Rahael

Rahael
Bab 34. Mawan 2


__ADS_3

BAB 34. MAWAN 2


Mawan kembali kehabisan akal rasa putus asanya kini sudah di ubun ubun keinginan untuk memilik Rahael kembali tersulut dan merasa yakin Jika anak yang di kandung Rahael itu adalah anaknya.


Sudah hampir dua minggu Mawan meninggalkan pulau Bali dan memang waktu dua minggu di berikan mamanya untuk wisata ke kota S.


Pagi ini Mawan sudah bertekad akan menemui Rahael tanpa masker dan tanpa kacamata. Masih pukul delapan Mawan sudah ada di toko Rahael dengan langkah yakin dia memasuki toko yang menjadi langganannya. Berjalan berkeliling sembari melihat keatas menunggu kedatangan Rahael turun.


Hari ini toko agak sepi, mungkin kalau agak siang bakalan rame. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya yang ditunggu muncul juga berjalan perlahan menuruni tangga, berhenti sesaat, sembari mengusap perutnya .


Mawan melihat hari ini semua karyawan sibuk dengan pekerjaanya sendiri-sendiri.


Rahael sedang menuju kasir, Mawan melihat laki-laki yang bersamanya belum turun atau mungkin, mungkin pergi itu pemikiran Mawan saat ini. Lama bergelut dengan pikiran akhirnya Mawan bertekad untuk mendekati Rahael.


Rahael yang tak sadar akan kedatangan Mawan, masih saja melskukan pekerjaanya menghitung uang di kasir sembari mencatat sesuatu. Hingga Mawan terkejut saat karyawan yang bertugas di kasir menyapa dan datang menghampiri.


"Pagi Bu," sapa wanita ini. Baru Rahael mengangkat wajahnya, seketika Rahael terkejut saat melihat Mawan tersenyum.


"Rahael," sapa Mawan saat itu.


Rahael tak menjawab, tetapi tubuhnya tergetar dan wajahnya kini memucat dengan keringat yang tiba-tiba muncul.


"Rin ... " teriak Rahael. "Panggil Mas Galang."


"Rin tolong .... "


Mendengar teriakan Rahael semua karyawan mendekat dan melihat Mawan saat memegang tangan Rahael.


"Rahael, ini aku! Mawan Rahael."


Sesaat Mawan melihat Rahael memegang perutnya sembari menangis.

__ADS_1


"Mas Galang ... "teriak Rahael lebih keras.


Mendengar teriakan istrinya Galang yang berada di gudang langsung bergegas lari ke arah kasir.


Melihat Mawan duduk dan memegang tangan Rahael seketika Galang mencengkeram Mawan dan menghajar Mawan habis-habisan. Entah, wajah Mawan seperti apa saat ini dan tubuh Mawan juga jadi sansaknya. Pukulan itu terhenti saat karyawanya berteriak.


"Pak! Ibu-ibu pendarahan."


Seketika Galang melepas tangannya dari tubuh Mawan, segera menghampiri Rahael dan mengangkatnya.


"No! Tolong bawa mobil dan antar ke rumah sakit," titah Galang sebelum menutup pintu mobil.


"Rini! Tutup pintunya dan toko juga tutup!!" perintah Galang.


"Ayo, No cepat!!" teriak Galang.


Mawan yang terduduk dengan luka lebam di seluruh wajahnya, masih terkejut dengan semua yang terjadi dan masih melihat kegusaran Mawan. Hingga suara penjaga toko menyadarkan Mawan.


"Maaf, Pak! Toko akan kami tutup, sebaiknya Bapak atau Masnya ke Dokter untuk mengobati luka Mas," ucap penjaga toko.


Beberapa menit kemudian begitu sampai


di rumah sakit .


"No, cepat daftar di bagian UGD, supaya Ibu cepat di tangani," ucap Galang sembari membopong tubuh istrinya.


Tak berapa lama setibanya di UGD para perawat segera melakukan penanganan dan tindakan lebih lanjut .


"Pak tolong isi formulir dan administrasinya,"


ucap perawat.

__ADS_1


Setelah membayar administrasi dan mengisi formulir, Galang kembali ke ruang UGD menunggu kabar dari Dokter.


Hampir satu jam menunggu, Galang menjadi gusar dan semuanya terasa lama.


Begitu panggilan atas nama Rahael di sebut Galang bergegas menuju ke dalam ruangan.


"Dengan suaminya nyonya Rahael," ucap sang Dokter saat Galang tiba.


"Ya, saya Dok!" jawab Galang.


"Duduk Pak! Apa isteri anda pernah mengalami ini sebelumnya?" tanya Dokter. Galang hanya mengangguk menghiyakan pertanyaan Dokter.


"Beruntung Pak, masih bisa di selamatkan."


"Tapi. Maaf, kondisi Ibunya agak melemah dan memang harus istirahat total karena ini juga mendekati lahiran."


"Jadi !!" Biarkan nyonya Rahael rawat inap sampai siap melahirkan.


"Ya, saran saya, sebaiknya operasi sesar saja, melihat kondisi istri Bapak yang masih belia dan kehamilan anak kembar.


Mendengar semua ucapan Dokter, Galang hanya mengiyakan. 'Ini semua demi bumil kecilku dan dua anak-anak,' batin Galang.


Di tunggu hingga dua jam Pak, hingga penanganan selesai baru bisa di pindah ke ruang paviliun," jawab sang Dokter, membuyarkan lamunan Galang.


Hampir dua jam menunggu. Hingga akhirnya Rahael di dorong keluar untuk pindah ruangan .


Galang mengikuti dari belakang, menatap bumil kecilku, terpasang selang infus di tubuhnya tak terasa air mata Galang menetes. 'Begitu besar perjuangan kita Rahael, ucap batin Galang.'


Saat ini melihat Rahael seperti ini membuat Galang semakin takut. Sesampainya di ruangan, Galang merebahkan dirinya di atas sofa, lelah hati dan pikiran yang saat ini Galang rasakan.


Melihat Rahael mulai mengerjapkan mata dan memindai sekitarnya, sesaat menatap ke arah Galang.

__ADS_1


"Mas! panggil Rahael.


Meraih tangannya. "Sudah istirahat! Jangan berpikiran macam-macam Rahael," pinta Galang.


__ADS_2