
Bab 107. Perjalanan ini
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu kini Rahan dan Rayhan sudah memasuki pra kuliah Twin Al sudah pra SMA
Kehebohan terjadi saat Rahan mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan kuliah di kota S di mana Bapak kuliah dulu dengan alasan ingin seperti Bapak yang bekerja dengan kuliah di mana nanti Rahan akan tinggal di Ruko dan menangani Toko di sana.
Namun, ada satu alasan Rahan kesana, mengejar jodoh yang kini masih kurang setahun di pondok dan memang Rahan iseng- iseng sering menelfon Om Nono untuk mencari tahu.
Mendengar hal itu Rayhan hanya tersenyum, "alasan!" ujar Rayhan menimpali, karena Rayhan tahu jika alasan yang Rahan ucapkan hanya siasat Rahan saja.
"Rayhan, apa kau ikut kuliah di sana?" tanya Ibu dan Bapak tiba-tiba.
"Enggak Bu, Rayhan di sini saja. Rayhan pingin menjaga Toko yang di sini saja, lagian Bapak juga sibuk dengan Toko barunya," ujar Rayhan beralasan di suatu malam.
Mendengar jawaban Rayhan, seketika Ibu tersenyum lega, sedangkan Twin yang berada di kamar tiba-tiba keluar dengan idenya.
"Bu. Twin, ingin mondok di tempatnya Kak Ais," ujar mereka serempak.
"Apa yang membuat kalian berpikir seperti itu, ibu setuju saja, tetapi Ibu belum tahu dengan Bapak," jawab Rahael.
Mendengar hal itu Rahan langsung tersenyum sumringah, "Rahan, mendukung mereka Bu, keinginan mereka juga baik," ucap Rahan asal.
Mendengar ucapan Rahan, Rayhan langsung menatap kode bahasa kembar kami sudah beraksi akhirnya, lagi-lagi Rayhan hanya menyebikkan bibirnya.
Percakapan terhenti saat Eyang Uti berjalan tergesa menghampiri kami, "Rahael! Eyang-Eyang Kakung," ucap Eyang Uti terbata.
Mendengar ucapan Eyang Uti kami langsung menghambur ke rumah belakang, sementara Ibu mencoba menenangkan Eyang Uti dan Eyang Rahayu yang baru keluar dari kamar melihat dengan bingung.
Seketika, tangis Eyang Uti pecah ketika ibu memeluknya, "Bapakmu Nduk, Bapakmu!" tutur Eyang Uti sembari menangis.
"Tenang Bu, kenapa Bapak?" tanya Rahael bingung.
"Ayo, lihat Bapakmu," ujar Eyang Uti sembari menarik Rahael ke rumah belakang.
Belum juga langkah kami sampai di rumah belakang, Rahael dan Eyang Uti, langsung berjalan ke rumah belakang, saat mendengar anak-anak berteriak kencang.
Melihat kondisi Eyang Kung yang tak baik-baik saja, Ibu segera menelfon Dokter langganan Eyang sedangkan Eyang Rahayu langsung menelfon Bapak di Toko.
Tak berapa lama Bapak sudah datang dan langsung mendekat, Bapak langsung memegang tangan Eyang Kung, tubuh Bapak seketika lemas. Rahan yang berdiri di samping Bapak langsung menangkap tubuh Bapak yang pingsan. Suasana rumah belakang semakin kacau, hingga beberapa Dokter Fahmi datang dan memeriksa Eyang Kakung, "maaf," ucap Dokter Fahmi sembari melepas stetoskopnya. Belum juga Dokter Fahmi menjelaskan maksud dari ucapannya
Eyang Uti dan Ibu sudah menangis, sedangkan Twin Al yang sedari tadi sudah menangis kini makin menangis histeris.
Eyang Rahayu yang sedari tadi berusaha menahan tangisnya dan terlihat masih bisa menguasai dirinya, "Bu Rahayu, maaf! Saya tidak bisa menolong, maaf! sebelum kami datang, Pak Udin sudah ... "ucapan Dokter Fahmi terhenti begitu saja.
__ADS_1
"Eyang Rahayu yang mendengar ucapan Dokter Fahmi hanya mengangguk faham, apa yang terjadi saat ini, "Dokter tolong, periksa menantu saya," tutur Eyang Rahayu sembari mendekat. Dokter Fahmi dengan sigap langsung memeriksa Bapak dan setelah itu Dokter Fahmi mengoleskan sesuatu di hidung Bapak hingga berkali-kali. Rahan dan Rayhan masih setia menunggu Bapak mereka, hingga beberapa saat, akhirnya Galang terbangun juga.
"Rahan, Rayhan! Biar Eyang yang menunggu Bapak hingga pulih, kalian melapor pada Pak RT," ujar Bu Rahayu.
Tanpa di minta dua kali Rahan dan Rayhan langsung melaksanakan tugas yang di berikan oleh Eyang Rahayu dan itu terbukti dengan datangnya para tetangga dan warga kampung.
Kondisi rumah seketika ramai, para tetangga sudah melakukan tugasnya masing-masing dan mereka bekerja dengan cepat.
Rahan dan Rayhan sedari tadi hanya duduk mengamati kegiatan para warga Rahan dan Rayhan hanya menatap sedih, "mengingat sakit Eyang Udin yang makin hari semakin parah, diabetes yang membuat tubuh Eyang Udin semakin kurus dan terkadang darah tingginya yang menghkawatirkan," lamunan Rahan.
Hingga tepukan di bahu Rahan dan Rayhan yang membuat kami terkejut, "ayo, shalat jenasah," ujar Bapak.
