Rahael

Rahael
BAB 46. MAWAN LAGI


__ADS_3

Tak terasa waktu cepat berlalu, rumah tangga kami pun aman-aman saja, walau kadang ada cekcok-cekcok kecil yang jadi bumbu rumah tangga kami.


Twin sudah berumur satu tahun, sudah pandai membuat bahasa bayi yang tak Galang mengerti, terkadang itu yang membuat Galang selalu tersenyum.


Masih pagi, ponsel Galang terus berdering.


"Mas ponselnya terus berdering, terima dulu gih," ucap Rahael sembari menyerahkan ponsel pada Galang.


Menekan tombol hijau, sesaat Galang melihat, nomor yang tertera.


"Ish ... tuyul."


"Assalammuaikum. wr,wb. masih pagi tuyul."


"Mas. Bisa kita bicara," pinta tuyul di ujung sana.


"Ok."


"Mas temui aku di kafe xxx Mas."


Tanpa mengucap salam, ponsel langsung di tutup begitu saja.


"Memang tuyul tengil," ucap Galang menggerutu..


Ada sesuatu yang serius rupanya.


Mengingat Mawan, Galang kini sedikit khawatir.


"Argh ... Galang pun belum cerita pada Rahael maupun ibu," ucap Galang sembari menatap ponselnya.


"Ish ... anak ini selalu menganggu," ucap Galang sembari duduk termenung menghadap jendela.


"Ada apa Mas?" tanya Rahael seketika memeluk.


Pelukan Rahael yang tiba- tiba membuat Galang terkejut .

__ADS_1


"Rahael ... belum sempat Galang bicara, kembali ponsel Galang berdering melihatnya sejenak.


"Rahael, Mas pergi dulu," ucap Galang tergesa.


Rahael hanya menatap saja punggung suaminya yang menuruni tangga dengan tergesa.


Hampir lima belas menit perjalanan, akhirnya Galang sampai juga di tempat tujuan.


Melihat tuyul tengil alias Mawan sudah berdiri di area parkir.


"Mas ... teriaknya saat Galang menutup pintu mobil."


Saat ini perasaan Galang sedang tak nyaman sama sekali.


"Aku sudah memesan meja Mas. Ayo," ajak Mawan.


Galang melihat sudah duduk seorang wanita yang seumuran dengan Ibu dan seorang laki laki yang juga seumuran dengan Bapak.


Galang menunduk sembari menjabat tangan keduanya.


"Mas kenalkan ini orang tua Mawan."


Galang menatap Mawan tajam. 'Apa-apa an ini?' ucap batin Galang.


Hening beberapa saat, menunggu siapa dulu yang hendak berbicara.


"Perkenalkan saya Panji dan ini isteri saya Widia.


"Saya, Galang.


"Maaf jika kedatangan saya kemari sudah menganggu Mas Galang, tetapi ... menjeda sejenak ucapan Pak Panji.


Mengingat saya juga mempunyai tanggung jawab di sini dengan segala hormat saya, tolong dengarkan saya dulu.


Galang masih terdiam, Galang melirik Mawan yang tertunduk dalam.

__ADS_1


"Saya ke sini ingin melihat cucu saya. Mawan sudah menceritakan pada kami semuanya terus terang saya sangat menyesal dan malu dan memang pada awalnya kami marah besar. Namun, mengingat janji kalian sebagai laki-laki kami menghargai itu.


"Mas, bisakah saya bertemu dengan cucu saya? mengingat Mas sekarang Bapaknya kami minta ijin. Maaf, sekali lagi maafkan kami."


"Maaf Bu, mungkin sebaiknya jangan dulu.


Sebenarnya saya juga belum menceritakan semuanya pada isteri saya, mengingat keadaanya dulu, ini juga tidak menyangkut isteri saya saja, tapi juga kedua orang tua kami."


"Saya mohon anda sedikit bersabar, karena saya juga belum yakin dengan keadaan Rahael jika bertemu dengan Mawan lagi."


"Saya tidak bisa memutuskan saat ini, karena persyaratan saya dengan Mawan pun juga belum di penuhi," ucap Galang sembari melirik Mawan.


Yang Galang lirik hanya tersenyum. 'Buah ... ingin sekali Galang tempeleng wajahnya saat ini juga jika tak ada orang tuanya.'


Orang tua Mawan seketika menoleh.


"Syarat apa itu Mas, jika bisa saya akan memenuhinya."


Seketika Mawan langsung menoleh.


"Ngak- nggak untuk yang satu ini Ibu, Bapak. nggak boleh ikut campur ini urusan Mawan."


"Mawan ... suara Bu Widia geram menahan amarah."


"Tolong Mas, katakan saja," pinta Bu Widia memaksa.


"Ini bukan hak saya Bu, biar Mawan saja yang bicara."


"Saya memberi ijin pada Ibu dan Bapak tapi tidak untuk Mawan karena sudah tidak menepati janji."


"Saya minta maaf paling tidak saya menjelaskan dulu pada isteri saya dan kedua orang tua saya," ucap Galang.


"Maaf ... hanya itu untuk saat ini, nanti saya kabari Bu."


Bagas beranjak berdiri.

__ADS_1


"Hei ... tuyul awas kalau kau diam-diam menemui mereka karena syaratmu belum lengkap ucap Galang.


"Maaf Pak, Bu saya permisi."


__ADS_2