
Bab 119. Alun-alun Malam Hari
Duduk menempati tempatnya masing-masing terlihat Rahan sedikit pucat, tak berapa lama Eyang Panji sudah memulai mengutarakan niatnya datang kesini bersama rombongan yang banyak.
Sesaat Eyang Panji menjeda ucapannya,
Ais keluar dengan puasan bedak tipis namun cantik, melihat kemunculan Ais Rahan menatap tiada putus hingga Ais duduk di sisinya.
Dengan isengnya Rahan membisikkan sesuatu, "andaikan sudah lulus, hari ini juga Kak Rahan halalin kamu Ais," ucap Rahan berbisik lirih.
Ais terlihat menundukkan wajahnya dengan
merona, kegiatan Rahan menggosa Ais di buyarkan dengan deheman Eyang, "ternyata cucu saya sudah enggak sabar, tetapi tenang, tahan dulu, kalian harus menunggu enam bulan ke depan seloroh Eyang yang membuat wajah Rahan ganti merona.
Dengan deheman sekali lagi Eyang menyatakan maksudnya dan tujuannya datang ke rumah ini, "tujuan kami datang kemari untuk meminang Nak Ais, pak Nono," ucap Eyang Panji.
Dengan tersenyum Pak Nono menjawab, "semuanya, saya serahkan kepada anak kami, Bagaimana Ais? Apa kamu siap di lamar Nak Rahan," ujar Pak Nono.
Ais menatap sesaat dan kemudian mengangguk, "ya, saya terima Pak. Lamaran ini," jawab Ais.
Seketika semua orang bertepuk tangan dan Rayhan kini bersiul, Ibu dan Bapak seketika menoleh dengan amarah. Setelah suasana mereda Eyang melanjutkan lagi pembicaraan ini. Menyerahkan semua hantaran yang kami bawa.
Menyambung pembicaraan yang terputus sesaat, "agar lamaran ini kuat dan makin erat maka kami akan melakukan tukar cincin sekalian," ucap Eyang.
Memanggil ibu untuk menyematkan cincin di jari manis Ais dan memanggil Tante Rini untuk menyematkan di jari manis Rahan.
Dan membahas menuju hari h yang akhirnya sesuai dengan kesepakatan pernikahan pun akan di lakukan bareng dengan Rayhan dan di laksanakan di kota M," ucap Eyang.
Serasa semua seperti mimpi, melanjutkan acara selanjutnya mengenalkan sanak saudara dan tetangga kanan kiri, setelah acara selesai tuan rumah mempersilahkan untuk menikmati hidangan yang tersedia.
Serasa makan di restoran gudek komplit , opor ayam dan sambel kreceknya tempe bacem, tahu bacem, telur pindang,areh
dan jajanan serta menu lainnnya.
Hari sudah mendekati dhuhur saat kami menyelesaikan semua acaranya, mencari masjid terdekat untuk melaksanakan shalat dhuhur berjamaah, sebenarnya kami masih ingin berlama-lama di rumah Nono berhubung acaranya sudah selesai akhirnya kami putuskan untuk pulang.
__ADS_1
Saat ini kami kembali ke Ruko bersama-sama untuk yang kedua kalinya, Eyang Panji mengunjungi Ruko ini begitu juga dengan
Pak Sentot.
Semua karyawan di ijinkan pulang setelah acara pinangan ini, memasuki Ruko dengan suasana yang ramai, gelak tawa terlihat dari wajah mereka Rahan dan Rayhan merupakan artis untuk dua hari ini yang sukses membuat ibu mereka kerja ekstra cepat dan alhasil banyak omelan yang di dengar ke empat anaknya.
Eyang Jum dan Eyang Rahayu memasuki kamar lebih dulu setelah menemui dan ngobrol dengan Bu widia dan Bu Maya.
Di mana Twin Al dan Twin Ra sudah bergerombol di tambah dengan Naya juga,
sedang para laki-laki sudah membentuk kelompok sendiri, dua Bibi adalah orang yang paling sibuk di rumah menyiapkan ini dan itu.
Setelah Eyang Panji dan yang lainnya sudah kembali ke hotel.
"Bi, selesai itu istirahat saja, nanti kalau perlu sesuatu saya panggil," ucap Rahael.
Setelah, mengatakan itu, Rahael yang terlihat begitu kelelahan langsung memasuki kamar dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang begitu saja.
