
Gedoran pintu semakin keras, Bapak yang mendengar itu langsung berdiri, "ayo, Bu pulang. biar anak-anak di sini," ucap Bapak, "dan kau Lang! urus wanita itu dan suruh pulang!"
"Ingat, Lang! Kamu punya satu penjelasan pada Bapak!"
Bapak segera melangkah keluar dan tak lama ibu dan Rahayu ikut menyusul.
"Bersenang-senanglah, Rahael," ucap Ibu
dan kau Lang selesaikan masalahmu dengan mantanmu itu!"
"Ayo. Twin ikut Eyang kerumah!" ajak Pak Panji. Mendengar ucapan Pak Panji, Rahael seketika menoleh, "maaf Pak. Bu, biar anak- anak di sini dulu, nanti biar mereka sendiri yang ke rumah Eyang," ucap Rahael.
Silvi yang sedari tadi memperhatikan akhirnya berdiri dan pamitan pada Rahael.
"Rahael, ingat! Harus bijaksana dalam mengambil keputusan," ucap Silvi sambil merangkul Rahael dan berpamitan pulang.
Setelah semua berpamitan Rahael segera menyuruh anak-anak masuk ke kamar, masing-masing.
Rahael melihat sang mantan duduk di samping mas Galang, "Rahael, ini tidak seperti yang Rahael lihat, Mas dan Nisa hanya berteman hanya itu!" tutur Galang menegaskan.
"Tapi tidak denganku, Lang! ucap Nisa tak terima.
Rahael memilih berdiri, "selesaikan urusan kalian, apapun nanti keputusan kalian Rahael akan terima," ujar Rahael.
"Mas, jika masalah ini belum selesai jangan pernah untuk menemui Rahael," ujar Rahael
dan meninggalkan mereka begitu saja.
Langkah terhenti saat Mas Galang menarik tangan Rahael, "enggak. Rahael, kamu juga harus di sini dan juga anak-anak! Mas tak ingin ada hal yang Mas sembunyikan Rahael.
"Twin Ra, Twin Al!" panggil Mas Galang dengan suara keras. Anak-anak yang mendengar teriakan itu langsung berhambur keluar kamar.
"Bapak ingin kalian duduk dan juga kau Rahael," ucap Galang tak ingin di tolak.
"Maaf!" ucap Mas Galang, "bukan maksud Bapak ingin menghianati kalian, Bapak dulu memang pernah menjadi teman dekat dengan Tante Nisa, tetapi itu dulu. Sekarang Bapak tak ada apa-apa dengan Tante Nisa.
Rahael, mohon percayalah pada Mas, Mas berani sumpah Rahael dan rasa Mas sekarang bukan rasa cinta, tetapi Bapak menghargainnya sebagai teman, hanya itu!"
Twin Ra dan Twin Al hanya diam mendengarkan, "kenapa waktu di Ruko, Bapak tidak mengenalkan pada kami," ucap Aal protes.
"Memang ini salah Bapak sudah berlaku tak jujur pada kalian, maaf!"
__ADS_1
"Nisa, minta maaflah pada mereka karena semua ini ulahmu!"
Nisa hanya tersenyum sambil berdiri dan melirik jam tangannya, "sebenarnya Nisa tak terima Mas, terus terang Nisa masih sakit hati. Namun, melihat kesungguhan Mas saat ini. Nisa yakin Mas memang sudah melupakan Nisa dan Nisa minta maaf, jika sudah membuka rahasia yang Mas tutup-tutupi selama ini. Jadi sekarang kita impas," ucap Nisa sambil mengambil sesuatu di tasnya.
"Datanglah!" ujar Nisa sembari menyerahkan kartu undangan kepada Galang, "dua hari lagi Nisa akan menikah sebentar lagi calon suami Nisa akan datang!" ujar Nisa sembari berjalan mendekati Rahael dan memeluknya. "Maaf, telah membuat kalian seperti ini," tutur Nisa pelan.
Rahael yang mendapat rangkulan tiba-tiba hanya terbengong menatap Nisa tak percaya, Nisa, kemudian tersenyum menatap ke arah anak-anak, menepuk bahu Rahan dan Rayhan, "tante bangga pada kalian, kalian anak-anak yang baik dan untukmu gadis cantik, Tante suka dengan gayamu!"
Nisa kemudian menatap sekilas pada mereja semua, "ijinkan Nisa di sini, beberapa saat untuk menunggu calon suami Nisa," ucap Nisa sembari duduk.
Anak-anak juga masih di posisinya begitu juga dengan Rahael. Tak berapa lama terdengar suara pintu di ketuk, saat Galang membuka pintu, Galang melihat sosok yang pernah Galang kenal, "Galang!" panggil laki-laki ini sembari tersenyum.
"Kau-kau, Suga kan?" tanya Galang memastikan. Kami langsung berpelukan saat, "Gila, kau Lang," ujar Suga sembari memukul pelan Galang.
