
Perjalan tinggal sepuluh menit hingga kami tiba di rumah, suasana sudah reme terop sudah di pasang, hingga hampir menutup separuh jalan di rumah, pihak katering, dekor dan entah apalagi membuat aku bingung melihatnya.
Memasuki halaman aku melihat eyang Panji dan Bapak masih sibuk dengan ini dan itu.
Melihat Rahan masuk dan mengucap salam seketika menoleh," Eh ... Besan mari masuk," ucap Bapak menyambut dengan ramah.
"Ray ... tolong bantu kakakmu," ucap Bapak sedikit berteriak.
Eyang Panji langsung memeluk Rahan, sembari menepuk bahu Rahan. Eyang Panji sedikit terkejut saat Ais mengambil tangannya untuk salim.
"Ajak masuk saja Rahan, mereka semua di dalam ucap Eyang Panji sembari masih berbicara dengan lainnya.
Begitu kami masuk ke dalam suasana jadi rame ibu dengan perutnya yang semakin besar sudah menyosongku sembari tersenyum. Melihat itu Ais langsung menyeret untuk mendekat," Aduh Bu, hati-hati ucap Rahan dan Ais bersamaan.
Sementara Bapak sudah duduk dengan mertua Rahan," Bu ... ini ada besan ucap Bapak sembari berdiri dan menuntut Ibu.
"Aduh ... Rin, maaf Ya," ucap Ibu
dengan sedikit malu sembari memegang perutnya. Setelah duduk dengan nyaman Rahael dan yang lainnya langsung terlibat perbincangan antara Mertua dan Besan.
Sementara Eyang Panji masih sibuk mensta ini dan itu.
Sementara Twin Al langsung menyeret Ais bersama Naya, sudah terjadi kehebohan apalagi yang Rahan dengar, mereka sudah tertawa terkikik bersama-sama.
Memasuki ruang tengah ku lihat para Eyang juga berkumpul," Buh ... benar-benar keluarga besar," ucap Rahan Pelan.
Rayhan yang sedari tadi diam langsung menyeret Rahan," gimana Mp nya sukses nggak?"
Aku hanya tersenyum menanggapinya,"Kak ... desak Ray, penasaran. Mendengar pertanyaan yang sulit aku jawab, tak banyak kata aku langsung menjitaknya. Meligatnya meringis akhirnya Rahan menjawab juga," Kau juga merasakan MP kenapa juga bertanya Ray ... ucap Rahan pelan.
Melihat Rayhan terdiam aku langsung memeluknya," terimakasih untuk kadonya sangat sangat bermanfaat," ucap Rahan sembari berbisik.
Kini Rayhan hanya tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya, sudah pukul tiga sore kami hanya melakukan kegiatan kegiatan kecil saja, karena semua sudah ada yang menanganinya.
Melihat ibu tengah sibuk menata sesuatu,
aku mendekat dan memeluknya," hati-hati Bu , ucap Rahan pelan.
Mendapat pelukan dari Rahan, Ibu langsung tersenyum," ini, Ibu nggak melakukan apa-apa Rahan, tapi tangannya masih melakukan ini dan itu.
"Sudah, iIbu duduk saja sambil ku tuntun tangan Ibu, Rahan kangen temani duduk di sini," ucap Rahan lagi.
"E ... sudah nikah masih manja juga," ucap Ibu sembari duduk dengan pelan. Aku hanya tersenyum saja mendengar Ibu meledek.
__ADS_1
"Sudah mau lahiran Bu," tanya Rahan saat melihat Ibunya sedikit meringis. "Belum Rahan masih kurang satu bulan," jawab Ibu.
Melihat Rahan duduk dengan Ibu, Rayhan langsung ikut duduk juga," Bu ... bolehkan anak-anak toko aku undang dan Rayhan juga pingin mengundang anak panti," ucap Rayhan.
"Boleh, boleh," ucap Ibu. Melihat sesaat," tapi ini teropnya kok gede amat Bu? tanya Rahan heran.
"Hus ... ini Eyang Panji yang punya ide , bukan Ibu atau Bapak. "Kata Eyang Panji biar terkesan wah, toh ... tinggal ngundu mantu saja," cerita ibu pada kami.
Aku dan Rayhan hanya tersenyum," begitu jika Eyang punya kemauan Bu," jawab kami serentak.
Ibu diam sejenak," gimana Ray jadi kamu tinggal dengan Eyang," tanya Rahan. Mendengar ucapan Rahan, seketika Ibu sedikit terkejut.
Rayhan kini menatap ke depan," nggak apa apa kan Bu? tanya Rayhan pelan.
Nampak Ibu tersenyum," nggak masalah Rayhan, kau lihat Ibu pasti akan repot nantinya dengan hadirnya adik kalian, nggak masalah bagi Ibu, Eyang kalian juga butuh teman. Mendengar ucapan Ibu seketika kami tertawa," memang adik nggak mau kalah sama cucu Ibu nanti," mendengar itu ibu langsung menjewer Rayhan.