Sudah hampir magrib tapi ibu belum terbangun, "Pak ibu kok belum bangun, hampir magrib," ucap Rahan.
Bapak segera ke kamar melihat ibu dan beberapa saat kemudian Bapak sudah keluar kamar dengan tersenyum. "Ibu mandi Rahan."
"Bagaimana mau ikut jalan-jalan atau buka Toko," ucap Bapak.
"Ikutlah, Pak. mumpung Ais juga libur," ucap Rahan, "dua hari lagi Ais dan Twin baru masuk," ucap Rahan.
Bapak tersenyum sembari melihat, "Rahan , jaga baik-baik Ais," ujar Galang sambil beranjak berdiri, "shalat magrib dulu habis itu kita mengajak Eyang ke alun-alun, yuk! Cuacanya bagus kan kalo malam begini," ucap Bapak.
Tak lama Ibu sudah keluar dengan memakai mukenanya, "Pak, ayo," ajak Ibu dan menggelar sajadah.
Melihat istrinya sudah siap Galang langsung
merapat menggelar sajadah begitu juga dengan Eyang Jum dan Eyang Rahayu.
Setelah salat magrib Bapak mengajak kami untuk bersiap, "Rahan!" ajak juga dua Bibi juga," tutur Eyang.
__ADS_1
Rahan langsung menghubungi, Rayhan di hotel dan berjanji bertemu di Alun-alun.
Suasana begitu ramai banyak muda mudi nongkrong, para Eyang berjalan santai menikmati udara yang sedikit lembab. Akhirnya, kami sepakat berpencar. Eyang Widia sudah memilih tempatnya sendiri begitu juga dengan Rayhan sudah dengan Naya, Twin Al dengan Eyang Rahayu.
Rahan dengan senangnya menggandeng eyang Jum dan di depan Bapak dan Ibu.
"Ayo, Eyang pacaran dengan Rahan saja mumpung Ais enggak ada," kelakar Rahan dan di sambut tawa oleh Eyang Jum, "nakal, kamu berani menggoda Eyang."
Dua bibi yang di belakang ikut tersenyum, "Bibi enggak marahkan, Rahan pacaran sama Eyang Jum, kini Eyang tak menjawab tetapi Eyang lebih memilih mengelus kepala Rahan.
Galang dan Rahael hanya tersenyum melihat ulah Rahan. "Rahael makan yuk!" ajak Galang.
Sejenak Galang menoleh sepeeti mencaru tempat yang nyaman, "Kita makan di sana, bagaimana?" tanya Galang.
"Sudah, terserah Mas Galang," ucap Rahael.
Galang memilih angkringan yang merupakan makanan yang mudah di cari.
"Ayo Rahael, Rahan, Eyang Jum, Bibi, ayo!" ucap Galang memanggil semua yang terlihat.
Memilih makanan sesuai keinginan masing dan untuk menghangatkan tubuh kami memilih wedang ronde, sembari makan Eyang Jum tersenyum, "makanannya enak-enak Rahael, apalagi sate kulitnya juara enaknya," ucap Eyang Jum.
Rahael tersenyum dan mengangguk, "Eyang mau di bungkus buat di rumah sate kulitnya?"
"Enggak Rahael cukup ini saja," ucap Eyang Jum, setelahnya menikmati dengan diam dan menyeruput wedang rondenya, "lama ya, Ibu enggak kesini," ucapnya Ibu lagi.
" Maaf Bu, kalau Rahael dan Mas Galang enggak pernah mengajak Ibu kalau kesini," tutur Rahael lirih.
"Bukan begitu Rahael, Ibu cuma ingat Eyang Kung saja, kalau kesini mesti minum wedang ini," ujar Eyang Jum lirih.
Seketika Mas Galang merangkul Eyang, "maaf Bu," ujar Mas Galang pelan.
"Ibumu ini enggak apa-apa, memang Ibu sudah enggak mau kemana-mana sudah tua Lang, lebih baik Ibu di rumah ibadah."
Selesai makan kami ingin mengajak ibu jalan jalan lagi namun di tolak, "sudah Lang ibu sudah capek semakin lama udaranya dingin," ujar Ibu sembari merapatkan jaketnya, "Rahael masih mau kemana?" tanya Galang.
__ADS_1
"Pulang Mas, kasihan ibu," ucap Rahael.
"Rahan hubungi Eyang Rahayu dan tolong beritahu yang lainnya kita pulang dulu," ucap Galang.