Rahael

Rahael
Bab 116. Hari Pinangan


__ADS_3

Bab 116. Hari Pinangan


Setelah melakukan persiapan yang super kilat


Galang duduk di teras belakang, tengah menghubungi seseorang, "ya, biar besok bajunya di antar anak-anak Pak," dengar Rahaek sekilas dan selanjutnya Mas Galang menutup ponselnya dan kembali mengulir ponselnya untuk menghubungi Rini dan Nono, " ya dua hari lagi kami akan mengantar Ais dan kami juga akan melakukan lamaran sekalian biar tak ada fitnah, undang juga anak-anak Roko Nono, biar mereka bisa membantu, kami bakal datang dengan keluarga besar," ujar Mas Galang dan langsung menutup ponselnya.


Setelah itu Galang hanya terdiam beberapa saat, "kenapa, Mas?" tanya Rahael sembari duduk di samping Galang.


"Enggak terasa Rahael, anak-anak sudah pada besar-besar, mereka juga pada mau menikah serasa tanggung jawab kita hingga mereka menikah hampir terlaksana seperti mimpi," ucap Mas Galang tiba-tiba.


"Mas menyesal, Mas keberatan?" tanya Rahael lirih.


"Enggak Rahael, Mas enggak merasa seperti itu. Mas, terima kasih sudah bisa menjaga mereka," ujar Mas Galang sembari berdiri mendekat, "istirahat, yuk! Capek. Rahael mau di pijit?" tanya Mas Galang.


Benar sehari ini begitu melelahkan, Rahael hanya mengangguk menghiyakan ucapan suaminya


Berjalan beriringan menuju kamar, ruang tengah sudah sepi dan hanya kita yang belum istirahat. Memasuki kamar dengan tenang, "ayo katanya mau di pijit," ujar Mas Galang.


"Bahu saja Mas," ujar Rahael sembari memposisikan, tubuhnya untuk duduk.


Mas Galang dengan cekatan memijit pundak Rahaek pelan. Namun, terasa nyaman tetapi tak berselang lama acara memijit sudah berubah kini tangan Mas Galang sudah berpindah posisi dan sudah kemana-mana, tak lama Mas Galang sudah membalik tubuh Rahael.


"Hm, kangen Rahael," ujarbMas Galang seraya mencium bibir Rahael dengan lembut dan menuntut, mendapat serangan tiba-tiba membuat Rahael tersenyum, kini sesi pijat sudah berganti dengan gerakan cepat Mas Galang yang tiba-tiba mematikan lampu dan berganti dengan lampu temaram.


Pergulatan malam hari kami lakukan dengan panas, melepas sejenak kepenatan pagi hingga siang hari dan akhirnya semua selesai saat kami benar-benar lelah dengan tubuh yang saling menempel dan keringat yang masih membasahi tubuh kami, "terima kasih Rahaek," ujar Mas Galang sembari beberapa kali mengecup bibir Rahael dan nenuntut untuk terakhir kalinya, hingga kami sama- sama terkulai lemas dan tidur dengan kelelahan.


Suasana rumah sudah ramai, pagi ini celoteh Twin membuat semua tertawa yang Galang dengar dari kamar, melihat Rahael masih belum bergeming dari tidurnya, Galang


mencium Rahael dengan lembut dan sedikit menggodanya, "bangun Rahael," ujar Galang sembari nengecup lembut bibir Rahael dan memberinya hingga Galang sedikit merapatkan tubuhnya ke tubuh Rahael, kini bukan hanya kecupan yang Galang lakukan.


"Enggak, boleh menolak," bisik Galang sembari memberi Rahaek sentuhan- sentuhan yang kian menuntut, membuat Rahael membuka matanya lebar.


"Mas," ujar Rahael seketika, Galang kembali mengecup bibir Rahael, "enggak boleh menolak, Mas tadi sudah berbisik," ujar Galang makin menuntut. Kini dengan semangat Galang melakukan serangan di pagi hari dengan napas saling menderu, "Mas, pelankan suaranya, jangan keras-keras suaranya, anak-anak di ruang tengah," bisik Rahael sembari terengah dan meleguh


Cukup lama kami beradu keringat hingga Mas Galang sudah terkulai lemas di sisi Rahael, "terima kasih," ucap Galang sembari mengecup bibir Rahael lagi.


Suara di ruang tengah sudah sepi saat Rahael ke kamar mandi dan keluar dengan rambut basahnya.


"Kalau begini mau keluar malu Mas, rambut Rahael masih basah," ucap Rahael.


Sejenak Galang memandang wajah Rahael, "enggak apa-apa lagian, anak-anak juga paham," jawab Mas Galang sekenanya.

__ADS_1


"Buruan mandi Mas, jadinya kita sarapan paling akhir, ayo," seru Rahael sembari mendorong tubuh suaminya.


"Eh. Kok malah peluk-peluk, mandi Mas," ujar Rahael sembari berlalu keluar kamar.


Membuka pintu kamar ternyata anak-anak sibuk menghias hantaran, "Rayhan dan Rahan kuenya sudah di ambil dan sekalian mampir ke rumah Eyang mengantar bajunya Eyang."


"Rayhan, telfon orang tua Naya kita kesana jam tiga sore."


Mendengar celotehku anak-anak langsung saling memandang dengan heran, "Bu," ucap mereka serentak, Rahael langsung menoleh, "lapar, Twin," jawab Rahael.


Bapak yang keluar dari kamar tersenyum lebar melihat anak mereka bengong.


"Kenapa?" tanya Bapak.


