Rahael

Rahael
Bab 17. Tak ada tolakan


__ADS_3

BAB 17 . Tak Ada Tolakan


Pagi ini suasana rumah sedikit berbeda, wajah tegang Bu Rahayu, Ibu yang terlihat bingung dan Bapak yang terlihat begitu khawatir, tetapi semua tertutupi dengan kesibukan masing-masing. Galang yang melihat ini akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu kamar Bu Rahayu, tak butuh waktu lama bagi Galang dan Bu Rahayu untuk membicarakan tentang Rahael.


Hingga setelah makan malam Bu Rahayu meminta semua orang termasuk Rahael, untuk datang ke ruang tengah.


Begitu mereka semua sudah datang dan berkumpul di ruang tengah, Bu Rahayu diam sesaat memandang Galang dan Rahael, entah mengapa hatinya serasa perih.


"Rahael!" panggil Bu Rahayu. Rahael yang duduk berselonjor di dekat Ibunya kini menatap sang Ibu sembari menjawab, "ya Bu," jawab Rahael sembari menghembuskan napas yang terasa berat .


"Rahael, ibu tahu seperti perasaan Rahael saat ini, tetapi tolong setelah ibu bicara nanti, ibu tak ingin mendengar penolakan dan ibu juga tak ingin di bantah, semua ini juga demi kebaikanmu," ujar Bu Rahayu. Mendengar ucapan Ibunya Rahael hanya diam dan menunduk.

__ADS_1


"Rahael ibu akan menikahkanmu dengan Galang dan itu harus kau terima, ingat ucapan ibu di awal."


Rahael hanya mengangguk saja tak berucap apa-apa hanya sekilas menatap ke arah Galang dan kemudian menunduk, melihat ini sesaat ada rasa tenang di hati Mang Udin dan Bi jum. Sementara Galang sekita tersenyum senang karena itikad baiknya bisa di terima oleh Rahael.


"Mang untuk dua hari kedepan akan saya urus surat-suratnya, karena Mamang juga tahu saya tak bisa meninggalkan pekerjaan saya di kota B."


Rasa penat di hati Bu Rahayu kini mulai mereda, karena satu masalah telah terselesaikan.


Sudah seminggu ini Bu Rahayu dan Mang Udin mengurus surat-surat syarat pengajuan pernikahan Galang dan Rahael. Rencana awalnya Bu Rahayu ingin menikahkan mereka secara siri dulu, asal status Rahael kini telah bersuami. Namun, Mang Udin menolaknya dengan alasan, "kasihan Nak Rahael Bu, mending statusnya di perjelas dan kuat agar tidak menjadi gunjingan orang."


Setelah di nyatakan sah Bu Rahayu menangis merasa terharu Bu Rahayu dan Bi Jum saling berpelukan, "terima kasih Bi, atas pertolongan dan kebaikan kalian, saya tak mampu membalas kebaikan kalian karena telah menyelamatkan nama baik anakku," ucap Bu Rahayu di tengah-tengah isaknya.

__ADS_1


Bi Jum yang mendapat rangkulan tiba-tiba terkejut. "Sudah Nyonya hanya ini yang dapat saya dan keluarga saya berikan, Nyonya sudah terlalu baik kepada kami saat ini."


Kedua wanita ini sama-sama terisak dalam rangkulan. Setelah acara selesai dan para undangan telah pulang, mereka kembali seperti biasa Rahael kembali ke kamarnya, Galang masuk ke kamarnya di samping kamar Rahael, Bi jum dan Mang Udin tak mau pindah ke rumah depan mereka berdua hanya ingin tinggal di rumah belakang seperti biasanya.


Kini sudah dua minggu pernikahan Rahael, mau tidak mau Bu Rahayu harus kembali ke kota B untuk menyelesaikan studinya. Begitu juga dengan Galang harus kembali menyelesaikan kuliahnya di kota S.


"Bi ... "panggil Bu Rahayu sembari melangkah mendekat. "Ya, Bu," jawab Bi Jum.


"Sini Bi, ada yang perlu saya bicarakan," ujar Bu Rahayu sambil menarik tangan Bi Jum.


"Sebentar nyonya," jawab Bi Jum.

__ADS_1


"Jangan panggil Nyonya, panggil Bu saja! sekarang kita besanan, saya juga akan panggil Bu juga mulai sekarang."


"Bu! Besok saya mau kembali ke kota B, "maaf ! Saya akan kembali menyerahkan pengawasan Rahael pada Bu Jum, sekarang saya juga lebih tenang, terima kasih ya, Bu," tutur Bu Rahayu sambil merangkul besan nya.


__ADS_2