Rahael

Rahael
Bab 14. Pencarian


__ADS_3

BAB 14 . Pencarian


Setelah mengantar Rahael pulang dan menebus obat, Bu Rahayu berpamitan pada


Rahael, "Ibu akan keluar sebentar, ingat jangan berpikiran aneh-aneh dan lekas istirahat sayang," tutur Bu Rahayu sembari mengecup kening Rahael.


Kemudian keluar kamar dan mencari Bi Jum.


"Bi ... "panggil Bu Rahayu sembari mengambil tasnya. "Ya, Nyonya," jawab Bi Jum sembari datang mendekat.


"Titip Rahael Bi, saya keluar sebentar," ucap Bu Rahayu dengan sedikit tergesa melangkah keluar, jawaban sang Bibi pun tak di hiraukan oleh Bu Rahayu.


Berbekal alamat yang di berikan Pak Mahmud, Bu Rahayu langsung melajukan mobilnya dengan tenang menuju alamat yang di pegangnya. Cukup jauh hampir dua puluh menit akhirnya tiba juga. Bu Rahayu berhenti di depan rumah yang berdiri kokoh dengan pilar- pilar yang menjulang. Rumah yang berdiri tepat di pinggir jalan memudahkan akses untuk kemana pun.


Pagar yang tinggi dan rapat membuat pandangan dari luar terhalang, sudah hampir lima belas menit Bu Rahayu berdiri di depan pagar sembari memencet bel rumah.


Putus asa, tidak! Hanya rasa geram yang saat ini Bu Rahayu rasakan, cukup lama menunggu akhirnya Bu Rahayu berinisiatif untuk pulang. Masih tiga langkah dari pagar, terdengar pintu pagar di buka . "Ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga rumah.


Bu Rahayu menatap penjaga rumah sejenak, hingga sesaat kemudian, "maaf Mas, Mas Mawannya ada?" tanya Bu Rahayu tanpa basa basi.


"Mas, Mawan?" tanya sang penjaga rumah ragu. "Hiya! Betulkan ini rumahnya," tanya Bu Rahayu lagi."


Masih sedikit bingung dan ragu sang penjaga rumah dengan sesekali menengok dalam rumah.


"Benar Bu! Tetapi Mas Mawan kan, sudah hampir dua bulan ini enggak di sini! Jelas sang penjaga rumah.


Sedikit terkejut Bu Rahayu mendengar jawaban sang penjaga rumah, "memang kemana Mas?" tanya Bu Rahayu dengan suara lemas. "Yang saya dengar ke Bali Bu!" jawab penjaga rumah.


"Boleh minta alamatnya Mas?" tanya Bu Rahayu memburu. "Maaf Bu! Saya enggak tahu! Permisi!" jawab penjaga rumah sembari menutup pintu pagarnya.


Setelah mengetauhi yang di cari menghilang dengan lemas dan air mata yang coba ditahannya sedari tadi, kini mulai keluar begitu saja. Bu Rahayu bergegas masuk dalam mobil, tangisnya pun kini makin menjadi di sandarkan tubuhnya di kursi mobil masih dengan isakannya, pikiran Bu Rahayu seketika gelisah saat mendapatkan jalan buntu, hingga beberapa saat kemudian akhirnya Bu Rahayu memutuskan untuk kembali pulang.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah Bu Rahayu langsung menuju kamarnya merebahkan dirinya sesaat, menghilangkan penat dan sakit di kepalanya yang tiba-tiba pening. Hampir dua jam Bu Rahayu tertidur. Pukul tiga sore, Bu Rahayu terbangun setelah mengambil wudhu dan meraih mukenanya, samar-samar Bu Rahayu mendengar suara Rahael, muntah-muntah.


Di lepaskan kembali mukena yang baru di pakainya bergegas ke kamar Rahael.


"Rahael, kenapa Bi?" tanya Bu Rahayu .


"Entahlah Nyonya, tadi sehabis makan Non Rahael kok langsung muntah-muntah," jawab Bi Jum dengan heran. Mendengar jawaban Bi Jum, Bu Rahayu langsung menuju kamar Rahael, "ya sudah Bi, biar saya lihat di kamar."


Memasuki kamar anaknya, terlihat wajah pucat Rahael dengan tubuh lemasnya.


"Bagaimana, sayang masih mual? sudah minum obatnya?" tanya Bu Rahayu sembari tersenyum.


"Hm ... kok diam, sini Ibu bantu?" di ulurkan tangannya dan meraih gelas di samping nakas, "minum dulu sayang," tutur BubRahayu sembari memberikan gelas pada Rahael. "Ada apa? Hm .... sini cerita sama Ibu."


