
BAB 23. CERITA PAGI HARI
Setelah menunggu beberapa menit di lihat nya Rahael turun, "sudah siap?" tanya Galang.
"Mas. kita cuma jalan -jalan saja kan?
nanti kalau di sana Rahael pingin apa-apa,
nanti kita bayarannya patungan ya Mas," ujar Rahael pelan.
Mendengar ucapan Rahael Galang tersenyum lebar, "Mas eggak sebokek itu Rahael," jawab Galang gemas.
"Jangan khawatir asal Rahael enggak minta permata saja," jawab Galang sembari mengusap kepala Rahael.
"Ayo, jadi berangkat enggak!"
Rahael hanya mengangguk dan mekihat ke arah dapur.
"Bu, kami berangkat jalan-jalan dulu," pamit Galang sembari meraih tangan ibunya.
"Mau kemana Lang?" tanya Ibunya ulang.
"Ini Bu, mau mengajak Rahael ke taman sebentar biar enggak di kamar terus," jaeab Galang pelan.
Setelah berpamitan, "Pak Galang bawa mobilnya," pamit Galang sambil meraih kunci mobil di buffet.
Selama petjalanan di dalam mobil senyum Rahael terus mengembang.
"Kenapa?" tanya Galang sembari melirik, "Hm ... Senang saja, sudah hampir tiga bulan ini Rahael enggak pernah keluar, paling sama Ibu dan Bapak itu pun kalau kontrol saja," cicit Rahael pelan.
"Kenapa enggak minta Bapak mengantar kalau mau kemana-mana Rahael, jangan mengurung diri enggak baik juga buat kamu dan dedeknya," tutur Galang sembari melirik ke arah Rahael.
"Takut Mas," jawab Rahael.
"Takut kalau ketemu teman, melihat Rahael yang kayak begini, Rahael malu Mas," jawab Rahael mengejutkan.
"Sekarang Rahael enggak takut kan?" tanya Galang memastikan.
Rahael hanya menggeleng, "Galang sengaja menepi sejenak, kenapa?" tanya Galang menelisik.
Galang merengkuh bahu Rahael, entah kenapa hati Galang serasa luluh saat melihat Rahael diam dan menatap jauh kedepan.
"Kita balik ya?" tanya Galang lirih.
Seketika wajah Rahael berubah, "enggak Mas. Jangan salah paham, Rahael seneng di ajak jalan-jalan, Rahael enggak takut lagi jika keluar bila itu dengan Mas Galang, serasa ada yang melindungi Rahael, Rahael menjadi tenang," jawab Rahael sembari menatap Galang dalam.
"Maaf ... tiba-tiba itu yang Galang dengar, "maaf kan Rahael Mas, adanya kejadian ini jadi semua ikut repot dan terima kasih Mas, Rahael belum mengucapkan ini pada Mas."
"Terima kasih sudah mau menolong Rahael dan menerima Rahael tanpa syarat, mau menutupi aib Rahael dan menjaga nama baik keluarga Rahael," ucap Rahael sembari mata mulai berkaca-kaca.
"Mas. Boleh Rahael ngomong jujur," ujar Rahael sembari menatap lagi.
Galang hanya mengangguk tanda menyetujui.
__ADS_1
"Sebenarnya saat itu, Rahael takut saat ibu mau menikahkan Rahael, apalagi ibu bilang Rahael tidak boleh menolak, jujur hati Rahael merasa sakit.
"Tetapi begitu ibu mau menikahkan Rahael dengan Mas, hati Rahael sedikit tenang, setidaknya Rahael sudah mengenal Mas, itu yang membuat Rahael diam dan tak menolak,
setidaknya saat ini Rahael tahu tujuan Rahael Mas.
"Walau pada awalnya Rahael tidak menginginkan bayi ini , karena Rahael merasa bayi ini merusak semua impian Rahael, Ujar Rahael sembari air matanya turun di pipi.
"Karena kesabaran kedua ibu Rahael membuat Rahael sadar, apalagi saat ini Mas Galang menerima Rahael meskipun Rahael tahu Mas Galang terpaksa.
"Mas. Sekali lagi Rahael minta maaf mungkin selama ini Mas merasa kasian ke Rahael, jujur Mas itu sudah cukup untuk Rahael. Terima kasih atas kesabaran dan perhatian
Mas selama ini. Maaf, Mas dan terima kasih sudah mau menolong Rahael," ujarnRahael dan hanya itu yang Galang dengar setelahnya hanya diam.
Mendengar pengakuan Rahael membuat hati Galang sedikit tergugu dalam diam.
Menatap wajah Rahael sesaat sembari mengusap pucuk kepalannya, "sudah ceritanya?" tanya Galang pelan.
Rahael hanya mengangguk. "Ayo di lanjutkan atau pulang?" tanya Galang lagi.
"Ayo, Mas lanjut," jawab Rahael sembari tersenyum dan mengikis air matanya.
Hari ini Galang tak jadi mebawa Rahael ke taman, Galang membelokkan mobil menuju sebuah mall yang cukup besar di kota M.
Kita berdua memang hanya sekedar berjalan jalan melepas penat hati dan pikiran,
Rahael masih saja menggandeng tangan Galang serasa mencari perlindungan .
"Mas, kita kayak lagi pacaran saja tiba- tiba," ujar Rahael membuat Galang terkejut.
