Rahael

Rahael
Bab 95. Rumit


__ADS_3

Bab 95. Rumit


Setelah mobil menepi Galang hanya bisa meremas rambutnya dengan kesal dan menyandarkan kepalanya di stir mobil.


"Maaf!" ujar Galang sesaat setelah Galang menepikan mobilnya.


"Galang tak habis pikir Nisa, kau begitu tega mengucapkan itu di depan isteri dan anak-anakku," ujar Galang kecewa.


"Aku dan istriku berusaha menyimpan rapat-


rapat Nisa, aku menerimamu sebagai teman bukan berarti kau berhak mengatakan itu Nisa!"


"Bodoh-bodoh! itu yang selalu di ucapkan Galang. Galang terus dengan mengatakan hal seperti itu, apa maumu! Kau ingin menghancurkan rumah tanggaku?"


Nisa hanya tersenyum sembari menatap Galang culas, "andai Nisa bilang ya! Bagaimana?"


Seketika Galang menatap Nisa, "kau tahu Nisa, perasaan yang Galang rasakan sekarang bukan cinta Nisa! Kau tahu, mungkin teman itu yang lebih tepat saat ini. Aku sudah mencintai istriku, Nisa dengan berjalannya waktu dan kau harus tahu itu.


"Tapi Lang, aku enggak ikhlas dan sampai sekarang aku juga belum menikah juga karenamu Lang," ujar Nisa.


"Kau sudah gila Nisa, ini semua tak benar," seru Galang marah.


Menyadari keadaan ini akan semakin rumit Galang kembali melajukan mobilnya, rasa penasaran karena ingin mengetauhi keadaan anak dan istrinya.


Begitu sampai di garasi terlihat Bapak dan Ibu sudah duduk di teras. Melihat aku keluar dengan seseorang yang tak di kenal, Bapak langsung berdiri. Entalah, melihat Nspak menatap nanar, membuat Galang begitu takut untuk memandang Bapak hingga, "mana anak dan istrimu?" tanya Bapak saat Galang memasuki ruang tamu.


"Apa. Mereka belum sampai Pak?" tanya Galang bingung.

__ADS_1


"Apa. Maksudmu Galang, hah!"


Bapak langsung menoleh ke arah Nisa, "lantas siapa dia?" tanya Bapak sembari menunjuk dengan amarah.


Belum juga Galang menjawab, kini Nisa sudah berbicara lebih dulu, "kenalkan saya Nisa, mantanya Mas Galang," ujar Nisa.


Mendengar ucapan Nisa, seketika Bapak melotot marah, Galang yang melihat amarah dari tatapan Bapaknya, "Bukab-bukan, begitu Pak ceritanya," tutur Galang gugup.


Melihat Galang menjawab degan gugup, Nisa tersenyum puas. "Nisa! Tutup mulutmu!" seru Galang geram.


"Tapi aku mau, menjadi istri kedua kamu Galang," jawab Nisa sembari tatapannya memindai seluruh ruang tamu dan kemudian tersenyum culas.


Mendengar ucapan Nisa, seketika Bapak langsung menampar Galang, "Bagus! Kau sudah lupa asal usulmu, hah!"


"Pak bukan seperti itu ceritanya," tutur Galang sembari mengusap pipinya yang panas bekas tamparan Bapak.


"Pak! Sengaja, Galang mengajak Nisa kesini untuk menjelaskan ke Rahael dan anak-anak Pak, kejadian ini tak seperti yang mereka lihat dan pikirkan Pak!"


Mendengar perdebatanku dengan Bapak sembari tersenyum, Nisa dengan santainya berdiri dan, "Mas, mewah juga rumah Mas," seru Nisa sembari berdiri dan melihat-lihat.


Bapak yang sejak tadi sudah geram melihat Nisa, "bawa pergi wanita ini Galang. Cepat!" teriak Bapak marah.


Mendengar teriakan Bapak seketika Galang menarik Nisa keluar, "ayo!" ajak Galang keluar dari rumah dan membuka pintu mobil, Galang melajukan mobilnya begitu cepat, kini hanya satu tujuan Galang mencarikan Nisa tempat untuk menginap.


Setelah semuanya beres, "tinggal di sini sampai aku menemukan anak dan istriku, jika kau tak terima Nisa, kau bisa pulang sekarang!"


Mendengar ucapan Galang, seketika Nisa meradang, "kau yang mengajak Nisa kesini Mas," ujar Nisa tak terima

__ADS_1


"Ya. Memang itu satu kesalahan yang aku buat dan sekarang kau bisa pergi Nisa," ucap Galang semaunya.


Setelah mengatakan itu, Galang langsung keluar dan kembali mencoba menghubungi Rahael dan anak-anaknya. Galang hanya bisa membuang napasnya dengan kasar, saat mengetauhi tak satupun jawaban yang Galang terima.


Di dalam mobil Galang hanya tersenyum kecut saat melihat amarah Bapak, amarah yang tak pernah Galang dengar selama pernikahannya dengan Rahael.


Galang kembali melajukan mobil menuju rumah, suasana terlihat sepi setelah amarah Bapak meluap. Memasuki rumah Galang melihat rumah belakang tertutup rapat dan Ibu Rahayu dan Bibi, seketika Galang mencari Bi Narmi.


Mengetuk pintu kamar Bi Narmi, hingga tak berapa lama Galang mendengar pintu di buka.


"Loh. Bapak!" ujar Bi Narmi terkejut.


"Kemana para Eyang, Bi?" tanya Galang bingung.


Bi Narmi terdiam sejenak, "tadi sehabis Bapak pergi, para Eyang juga pergi," tutur Bi Narmi pelan. "Kemana Bi?" tanya Galang bingung.


"Lah. Bibi juga, enggak tahu Pak," jawab Bi Narmi pelan.


Galang masih menatap Bi Narmi tak percaya, Galang langsung menuju kamar tetapi tak lama keluar lagi, "kemana, Galang harus mencari mereka?" tanya Galang putus asa.


Sudah hampir malam, saat Galang melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Mawan. Harapan Galang pupus, mereka juga tak ada di rumah Mawan.


"Argh! Kembali Galang marah hanya ini yang di rasakan Galang, bingung dengan keadaan yang rumit ini.


Berbeda dengan Rahael dan anak-anaknya sesaat setelah memasuki mobil Rahael langsung menuju terminal.


Melakukan pemberangkatan terakhir menuju kota asal, sebelum keberangkatan Rahael menyempatkan untuk menghubungi orang rumah dan menceritakan semuanya kepada para eyang dan akan mengajak anak-anak untuk menginap di villa beberapa hari untuk menenangkan Rahan dan Rayhan serta Twin Al

__ADS_1


Sepanjang perjalanan pulang pikiran Rahael pun mulai bimbang dengan Mas Galang. Ada perasaan sedih saat melihat Twin RA, menjadi pendiam dan seakan menyimpan suatu pertanyaan. Sedangkan Twin Al, masih bingung dengan apa yang mereka drngar dan lihat. Perjalanan panjang dan melelahkan, kami hanya diam dengan pikiran dan berbagai pertanyaan yang begitu rumit.


perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan kami hanya diam dengan berbagai pertanyaan


__ADS_2