Rahael

Rahael
BAB 47 . MASIH MAWAN


__ADS_3

Setelah hampir seminggu Bu Widia dan Pak Panji menunggu, tak satupun ada kabar dari Galang, rasa putus asa mulai nampak di wajah Bu widia.


"Pa! Apa sebaiknya kita tidak minta tolong


pada pengacara kita saja," ucap Bu Widia.


"Jangan egois Ma, ingat yang di pertaruhkan bukan hanya nama baik keluarga kita tapi keluarga Galang dan wanita itu juga, di samping itu semua kejadian ini akan sangat berpengaruh pada pekerjaan Papa. Ma!"


"Sebaiknya kita selesaikan secara kekeluargaan saja Ma," ucap Pak Panji.


"Ada baiknya kita memberi waktu pada Galang untuk menjelaskan pada istrinya dan keluarganya yang bersalah di sini anak kita Ma."


"Sekarang kita pulang Ma," ucap Pak Panji sambil merangkul tubuh sang istri. Menghembuskan napas panjang.


Bergegas menata semua barang bawaan.


"Pa. kita belum beli oleh-oleh bagaimana?" tanya Bu Widia.


"Coba tanya Mawan Ma!"


Bu widia langdung melangkah menuju kamar Mawan.


"Wan. Eh ... lagi apa?" tanya Bu Widia.


Mawan langsung menunjukkan video yang di kirim Galang. Melihat apa yangbdi tunjukkan Mawan. Bu Widia langsung berhambur ke arah suaminya.


"Pa ... lihat cucu kita sembari duduk di samping suaminya."


Bu Widia menunjukkan, laptop yang di bawanya. Rasa keingintauhan akan cucunya sedikit terobati, menatap layar tipis di depannya, melihat dua bayi mungil yang menggemaskan tak terasa Pak Panji dan Bu widia menangis. Menangisi semua yang terjadi, melihat dua cucu yang begitu lucu lucu.


Setelah puas, melihat.


"Wan ... apa kau sering mendapat video seperti ini?" tanya Bu Widia.


"Hiya Ma, itu sebelum kita berangkat ke kota ini."


Melihat dengan seksama tak terasa air matanya mengalir begitu saja tiba-tiba ada rasa berat di hati Bu Widia itu yang kini di rasakan, dan berusaha menghibur hati sendiri.


"Oh, ya. Wan Mama tadi kesini pingin nanya sama kamu tempat oleh-oleh yang bagus di mana?" Tanya Bu Widia.


Mendengar orang tuanya menanyakan tempat untuk membeli oleh-oleh seketika wajah Mawan berbinar. 'Mungkin ini kesempatan yang baik," ucap hati Mawan.'


"Ma! Tempat oleh-oleh terbaik di sini sebenarnya di tempat Galang," ucap Mawan semangat.


"Sebentar Mawan telfon Galang dulu," ucap Mawan.

__ADS_1


Mencoba beberapa kali menghubungi akhirnya tersambung juga .


"Assalammualaiku wr wb."


"Mas. Aku Mawan."


"Boleh akunkesana untuk membeli oleh-oleh?" tanya Mawan.


"Maaf, Mawan tolong jangan datang ke ruko lagi," ucap Galang di seberang sana.


"Mas! tolong sekali ini saja pinta Mawan."


"Mama yang mau kesana bukan aku


lagian seminggu lalu mas kan juga udah janji


ucap Mawan."


"Argh ... kau itu, selalu saja membuat masalah, baik-baik jika orang tuamu yang mengijinkan aku masih bisa menerima, cepat mumpung Twin ada di bawah," ucap Galang.


"Baik terima kasih," ucap Mawan.


"Waalaikum salam wr wb," ucap Mawan lagi.


"Ayo. Ma. Pa. Mumpung toko agak sepi


Merasa mendapat lampu hijau, Bu Widia dan Pak Panji segera bergegas.


"Ma.Pa. Tunggu," ucap Mawan.


Tak berapa lama telfon Mawan berdering.


"Ya, Mas Galang."


"Tolong beri tahu pada kedua orang tuamu


agar berpura-pura belanja, karena aku sendiri belum bisa merayu Rahael. Dan ingat janjimu, hanya kedua orang tuamu yang bisa melihat Twin."


"Oke Mas," jawab Mawan.


Tak berapa lama mereka sudah tiba di toko Galang, Mawan yang tak ikut turun lebih memilih tinggal di mobil meski merasa sakit hati.


Memasuki area toko yang cukup luas, memilih semua jenis oleh-oleh, hingga akhirnya di ujung kasir Galang yang sudah tahu kedatangan orang tua Mawan tersenyum .


"Eh ... ucunya, kembar Mas"? tanya Bu Widia berpura-pura tidak tahu."

__ADS_1


Galang hanya tersenyum dan mengangguk.


"Boleh kami menggendongnya?" tanyanya sekali lagi, Galang masih mengangguk juga.


Terdengar celoteh Twin, membuat Bu Widia semakin terharu. "Mas tolong vidio in ya!"


Galang segera mengambil kamera Bu Widia.


Galang yang sadar akan tatapan Rini yang menaruh curiga padanya, segera mengalihkan perhatian.


"Ini semua Bu?" ucap Galang.


Bu Widia masih tersenyum sembari menggendong cucunya.


"Rin ... ayo bantu ngitung barangnya pinta Galang."


Tak berapa lama dari tangga terdengar langkah kaki sambil memanggil perlahan.


"Mas ... "


Bu Widia dan Galang langsung menoleh dan tersenyum.


"Eh. Tumben Twin ibu mau di gendong sama orang yang tak di kenal," ucap Rahael sembari meraih nya dari gendongan Bu Widia.


"Maaf. Bu," ucap Rahael saat itu.


"Mas ... tolong bawa Rahan keatas sembari berjalan naik ke atas.


"Mbak ... panggil Bu Widia.Baby Twinnya lucu, siapa namanya?"


Sembari tersenyum Rahael menjawab.


"Rayhan dan Rahan Bu."


"Mas ... kembali, Rahael memanggil.


"Rin ... tolong kau hitung lagi dan minta bantuan No dan yang lainnya untuk ngangkut," ucap Galang.


"Baik Pak," jawab Rin seketika.


Ada sedikit perasaan lega di hati Bu Widia.


Menatap dua cucu kembarnya yang di ajak naik keatas, pandangan dua cucu yang terus melihat Bu Widia dengan lekat.


Bu Widia hanya menghembuskan napasnya

__ADS_1


merelakan dua cucu kembarnya, mengalah saat ini, mungkin itu yang terbaik. Nasi sudah jadi bubur mungkin itu kata-kata yang tepat untuk saat ini.


__ADS_2