Di pandang nya Rahael, "sudah, cerita saja ibu enggak marah," ujar Bu Rahayu Sembari mengangkat dua jarinya berbetuk V.


Rahael menatap sejenak seakan ragu untuk memulai berbicara.


Melihat ini Bu Rahayu langsung memeluk Rahael dengan erat.


"Jangan pernah menghukum anak yang tak berdosa Rahael, ini juga bukan di sengaja ."


"Ibu tahu seperti apa perasaanmu saat ini,


tapi .... bayi ini tidak tau apa-apa Rahael jadi jangan menghukumnya juga, paham sayang?"


"Tapi, Bu! Bagaimana dengan cita-cita Rahael dan impian Rahael!" kembali Rahael berucap dengan pelan.


Mendapati Rahael yang demikian, Bu Rahayu mengelus kepala Rahael dengan lembut, "semua bisa di atur dan mari kita sama-sama mencari jalan keluarnya dan Ibu akan melakukan hal terbaik untuk Rahael."


Tak berapa lama adzan magrib terdengar Bu Rahayu melepas pelukannya.

__ADS_1


"Ayo, shalat bareng Ibu," ujar Bu Rahayu sembari ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Bu Rahayu tersenyum saat melihat Rahael menyusul shalat di belakangnya.


Setelah shalat magrib Bu Rahayu bergegas keluar kamar dan memanggil Bi Jum.


Mendapati Bi Jum yang sedang di dapur, Bu Rahayu segera menghampiri.


"Bi. Setelah shalat isya Bibi ke kamar!" ucap Bu Rahayu lagi. "Baik Nyonya," jawab Bi Jum pelan.


Setelah shalat isya dan makan malam Bi Jum menuju kamar Bu Rahayu. Mengetuk pintu kamar beberapa saat, hingga terdebgar suara jawaban dari dalam kamar.


"Masuk Bi," jawab Bu Rahayu dari dalam kamar.


Melihat siapa yang masuk Bu Rahayu tersenyum, "sini Bi, masuk Bi!" perintah Bu Rahayu.


"Bi, sebelumnya tolong panggil suami ibu juga, Mang Udin Bi!" perintah Bu Rahayu.


Mendengar perintah Bu Rahayu, Bi Jum bergegas menuju kamar belakang untuk memanggil suaminya, mereka berdua segera datang ke kamar Bu Rahayu. Bu Rahayu kembali tersenyum saat dua orang yang di tunggunya datang, "Mang, Bibi. Silahkan duduk. Saya mau cerita, ini tentang Rahael Bi. Mang, saya juga minta tolong, setelah saya cerita jangan menganggap Rahael rendah atau menjijik kan," ucap Bu Rahayu dengan menunduk.


Mang udin dan Bi Jum hanya tertegun setelah mendengar ucapan Bu Rahayu.


"Mang, Bibi. Rahael hamil ! Rahael di perlakukan tak senonoh dengan teman sekelasnya Bi. Rahael ... di buat pingsan dan di beri obat tidur Bi, hingga akhirnya kejadian itu terjadi."


"Saat ini Rahael kalian hamil dan dia tak menginginkan bayinya," terdengar suara Bu Rahayu serak. Kini tangis yang coba dia tahan akhirnya luruh juga, Bi Jum dan Mang Udin seakan tak percaya dengan apa yang mereka dengar, mereka bertiga menangis Nona kecil yang di jaga layak anaknya sendiri tengah berjuang menjalani semua dalam diamnya.


Hingga beberapa saat setelah tangis mereka mereda. "Bagaimana Mang, Bi ! Apa yang harus saya lakukan, laki-laki yang merusaknya telah pergi Bi, sahabatnya Silvi juga pergi, saya seperti menemui jalan buntu Mang, Bi. Sudah dua hari Bi, saya menghubungi teman sekelasnya, tapi hasilnya nol Bi. Saya bingung Bi," cerita Bu Rahayu masih dengan tangisnya yang sudah luruh kembali.


"Saya kasihan Rahael Bi, saat perutnya membesar nanti tanpa ada status yang jelas, saya takut Bi ! jika Rahael jadi cibiran orang dengan statusnya saat ini."


Bi Jum seketika merangkul Nyonya besarnya, "sabar Nyonya. Jika nyonya kuat Non Rahael pasti juga kuat sabar, ikhlas dan tawakal Nyonya."


Mang Udin masih diam terpaku hanya bisa menundukkan wajahnya sembari sesekali mengikis air matanya.

__ADS_1


__ADS_2