Galang pulang?" tanya Rahael tiba-tiba.


"Memang kenapa? Ibu dengar setiap hari juga menghubungi Mas Galang, kok masih kangen," Goda Bu Jum sembri tersenyum.


"Esh ... Ibu ini. Bukan itu Bu, Rahael pingin jika Mas Galang pulang, nanti bawa oleh-oleh Gudek komplit Bu," jawab Rahael sembari menelan ludahnya.


"Gudek apa Masnya?" tanya Bu Jum menggoda Rahael Ibu mertua yang nyata-nyata memang sangat menyayangi Rahael.


Di liriknya mantu kesayanganya, yang kini tersenyum dengan wajah merona nya.


"Ya sudah, sana! tmTelfon Mas Galang bisa pulang kapan," ujar Bu Jum sembari tersenyum.

__ADS_1


Mendengar ucaoan Bu Jum Rahael seperti mendapat angin segar, namun tak berselang lama, "Bu ... "panggil Rahael sembari menangis. " Lho ... "kok nangis?" tanya Bu Jum heran.


Rahael masih menangis hingga tak lama, "Mas Galang belum bisa pulang sekarang, besok katanya," cerita Rahael sembari merajuk. "Ya, sudah. Enggak apa-apa," jawab Bu Jum lagi.


"Ta-tapi kan Rahael mau nya sekarang Bu," rengek Rahael manja.


Bu Jum terdiam sesaat, menatap wajah Rahael, sesaat Bu Jum tersenyum dan sadar jika menantunya tengah ngidam.


"Gimana kalau Bapak yang belikan di perempatan Nak, buat pengobat kangen," suara Mang Udin tiba-tiba dari arah ruang tamu.


"Enggak mau," rengek Rahael sambil terus menangis.


Mekihat Rahaek menangis dan kefipan daru isterinya, Mang Udin akhirnya sadar posisi Rahael saat ini, ngidamnya seirang wanita hamil.


Setelah cukup lama menelpon, akhirnya berdering juga. "Assalammualaikum wr, wb," ucap Mang Udin saat ponselnya terhubung.


"Bagaimana Lang, Rahael sudah bilang kan? tadi ingin apa?" tanya Mang Udin sembari melirik menantunya


"Ya, Pak saya sudah siap-siap Pak! mungkin besok pagi baru sampai," jawab Galang.

__ADS_1


"Hiya, cepat pulang, kasihan anaknya nanti ngences anaknya," tutur Mang Udi.


"Tolong berikan ke Rahael Pak telfon nya."


"Rahael, Mas Galang mau bicara," ujar Mang Udin sembari menyerahkan pinsel yang di bawanya, sekilas Mang Udin melirik ada terbersit senyum di wajah Rahael.


"Ya, Mas Galang," jawab Raharl bersemangat. "Enggak pakai suara keras juga Rahael, besok Mas baru sampai, sekarang sebagai obat pingin beli di perempatan dulu, mau kan?" tanya Gilang lirih.


Rahael sembari tersenyum menjawab, "hiya Mas," jawab Rahael.


"Anak pinter begitu enggak boleh rewel," jawab Galang membesarkan hati Rahael.


"Rahael tutup ya Mas, waalaikum salam wr,wb."


Wajah Rahael seketika berbinar sembari menyerahkan pinsel Mang Udin.


"Pak, Mas Galang bilang beli di perempatan saja dulu , besok Mas Galang baru sampai," ujar Rahael tersipu.


"Rahael-Rahael, kalau sudah ketemu pawangnya langsung menurut saja," tutur Mang Udin sembari mengusap pucuk kepala menantunya, Bu Jum yang duduk di ujung sofa hanya tersenyum simpul melihat tingkah menantunya, benar-benar drama bumil.

__ADS_1


Sudah dua bulan Galang dan Bu Rahayu belum bisa pulang, meski begitu hubungan jarak jauh tetap di lakukan .


Awalnya Rahael tak menanggapi tapi karena sabar dan telatennya Galang akhirnya Rahael mau menerima setiap kali Galang menghubungi nya. Malah sekarang Galang layaknya pawang bagi Rahael.


__ADS_2