"Aduh," ucap Rayhan. Setelah itu ibu terlihat meringis hingga beberapa saat," gara-gara kau ledek adikmu tak terima Rayhan," ucap Ibu sambil tersenyum.
"Eh ... ada apa," ucap Bapak sambil memandang kami, kini sudah ikut duduk di antara kami.
"Pak, kateringnya sudah datang," tanya Ibu.
"Memangnya kok sekarang pakai katering ucap Rahan. Kasihan bibi, coba kau lihat betapa sibuk mereka."
Setelah Ibu berdiri," Ray, Rahan memang pada kemana besan-besan Ibu ini.
Sesaat terlihat Bapak tersenyum sembari meraih tangan ibu. Susana masih rame, sudah pukul delapan aku masuk ke kamar begitu juga dengan yang lainnya.
Acara di lakukan pagi jam sepuluh hanya mengundang tetangga, sanak saudara serta anak-anak toko dan anak-anak panti.
Pagi menjelang kesibukan baru di mulai
semua sudah bersiap untuk di rias dan untuk hari ini kami tidak menggunakan baju seragam, memakai baju bebas sesuai keinginan. Sudah pukul sembilan saat kami sudah selesai di rias.
Aku menatap Ais dengan takjub saat melihatnya memakai baju adat jawa, senyum Ais mengembang saat aku mendekati. "Rasanya Mas nggak rela kalau cantiknya
Mas di lihat banyak orang, apalagi ini
sambil ku pegang lekuk tubuh Ais.
"Ih ... Mas malu di lihat orang, jawab Ais seketika. "Aku juga nggak rela kalau Masku yang ganteng ini di lirik orang, awas nanti kalau genit-genit," ucapnya sembari menoel dagu suaminya.
Seketika Rahan tertawa," andai kau tak memakai baju adat ini dan riasan seperti ini,
__ADS_1
Mas yakin akan memilih menghabiskan waktu bersama dan Mas akan memberi pelajaran yang rumit," ucap Rahan sembari berbisik.
"Tuh ... kan makannya aku malas muji-muji," ucap Ais malu.
"Ih ... kamu membuat Mas mu ini pingin di kamar terus," ucap Rahan sambil mendekap erat tubuh Ais.
Terdengar pintu di buka," Kak ... teriak twin Al mengagetkan aku dan Ais. Seketika aku melepas rangkulan aku.
"Ih ... Kakak sudah di tunggu," ucap Twin Al dengan malu karena mendapati aku tengah mendekap Ais.
Keluar kamar aku melihat Rayhan sudah bersiap. Aku hanya geleng-geleng kepala saat melihat baju yang kami pakai sama. Kami saling melihat dan selanjutnya tertawa bersama,'coba ide siapa juga pikir Rahan.'
Berjalan di karpet merah yang di gelar acara demi acara kami lewati dengan khidmat
kini yang berdiri di samping kami bukan Bapak dan Ibu tapi kedua Eyang dari pihak Ayah dan di sebelahnya orang tua dari Naya dan mertuaku.
Sedikit terharu dan kecewa mengapa di momen ini bukan mereka yang berdiri di samping kami, tapi menginggat kondisi ibu aku sedikit meredakan rasa jengkel di hati.
Ais meraih tanganku saat di dapatinya aku sedikit melamun," Mas ... panggilnya saat itu.
Aku sedikit tergagap dan hanya menggeleng
Kini Rahan mengalihkan pandangan ke arah Rayhan, nampak wajah sendu yang bisa aku tangkap dan sadar aku menatapnya Rayhan membalas tersenyum.
Kulihat Bapak di ujung sana bersama ibu tersenyum, ada setitik haru di hati menatap dua orang tua kami berjuang demi kami, berkorban hati dan tenaga untuk kami.
Begitu juga dengan Galang dan Rahael yang duduk di tempat yang sudah di sediakan, sesaat memandang Rahael sembari tersenyum. "Kau lihat mereka, kini mereka sudah dewasa," ucap Galang.
"Aku merasa lega dan berhasil bisa mengantar mereka hingga jejang pernikahan.
"Kini sudah tak ada beban hanya tinggal menyelesaikan tugas kita selanjutnya," ucap Galang sembari menggenggam tangan Rahael.
"Rahael ... yang di tanya tak bersuara hanya air matanya saja yang menitik.
"Mas ... terima kasih," ucapnya.
Aku langsung merangkul wanita yang kini masih mau berjuang demi buah hati kami meski usianya tak tergolong muda lagi.
"Terimakasih Rahael, ucap Galang sembari mengelus perutnya yang nampak besar.
Tiada hal terbaik selain kehidupan yang ku jalani melangkah bersama dalam susah dan senang melewatinya dengan sabar hingga tujuan utama kami tercapai menghantarkan dua jagoan dengan rasa bangga
Terima kasih dan syukur , kini yang bisa kami ucapkan akhirnya semua sudah finish dan selesai hingga menghantar dua jagoanku di pelaminan
__ADS_1
*********************************************
TAMAT