"Rahael yakin enggak pingin apa-apa?" tanya Galang, karena sedari tadi Galang melirik Rahael yang selalu mengelus perutnya yang agak berisi.
Secara tiba-tiba Rahael menarik tangan Galang. "Ayo, pulang Mas," pinta.Rahael takut.
"Kita beli sesuatu yang kamu pingin dulu Rahael, melihat wajah Rahael yang berkeringat dan badanya seketika bergetar, Galang meraih bahu Rahael mencoba untuk menenangkan. "Pulang, Mas!" ujar Rahael dengan suara tercekat dan kini air mata Rahael yang mulai turun.
Galang hanya menuruti saja apa yang di inginkan Rahael saat ini. Galang terus menggenggam tangan Rahael sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling area Mall.
Setelah sampai di mobil Galang mengulurkan air mineral agar Rahael segera meminumnya.
setelah tenang, "ada apa Rahael?" tanya Galang sembari menatap wajahnya.
"Ayo, Mas. Pulang!" ajak Rahael sembari menangis. Galang bergegas melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Bagaimana sudah bisa cerita sekarang?" tanya Galang saat melihat wajah Rahael kembali tenang.
Sebenarnya tadi Rahael pingin masuk ke gerai ayam krispi Mas, tetapi sebelum Rahael bicara di sudut gerai itu Rahael melihatnya Mas," cerita Rahael takut.
"Siapa Rahael?" tanya Galang, "laki -laki yang sudah ngasih Rahael minuman waktu itu Mas," jawab Rahael.
Tiba-tiba Galang menghentikan mobilnya,
"Mas," Rahael memanggil dengan takut.
__ADS_1
Galang hanya diam beberapa saat sembari menggeleng lalu tersenyum.
"Rahael, yakin enggak pingin makan sesuatu mumpung kita di luar?" tanya Galang.
"Enggak Mas, pulang. Ayo," pinta Rahael.
"Sudah capek Mas, nanti jika pingin Rahael bisa order online saja Mas," jawab Rahael sembari menunduk.
Galang hanya diam, mendengar ucapan Rahael. "Rahael, besok Mas harus kembali, hati-hati di rumah, ada apa-apa cerita sama ibu dan bapak, juga bila pingin sesuatu ngomong sama bapak dan ibu," tutur Galang sembari menatap sekilas ke arah Rahael.
"Jangan duduk di teras rumah sendirian ingat Rahael, satu dan wajib yang harus Rahael lakukan. Apapun itu Rahael harus memberi kabar pada Mas," ucap Galang tiba-tiba posesif.
Rahael yang mendapat amanat begitu banyak hanya manggut-manggut tanda mengerti.
Dua hari setelah keberangkatan Galang Rahael terus merasa was-was, kini perut Rahael sering terasa kram bila mengingat pertemuannya dengan Mawan.
Ingatanya terkenang kembali pada peristiwa tiga bulan lalu, bergegas Rahael ke kamar dan mencari secarik kertas yang di simpan.
Setelah menemukan kertas itu Rahael membaca berulang- ulang.
( Maaf ,bila aku telah melukaimu dan menyakitimu ,tapi ini cara satu-satunya agar aku bisa menjadikan milikku seutuhnya
selamannya kau akan jadi milikku .
Berjanjilah padaku kau akan menungguku dan aku akan terus mencarimu bila kau berusaha menghindar atau menghilang .
aku akan bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan )
Tangis Rahael pun luruh, "ba*** at, kau Mawan," umpat Rahael marah.
Yang di pikirkan saat ini bukan lah Mawan.
Tapi laki-laki dan kedua orang tuannya yang rela berkorban demi dirinya, melindunginya dan menyayanginnya tanpa pamrih.
Tiba- tiba perutnya kembali kram dan
mulas. "Bu ... "teriak Rahael kencang, saat mengetauhi ada darah di baju yang Rahael kenakan. Bu Jum yang mendengar teriakan menantunya bergegas berlari ke kamar, "Rahael ... "teriak Bu Jum begitu membuka pintu kamar.
Pak Udin yang berada di teras depan terkejut ketika tiba-tiba istrinya berteriak memanggilnya, "pak ... cepat bawa Raha e l ke Dokter Sumi. Cepat pak!" pinta Bu Jum.
Dengan cekatan Pak Udin mengangkat tubuh Rahael dan melajukan mobilnya, sepuluh menit hingga sampai di Dokter Sumi.
Dokter Sumi terkejut saat melihat Pak Udin membopong Rahael dengan tergesa masuk ruang periksa dan mendapati Rahael pendarahan, saat kontrol kemarin pun semuannya baik tak ada keluhan dan memang janin nya juga sehat.
Setelah menangani Rahael dengan cekatan Dokter Sumi memanggil Bu Jum.
"Bu. Tolong jaga kondisi Rahael, saat ini Rahael dalam kondisi tidak baik, ada yang menjadi beban pikirannya, mungkin Rahael juga sedang merasa ketakutan saat ini Bu."
jelas Dokter Sumi, untung semuannya masih dalam kondisi aman, jadi masih bisa di selamatkan.
Mendengar penjelasan dari Dokter Sumi, Bu Jum menghembuskan napasnya yang terasa berat.
"Biarkan Rahael di rawat di sini selama tiga hari Bu," ucap Dokter Sumi .
__ADS_1
"Baik Dok," jawab Bu Jum.