
BAB 11. PERTANYAAN
Masih berdiri di depan pintu kamar Rahael, Bu Rahayu terdiam sesaat sembari memegang dadanya.
'Ada apa dengan Rahael, tak biasanya Rahel berlaku seperti itu?"tanya hati Bu Rahayu, kini di benaknya telah muncul bermacam pertanyaan seputar anaknya.
Bu Rahayu memilih turun dan mencari Bi Jum.
"Bi Jum ... "panggil Bu Rahayu.
Hingga beberapa panggilan dari Bu Rahayu, Bi Jum yang berada di rumah belakang langsung datang tergopoh dan mendekat.
"Hiya Nyonya, ada yang bisa Bibi bantu?"
Mendengar jawaban Bi Jum. Bu Rahayu langsung tersenyum.
"Sini-sini Bi, duduk!" ucap Bu Rahayu sembari menepuk kursi di sampingnya. Bu Rahayu madih menatap Bi Jum hingga Bi Jum duduk di samping Bu Rahayu dengan wajah yang bingung.
"Bi ... "panggil Bu Rahayu sembari menatap ke arah kamar Rahael. Kemudian melihat Bi Jum.
__ADS_1
"Bi ... boleh saya bertanya, apa selama saya tinggal studi di luar kota. Apa ada hal yang aneh atau telah terjadi sesuatu di rumah Bi? ini tentang Rahael Bi," ujar Bu Rahayu lirih.
Bi Jum yang mendengar ucapan Bu Rahayu langsung menatap dengan sedikit terkejut, "memang ada apa dengan Non Rahael Nyonya, ada apa Nyonya?" tanya Bi Jum.
"Entalah Bi, sedih saya melihat Rahael, sudah seminggu ini. Setiap kali saya ke kamar
Rahael, saya selalu melihat Rahael menangis dan seperti pagi ini Rahael menangis dan terus meminta maaf Bi," ujar Bu Rahayu bingung.
"Ada, apa ya, Bi? Apa Bi Jum tahu sesuatu?" tanya Bu Rahayu sembari menghela napasnya.
"Coba cerita Bi, saya enggak bakalan marah!" ujar Bu Rahayu sembaru menatap Bi Jum, "loh. kok Bi Jum malah diam?" tanya Bu Rahayu ulang.
"Cerita saja Bi," tutur Bu Rahayu sembari memegang tangan Bi Jum.
Cukup lama Bi Jum terdiam, "begini Nyonya, seperti yang saya kabarkan tempo hari lewat telefon dan tepatnya sebulan kemarin,
Non Rahael pamit sama Bibi, katanya mau datang ke pesta sekolahnya sama Non Silvi," cerita Bi Jum, "maaf nyonya, Non Rahael sudah dapat ijin dari nyonya?" tanya Bi Jum ragu.
"Benar Bi, saya yang kasih ijin waktu itu," jawab Bu Rahayu.
__ADS_1
"Nah ... itu Nonya, malamnya Non Rahael enggak pulang, sudah Bibi telfon tapi enggak tersambung Nyonya, terus besok paginya Non Rahael pulang sekitar jam sepuluh pagi," cerita Bi Jum lagi.
"Maaf Nyonya, begitu saya pulang dari pasar, Bibi sedikit penasaran dengan suara air di kamar mandi yang terus mengalir, akhirnya Bibi beranikan diri untuk mengetuk kamar mandi Non Rahael, ternyata Non Rahael sedang mandi, setelah Bibi menyiapkan makan Non Rahael, Non Rahael baru bilang kalau Non Rahael menginap di rumah Non Silvi Nyonya. Setelah itu Non Rahel sakit selama dua hari badannya demam dan jarang keluar kamar."
Mendengar cerita Bi Jum, Bu Rahayu sangat terkejut, "kenapa, Bibi kok enggak memberi kabar pada saya, Bi dan kenapa baru cerita sekarang?"
"Maaf nyonya, beberapa saat lalu Bibi kan sudah mengabari Nyonya, meskipun Non Rahael melarang saya, saya nekat untuk menelfon Nyonya," jelas BiJum.
Bu Rahayu terdiam sesaat seakan mengingat semua yang di ucapkan Bi Jum, kini Bu Rahayu hanya menghela napas nya dengan kasar dan kemudian berdiri, "terima kasih Bi," ucap Bu Rahayu sembari menuju kamar Rahael.
Nampak dari raut wajah Bu Rahayu yang cemas, rasa gelisah dalam hati tak dapat Bu Rahayu sembunyikan di bukanya pintu kamar anaknya secara perlahan. Begitu pintu terbuka lebar di lihatnya Rahael masih duduk di tepi ranjang dan Rahael hanya duduk termenung.
Rasa penasaran Bu Rahayu seketika tersulut
"Eh ... anak Ibu," ujar Bu Rahayu sembari tersenyum dan menyentuh bahu Rahael.
Karena merasa ada yang menyentuh bahunya, Rahael sedikit terkejut. "Bu ... apa Ibu mau memaafkan Rahel?" tanya Rahael tiba-tiba.
"Masih mau menerima Rahel, apa pun yang terjadi? Setelah Rahael cerita! Ibu janji, Ibu enggak akan marah?" tanya Rahael ulang.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Rahael yang bertubi, akhirnya Bu Rahayu tersenyum, "ibu janji," ujar Rahael seperti ingin memastikan. "Ya sayang, ibu janji, ibu tak akan marah," jawab Bu Rahayu seketika.