Rahael

Rahael
Bab 74. Ruko Baru


__ADS_3

Bab 74. Ruko Baru


Setelah pemilik Ruko pergi, Galang masih melihat Rahael tersenyum, "kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Galang.


"Senang saja punya suami gigih dan pinter kayak Mas," jawab Rahael sembari berjalan mendekat.


Saat ini Rahael kembali berjalan memutari Ruko sekali lagi, "sepertinya, masih ada yang harus di perbaiki Mas dan harus di cat ulang," ujar Rahael sembari melihat ini dan itu.


Kemudian Rahael berdiri, di depan pintu, Mas sepertinya, daerah sini cocok untuk menjual oleh-oleh, berupa makanan seperti aneka macam keripik, cemilan-cemilan ringan, minuman khas kota ini atau kue brownis Mas," ujar Rahael sembari melongokkan kepalanya keluar pintu. "Hm.Tempatnya juga pas di depan jalan raya," tutur Rahael.


Galang yang mendengarkan ucapan Rahael hanya manggut- manggut, "boleh juga Rahael. Ide yang cerdik, oke! Kalau begitu kita sepakat, kita mencoba usaha baru di bidang makanan dan minuman."


"Kalau begitu Mas akan cari pemasok atau mencari pemasok dengan sistem konsinasi dulu sebagai awal, nanti kalau sudah jalan dan lancar baru kita pikirkan langkah selanjutnya, terus untuk Brownisnya?" tanya Galang sembari menatap Rahael.


"Coba nanti Rahael akan ajak dua Bibi untuk duet, bagaimana?"


"Aduh! Rahael, bagaimana Twin? jika duo Bibi kamu ajak duet?" tanya Galang khawatir.


Mendengar ucapan suaminya seketika Rahael tersenyum. "Ya, sudah jika duo Bibi enggak boleh, bagaimana jika Bu Jum saja yang Rahael ajak!" goda Rahael.


Mendengar ucapan Rahael, Mas Galang langsung mendekat dan memiting tubuh Rahael marah, "enggak-enggak. Mending kamu cari orang lain untuk membantu," ujar Mas Galang tak terima. Rahael langsung tertawa saat mendengar ucapan suaminya.


Galang yang sedang bercanda dengan Rahael langsung menghentikan aksinya, setelah berapa lama telfon Galang berdering.


"Assalammualaikum, ya. Bi!" jawab Galang.


"Twin rewel Pak, nangis terus," ujar Bi Narmi.


"Ya, sudah Bi, saya lekas pulang," ucap Galang


sembari menutup telfon.


Setelah memasukkan ponselnya, Galang segera mengajak Rahael keluar.

__ADS_1


"Rahael. Ayo, pulang! Twin rewel, orang rumah kewalahan," ucap Galang sembari mengunci pintu Ruko.


Setelah menutup pintu Ruko, Galang dan Rahael segera bergegas pulang, sesampainya di rumah Galang dan Rahael melihat Twin di teras sedang menangis hingga segugutan.


Bibi yang sedari tadi sibuk menenangkan langsung tersenyum melihat kedatangan kami.


"Rayhan, lihat siapa yang datang? Lihat Bapak yang datang," ucap Bi Nina dan Bi Narmi bersamaan.


Sejenak Twin menoleh ke arah kami meski masih menangis segugutan. "Sini Bi, biar Rahan sama saya," ujar Rahael sembari mengambil Rahan dari tangan Bi Nina.


"Ayo. Rayhan sama Bapak," ucap Galang sambil menggendongnya.


"Kok nangis ganteng. Kenapa?" tanya Mas Galang.


"Bapak- bapak," cicit Rayhan pelan. Seketika Galang tertawa, "Rayhan, kangen Bapak?" tanya Mas Galang sembari menggelitik Twin bergantian.


Namun, beberapa saat kemudian Twin kembali menangis, dua Nenek yang mendengar Twin kembslu menangis kini ke luar dan menuju teras.


Di tengah kebingungan mereka tiba-tiba Bi Narmi tergopoh keluar sembari membawa dua dot yang berisi air putih. Awalnya Twin menolak, tetapi Bi Narmi dengan telaten memberikan dot yang di pegangnya hingga Twin tertidur.


"Semoga, semuanya baik-baik saja," guman Bi Narmi lirih.


"Bapak ingat, keadaan seperti ini pernah terjadi kan? Ingat waktu Eyang mereka kecelakaan," ucap Bi Narmi mengingatkan.


Secara tiba tiba Galang teringat akan ibu mertuaku .


"Bu, sebaiknya Ibu undur dulu kepergian ibu,


Galang kok jadi khawatir ," ujar Galang sembari Mas Galang menatap jauh ke depan.


"Bi. Tolong tidurkan Twin di kamar," ucap Galang sembari menyerahkan Twin.


Setelahnya Galang segera mengambil ponsel dan mencari nama tuyul tengil. Namun, beberapa kali panggilan yang Galang lakukan tak kunjung berbalas.

__ADS_1


Sudah hampir isya, "atau mungkin nanti, Galang hubungi lagi," guman Galang lirih.


Perasaan khawatir yang tiba-tiba datang juga tak kunjung hilang hingga Twin terbangun dan menangis lagi.


Kami serumah bergantian menenangkan Twin tetapi tetap saja, Twin berhenti sebentar dan kembali menangis lagi.


Hingga pukul tiga dini hari Twin baru tenang dan tertidur, perasaan lega langsung Galang rasakan.


Galang dan Rahael langsung tertidur di samping Twin hingga pagi menjelang.


Galang kembali terbangun saat mendengar Twin mulai merengek lagi.


"Rahael," panggil Galang saat melihat Rahael masih tidur, "bangun, Twin rewel lagi," ucap Galang.


Mendengar panggilanku Rahael langsung terbangun, "kenapa lagi Mas. Melihat mereka menangis Rahael jadi ingin menangis juga."


"Ayo mandikan Twin dulu, baru kita kasih ke Bibi," ucap Galang.


Setelah Twin mandi, Galang melihat Rahael masuk kamar mandi, Galang bergegas mencari Bi Narmi.


"Bi, tolong suapi Twin, siapa tahu Twin mau makan, kasihan Bi dari kemarin Twin juga enggak mau makan."


Setelah mrninggslkan pesa untuk Bi Narmi, Galang bermaksud pergi tetapi tiba-tiba Rayhan berceloteh. "Bapak-bapak," cicit Rayhan sesaat. Galang kembali mendekat dan mencium pipi Rayhan. "Ya. Nak, ada apa?" tanya Galang sembari menggelitik perut Rayhan.


"Pak. Pak-Pak," ujar Rayhan lagi. " Sini," ajak Galang sembari meraih tubuh Twin.


"Kenapa? Kok rewel terus. Nggak boleh rewel ya? kasihan Ibu, Nenek, Kakek dan Bibi," ujar Galang lirih.


Rayhan yang sedari tadi diam, kini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.


Kali ini bujukan Galang tak memberikan hasil, Rayhan kembali menangis bersamaan dengan Rahan yang sudah memasang wajah merahnya dengan cepat Galang berusaha membujuk, Rahan, Rayhan ayo maem, setelah itu Bapak akan mengajak Rahan dan Reyhan ke Taman, mau kan?" tanya Rayhan.


Ku lihat Rahan mulai memasang wajah memerahnya , " ayo...maem dulu , habis itu ke taman ya , usahaku untuk membujuknya .

__ADS_1


__ADS_2