Kami segera engambil air wudhu dan ikut shalat jenasah. Menuju pemakaman yang cukup jauh menggunakan mobil ambulans dan para tetangga mengikuti mengunakan kendaraan roda dua saling berboncengan. Prosesi pemakaman yang cukup lancar hingga kami tiba di rumah.
Memasuki rumah Bapak langsung duduk terdiam, sementara Ibu sudah tak menangis lagi, sedangkan Eyang Jum dan Eyang Rahayu masih dalam duka.
Kepergian Eyang Kakung, sudah satu minggu berlalu, Eyang Jum yang berada di rumah belakang akhirnya mau tidak mau harus pundah ke rumah depan, kini Bapak sydah tak mau menerima apapun dari Eyang Jum.
Baru kali ini, Rahan dan Rayhan melihat Bapak marah dengan ketenangannya, "Bu, tolong Galang. Menurutlah sekali ini saja Bu!" ujar Bapak.
"Galang, biarkan Ibu di rumah belakang saja, di sini ada Bi Nina dan Bi Narmi," ujar Ibu menolak. Sesaat Bapak terdiam menatap Eyang Jum lekat. "Bu! Galang mohon!" ujar Bapak lagi.
Akhirnya Bapak memilih untuk diam dan Ibu yang sedari tadi memperhatikan seketika berbisik pada Twin Al. Cukup lama Tein Al membujuk tetapi Eyang Jum, masih kekeh menolak. Merasa usahanya sia-sia Twin Al langsung menangis kesal.
Namun, kini Eyang Jum lebih banyak duduk melamun dan beberapa hari ke belakang Eyang Jum lebih banyak diam dan merenung semuanya tak luput dari pandangan Rahan.
Pagi ini, Eyang Rahayu yang tiba-tiba duduk di samping Eyang Jum, terlihat Eyang Jum sedikit terkejut tetapi tak lama kemudian mereka sudah saling mengobrol dan Rahan melihat Eyang Jum sesekali mengikis air matanya.
Waktu berjalan dengan cepat kini sudah seratus hari sejak kematian Eyang Kakung bertepatan Rahan dan Twin Al berangkat ke kota S tetapi ibu menunda keberangkatan kami selama dua hari dan ingin menyelasaikan kirim doa untuk Eyang Kakung.
Sehari sebelum keberangkatan Ibu mengingatkan Rahan dan Rayhan akan amplop yang di berikan oleh Tante Silvi yang di simpan oleh Ibu.
Kami menolaknya dengan alasan menunggu kami siap dan ibu tidak memaksanya dan menyimpan kembali amplop itu, Bapak hanya menepuk bahu kami bergantian tanda setuju,
sesuai dengan yang di rencanakan esoknya pun kami berangkat.
Kami sekeluarga ikut begitu juga dengan Bi Narmi yang rindu kampung halaman hanya meninggalkan Bi Nina dan Eyang Rahayu dengan kesibukannya yang tak mungkin di tinggalkan serta Eyang Jum yang merasa cepat capek.
Sebelum kami tiba, Ibu sudah menghubungi Tante Rini dan Om Nono agar saat kami tiba nanti, kamar kami sudah siap untuk di tempati, karena kami akan tinggal cukup lama di sana hingga Twin Al terbiasa di pondok.
Cukup lama perjalanan yang kami tempuh,
mengingat kembali perjalanan awal kami membuat Rahael tersenyum.
__ADS_1
Melihat Ibunya senyum-senyum sendiri seketika Aal menimpuk wajah Rayhan dengan biskuit yang di makannya. "Bu! Kak Rayhan, senyum-senyum sendiri," tutur Aal tak jelas.
Seketika semua menoleh ke arah Aal kecuali
bapak yang fokus di depan. Sementara Rahan langsung memiting Rayhan.
"Awas kau, kalau berani bicara," ucap Kak Rahan.
Aku dan Al tertawa tergelak, "kakak Rahan yang takut jodohnya di tikung," ucap Al bersamaan dengan suara Bapak.
"Siapa Al yang di tikung?"
Mendengar itu kak Rahan langsung terdiam
dan menggaruk kepalannya.
"Andaikan Bapak tahu siapa jodohnya pasti langsung Bapak lamar biar pacaran halal. ya kan Bu, " ucap Bapak.
Ibu dengan cepat langsung menjawab, "pastikan saja Pak, jodohnya mau di lamar, enggak!" ujar Ibu.
Aal yang sedari tadi diam langsung berbicara,
"liat deh Bu, muka Kak Rahan langsung merah.
Melihat kak Rahan di olok sana sini Bi Narmi tak terima, "sudah-sudah kasihan kakaknya."
Mendengar pembelaan Bi Narmi seketika semua langsung tertawa.
"Cie-cie, sejak kapan Bibi jadi pembelanya Kak Rahan," ucap Aal lagi.
Rahan tak menjawab hanya dengan isyarat tangan nya yang bergerak dengan artian
aku mengawasimu.
Perjalanan dengan gelak tawa melupakan semua yang terjadi , tiba-tiba suasana sepi
Rahan dan Rayhan tertidur dengan saling beradu kepala sementara Aal sibuk dengan ponselnya Al tidur di samping Bi Narmi.
Perjalanan kali ini tak ada acara mampir ke alun-alun kami hanya melewati saja dan beberapa menit sesudahnya kami pun sampai, Aal yang iseng membangukan Rahan dengan ke usilannya, "kak bangun jodoh kakak sudah berdiri menyambut tuh," ujar Aal sembari menggoyang tubuh Rahan.
Karena tak berhasil akhirnya, "Kak Ais! Aku datang," ujar Aal.
Seketika Rahan terbangun dan Rayhan yang melihatnya hanya tersenyum sementara Twin Al sudah melenggang masuk.
__ADS_1