
Bab 2. Pengumuman
Tak berselang lama Pak Mahmud sudah membagi surat pengumuman dan surat edaran untuk orang tua masing-masing. Satu persatu dari kami menerima surat edaran itu dengan tangan sedikit gemetar aku dan Silvi membuka surat pengumuman yang kami terima.
Seakan tak percaya dengan yang kami baca, sesaat Rahael dan Silvi saling menatap, senyum kami seketika tersungging, tanpa aba-aba kami langsung berpelukan. Ada rasa haru tak bisa di ungkapkan Rahael dan Silvi serta semua siswa yang hadir di nyatakan lulus. Rahael langsung meloncat kegirangan saat Rahael tahu lulus dengan nilai yang bagus, sementara Silvi tak kalah heroik meloncat-loncat sambil menangis.
Kedua sahabat ini masih dalam suka cita nya
Rahael dan Silvi berpelukan sembari meloncat-loncat merasa bahagia atas kelulusannya. Hingga tak berapa lama setelah semua siswa tenang dan pesta keberhasilan sedikit mereda, kini Rahael membuka surat edaran untuk orang tua wali murid.
Rahael sedikit menyerngitkan dahinya.
"Silvi," panggil Rahael sembari membuka surat undangan dari Pak Mahmud dan membacanya. "Bagimana perpisahan sekolah nanti kamu datang?" tanya Rahael tiba-tiba.
"Datanglah," jawab Silvi cepat sembari membaca surat undangan.
"Bagaimana dengan kamu Hel, ikut nggak?" tanya Silvi. Rahael memandang Silvi sejenak hingga beberapa saat. "Silvi. Rahael kok takut untuk datang," ucap Rahael sembari menutup surat undangan yang di pegangnya.
__ADS_1
"Sudah! Datang saja, ada Silvi juga! Jangan khawatir, Silvi jagain nanti," ucap Silvi memastikan.
Mendengar ucapan Silvi, Rahael sedikit tersenyum. "Silvi, tapi kalau Ibu kasih ijin ya? lagian ibu juga masih di luar kota."
"Ya sudah, nanti kalau sudah dapat ijin dari ibu telfon saja Silvi. Ok!" ucap Silvi lagi-lagi memberi kepastian.
Setelah di pastikan pengumuman sekolah selesai kini Rahael dan Silvi memilih untuk pulang bersama. Namun, saat memasuki area lapangan tiba-tiba Mawan menghadang mereka. "Silvi. Rahael," teriak Mawan memanggil.
Terlihat Mawan tersenyum dan menghampiri kami. "Kau, itu selalu saja mengejutkan Wan!" oceh Silvi sembari memukul bahu Mawan. Merasa kena damprat Mawan langsung menggaruk kepalanya dan tersenyum.
"Kalian mau nggak bareng aku ke pesta pisah kelas kita nanti?"
Sesaat Silvi dan Rahael saling menatap hingga dengan cepat Rahel langsung menjawab. "Maaf Wan, aku dan Silvi rencana berangkat bersama, tapi berhubung rumah kamu nggak searah dan jauh Wan, maaf! Kami tak bisa mengajak untuk berangkat bersama."
Mendengar ini, Silvi langsung menatap Rahael begitu juga dengan Mawan yang masih menggaruk kepalannya. Hingga beberapa saat Mawan terdiam, 'mau alasan apalagi memang benar apa yang di katakan Rahel' ucap batin Mawan.
Namun, Mawan masih ingin mencobanya sekali lagi, "Gimana Silvi, mau nggak barengan?" tanya Mawan lagi.
__ADS_1
"Jangan memaksa Wan, lagian Rahael nggak mau."
"Ayolah ... habis ini kita bakal nggak ketemu, gimana mau-mau kan?" pinta Mawan sekali lagi.
Rahael hanya diam sembari mengencangkan pegangan tangannya ke Silvi. "Maaf. Wan, kami nggak bisa jawab Silvi."
Mendapat penolakan yang sedemikian rupa membuat Mawan sedikit jengkel tatapannya ke Rahael semakin tajam dan wajahnya sedikit memerah.
"Ya, sudah kalau begitu," ucap Mawan sembari berlalu, tapi senyumnya menyeringai, 'tunggu Rahael kamu akan jadi milikku selamanya' batin Mawan berkata.
Setelah perbincangan dengan Mawan barusan membuat Rahael semakin ragu untuk datang ke acara itu. Sesaat Rahael terdiam menatap kepergian Mawan dengan lamunannya.
Rahael flashback on.
Sebenarnya Rahael memang takut dengan Mawan, apalagi Rahael sering mendapati Mawan nongkrong bersama teman-teman nya di belakang sekolah. Mawan cs, tak hanya nongkrong tetapi Rahael kerap melihat merokok dan melakukan hal-hal aneh lainnya. Ada hal yang membuat Rahael semakin takut. Tak jarang surat yang di berikan Mawan melalui teman-temannya membuat Rahael berusaha dan semakin menjaga jarak dengan Mawan.
Rahael flashback off.
__ADS_1