Rahael

Rahael
Bab 89. Rencana


__ADS_3

Setelah berbicara dua laki-laki beda generasi masuk kekamar masing-masing, Galang menghembuskan napas panjangnya melihat istrinya belum tidur, duduk di sampingnya.


"Rahael, ternyata anak kita sudah pada besar-besar," ujar Galang sambil memandang lurus tanpa tujuan.


"Memangnya?" tanya Rahael bingung.


"Rahan sudah mulai naksir cewek," Galang menjeda ucapannya lalu memandang Rahael sejenak.


"Sini!" pinta Galang sembari meraih tubuh Rahael untuk mendekat.


"Mas hanya takut jika Rahan akan meniru ayahnya."


"Terus. Mas seperti dejavu Rahael mendengar cerita Rahan, cinta yang bertepuk sebelah tangan." Galang langsung mengambil napas berat, "ternyata kita harus lebih dekat dengan anak-anak Rahael, maukan berjuang untuk mereka."


Sementara di kamar sebelah Rahan tak bisa memejamkan matanya dia terus saja teringat cerita bapaknya, "ah! Akhirnya itu yang terucap, "mungkin ada benarnya tetapi, setidaknya, ash!! hanya ini yang keluar dari bibir Rahan, hingga Rayhan menegur Rahan.


"Tidur. Mas, sudah malam, kalau enggak ketemu jalan keluar, nanti malam shalat tahajud," ucap Rayhan sembari beralih posisi untuk duduk.


"Lagipula, Mas. Cinta itu tak harus memiliki, cukup melihat orang yang kita sukai bahagia sudah cukup, apalagi kalau yang cinta itu hanya Mas sendiri. Memang apa yang Bapak bicarakan," ujar Rayhan kini sudah menelentangkan tubuhnya di kasur.


"Bapak marah?" tanya Rayhan penasaran.

__ADS_1


"Enggak, cuma Bapak bilang jika cinta itu hanya sepihak, Bapak enggak setuju," tutur Rahan dan akhirnya mereka bercerita hingga pukul sebelas malam dengan sesekali menguap Rayhan mendengarkan.


Entah sampai mana ceritanya hingga Rahan melihatnya, "dasar kampret sudah tidur, jadi sedari tadi Rahan ngomong sendiri," guman Rahan.


Namun, Rahan belum juga bisa tidur kini Rahan hanya bisa menatap nyalang dan


menerawang jauh, menyukai Cintia teman sekelasnya sejak awal masuk sekolah, gadis yang selalu cuek dan acuh tak acuh membuat Rahan penasaran dua kali, Rahan menyatakan perasaanya, tetapi benar kata Bapak mungkin sedikit sakit lebih baik dari pada kecewa berkepanjangan. Akhirnya, Rahan tertidur dengan sendirinya, berharap esok bertemu bidadari yang lebih cantik dan mulai besok akan belajar melupakan perasaan, Rahan tersenyum dalam hati cinta pertama yang kandas," guman Rahan dalam hati.


Pagi hari yang ceria, Aal sudah seperti hari hari biasanya Bapak dan Ibu melihat dengan tersenyum.


Melihat semua menatap hati Rahan sedikit jumawa merasa menjadi pusat perhatian.


Rahan melihat keluarga lengkap sudah berkumpul, pagi ini hari minggu biasanya Bapak akan siangan sedikit berangkat ke Toko. Di tengah asyiknya makan tiba-tiba Bapak berbicara selayaknya memberi pengumuman.


Serentak mereka semangat, "mau," jawab mereka serentak, mendengar suara mereka para Eyang tersenyum, "memang kau tak pernah mengajak mereka Lang!" ujar Eyang Rahayu.


"Ya. Karena waktu itu mereka masih kecil kecil Bu, meskipun Galang mengajak, pas mereka gede pasti lupa, mending sudah gede gini jadi punya memori indah nantinya," ujar Galang


"Kami jadi enggak sabar Pak, bagaimana kalau minggu depan," pinta mereka serentak.


"Oke. Bagaimana para Eyang juga mau ikut," ajak Bapak.

__ADS_1


"Sudah Bapak dan Ibumu di rumah saja mudah, capek," jawab Eyang.


"Bagaimana dengan Eyang Rahayu."


"Enggak bisa Lang, mahasiswa Ibu ujian


kasihan kalo ibu tinggal."


Tiba-tiba, Galang melihat Rahael tersenyum malu.


"Eh. Kenapa kamu yang senyum-senyum malu Rahael," ucap Eyang kakung.


"Enggak apa-apa kung, jadi inget waktu hamil Rahan dan Rayhan."


Seketika para Eyang tertawa dan yang lainnya melihat dengan bingung.


"Sudah-sudah, jangan di bahas malu sama anak-anak," ucap Rahael.


Sesaat melihat Ibu dan Bapak saling berpandangan dengan mata berbinar.


Sesaat Rahan sadar bahwa cinta akan seperti ini jika bersambut.

__ADS_1


Rahan pun mulai membulatkan tekad untuk melupakan cinta pertamanya dan memang Rahan harus berusaha untuk itu.


__ADS_2