Rahan hanya mengisyaratkan dengan tangannya tanda ibu sedang mengomel. Galang mendekati istrinya yang duduk di meja makan, "sarapan, Mas," ucap Rahael.


Mas Galang tak menjawab tetapi tangannya langsung menyomot perkedel, seusai sarapan Galang langsung ke garasi mengecek mobil dan sebagainya.


Begitu melihat Rayhan datang, "kau sudah menelfon karyawan Toko, Rayhan?" tanya Galang.


Rayhan hanya mengangguk seketika Bapak menegakkan tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Bapak.


"Sudah itu biasa Rayhan, masih meminta dan lamaran saja belum ada janur kuning melengkungnya," jawab Bapak, kemudian mereka, terdiam hingga Galang kembali bertanya pada Rayhan, "memang mau disegerakan atau ... "ucapan Galang terhenti ketika melihat Rayhan berkali-kali menegang dadanya, "semaunya Naya Pak dan orang tua Naya," jawab Rayhan tiba-tiba.


Galang memandang lekat Rayhan, "besok di halalkan juga enggak apa-apa, Rayhan sudah mapan dan mantap," ucap Bapak.


"Ternyata begini ya, Pak mau meminang pacar sendiri," ujar Rayhan.


Mendengar ucapan Rayhan, Bapak langsung


mengelap tangannya dan menepuk bahu Rayhan, "ayo di beri tugas ibu apa?" tanya Galang mengaligkan pembicaraan.


"Nunggu Kak Rayhan, masih di teras sama kak Ais."


"Ayo, Rayhan," ajak Rahan serta Ais bersamanya.


"Kak Ais ikut?" tanya Rayhan.


Rahan memilih tak menjawab pertanyaan Rayhan. Namun, Rahan sadar jika Rayhan sedang gelisah. "Kamu, kok diam Rayhan?" tanya Rahan.

__ADS_1


"Kak. Sungguh! Rayhan begitu gelisah, Rayhan gemetar, Rayhan membayangkan nanti sore," ucap Rayhan pelan.


Rahan, kemudian tersenyum dan menepuk bahu Rayhan, "semangat nanti sore semua akan baik-baik saja dan mana baju Eyang?"


Rahan hanya menunjuk pada tas yang di bawanya, perjalanan selanjutnya di lakukan dengan banyak diam hingga sampai di rumah Eyang. Melihat dua cucunya masuk Eyang Panji langsung tersenyum, "kok buru-buru Rahan," tutur Eyang Panji setelah menerima baju dari Rayhan.


"Kami harus segera mengambil pesanan kue Eyang dan lagi pula, jam dua siang kami juga harus bersiap," ujar Rahan dan Rayhan berpamitan.


"Rahan pamit dulu Eyang, kita ketemu nanti sore," ucap Rahan lagi.


Setelah semuanya selesai Rahan langsung kembali pulang membawa beberapa macam kue ada tetelan, pisang yang ujungnya di hias kertas emas dan tengahnya di beri bunga kemudian ada kue sus, cake, lapis legit


brownis, beberapa roti dan basah lainnya serta gula dan kopi dan ada beberapa masakan juga yang Ibu pesan. Seketika Rahan tertawa saat melihat ada gula dan kopi, "Bu kenapa ada ini?" tanya Rahan.


"Ibu juga hanya mengikuti tradisi Rahan, mana adikmu, enggak terasa sudah jam satu siang, ayo siap siap," ucap Ibu.


"Rahael, ini cincinnya," ucap Bapak, "ya, sudah Mas bawa dulu," ujar Ibu sembari menghias kue terakhir di bantu Bi Nina.


"Rahan, Twin Al, Ais dan Rayhan suruh bersiap-siap sekalian," ujar Ibu.


"Eyang Jum dan Eyang Rahayu, "duh! Bapak lekas mandi. "Rayhan, kemana anak itu," teriak Ibu.


Rahan hanya tersenyum melihat tingkah Ibunya, Rahan tak bisa membayangkan kalau dua hari akan seperti ini lagi. Sudah pukul dua siang semua sudah berkumpul tinggal Ibu yang belum nampak. "Mana. Ibu, Pak?" tanya Twin Al.


"Coba lihat di kamar Al," jawab Bapak. Belum juga Al beranjak ibu sudah keluar dengan tampilan yang berbeda.


"Ibu! Cantiknya," ucap mereka serempak.


Ibu hanya tertawa, "Ibu malu dengan Twin Al dan Ais, jadi tadi ibu minta di ajarin Ais," turur Ibu


"Bagaimana? Sudah pas kan?" tanya Ibu.


Melihat perubagan pada Ibu, seketika Bapak menatap Ibu, "cantik! Ayo, berangkat yang punya acara Rayhan tetapi kok ibu yang heboh," ujar Galang sembari keluar.


Mendengar ucapan Galang Eyang Jum langsung merangkul Ibu, "wes ayu," tutur Eyang sembari tersenyum.


Setelah memasukkan semua barang mereka ke dalam mobil, tak berapa lama


Eyang Panji sudah datang. Twin Ra langsung masuk bersama Ais dan Twin, sesaat Eyang Panji tersenyum.


Melajukan mobil beriringan Eyang Panji di depan lalu mobil Eyang Rahayu dan terakhir mobil Bapak. Rahan tersenyum tipis memandang saudara kembar yang lebih dulu berani melangkah menuju halal meski usia masih muda. Ais yang melihat ikut tersenyum

__ADS_1


melihat kode mata Rahan, seketika Ais makin tertunduk malu.


__ADS_2