"Ayo, masuk!" ajak Galang.
Melihat calon suaminya datang, Nisa langsung berdiri dan bersiap untuk pergi.
"Sebentar yang! Mas ingin kenalan sama isterinya Galang," ujar Suga sembari meraih tangan Nisa.
Nisa hanya tersenyum, "Rahael, kenalkan ini calon suami Nisa dan mereka anak-anak Galang."
Mendengar ucapan Nisa, Rahael hanya tersenyum sembari menyambut
uluran tangan Suga. Galang yang melihat itu langsung menepis tangan Suga, "jangan kelamaan," ucap Galang tak terima.
Suga yang melihat itu hanya tersenyum
"Sudah kau lakukan Nisa?" tanya Suga. Nisa hanya mengangguk, "ya, sudah! Rahael, Galang kami pamit pulang," tutur Nisa sembari memeluk kami lagi.
Selepas kepergian Nisa, anak-anak sudah kembali ke kamar masing-masing, melihat Rahael juga masuk kamar, Galang masih duduk di kursi tengah, menenangkan hati dan berfikir, 'bagaimana cara Galang untuk mengambil hati Rahael kembali.'
Berbeda dengan Galang yang sibuk dengan pikirannya, berbeda pula dengan Nisa dan
Suga, mereka menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Apa kau ingin rumah di sini Nisa?" tanya Suga. Nisa hanya tersenyum.
"Kok. Senyum-senyum?" tanya Suga sembari menatap wajah Nisa.
Nisa hanya menggeleng lalu menatap calon suaminya, "terima kasih sudah memberi Nisa
__ADS_1
kesempatan untuk memastikan perasaan Galang, maaf!" tutur Nisa lirih.
"Sudah lega kan?" tanya Suga.
"Sekarang, impas Mas," ucap Nisa sembari tersenyum. Suga kembali melajukan mobilnya, sepanjang perjalanan Nisa hanya tersenyum puas.
Nisa flashback on
Nisa sungguh tak percaya, saat Galang memutuskan dirinya secara sepihak. Hati Nisa benar-benar sakit, hampir tiga tahun menjalin cinta membuat Nisa semakin percaya pada Galang laki-laki sederhana yang bisa membuat Nisa tenang.
Bertemu dengan Suga yang merupakan teman satu jurusan saat Nisa menangis di kantin, sejak hari itu Suga dengan telaten mendampingi Nisa dan membantu Nisa hingga akhir kuliah usai.
Setelah beberapa tahun berpisah dengan kesibukan masing-masing, akhirnya kami di pertemukan kembali, saat pertemuan di kantor Suga.
Pertemanan yang beberapa tahun terputus akhirnya bersambung kembali hingga akhirnya Suga melamar Nisa, mungkin saat itu Nisa masih sedikit berharap akan Galang, hingga akhirnya Nisa mengajukan syarat sebelum pernikahan dan gilanya lagi Suga juga menyetujuinya.
"Lakukan jika itu bisa menghilangkan rasa penasaranmu dan pastikan bahwa perasaanmu dan Galang memang benar benar telah selesai, Mas akan menunggu, toh Mas yakin akan jawaban Galang nantinya.
Seperti mendapatkan angin segar akhirnya Nisa, melakukan juga niatnya, seperti mendapatkan peluang saat Nisa melihat foto beberapa temannya di Instragam dengan memberanikan diri Nisa mulai menghubunginnya.
Benar dugaan Nisa, Galang membalasnya. Nisa seakan mendapat angin segar, Nisa terus menghubungi. untuk tiga bulan terakhir Nisa terus saja menghubungi Galang hingga kejadian di Ruko dan hari ini.
Dengan kejadian ini akhirnya Nisa sadar bahwa Galang memang benar-benar sudah tidak mencintai Nisa lagi, Nisa akhirnya sadar akan kekalahan dan tentang Mawan memang
sengaja Nisa lakukan , ya...impas itu yang aku
mau .
Flashback end
"Kok melamun!" tiba-tiba suara Suga mengejutkan.
Nisa hanya memandang Suga dalam, "maaf karena Nisa telah meragukan Mas Suga dan terima kasih karena sudah mau bersabar demi Nisa!" Mendengar ucapan Nisa sesaat Suga berhenti.
"Nisa, sekarang sudah siap dan mantap melangkah bersama Mas Suga dan menuju jalan halal bersama Mas Suga," jawab Nisa sembari menunduk.
Mendengar jawaban Nisa, Suga langsung menepikan mobilnya memandang Nisa lekat sembari tersenyum, "terima kasih ucap Suga.
"Tunggu dua hari lagi, Mas akan menghalalkan hubungan kita sembari," ujar Suga sembari memeluk Nisa erat.
Mungkin ini terlambat untuk Nisa, tetapi melihat ketulusannya dan perjuangan Suga, Nisa, yakin dia lah imam Nisa yang sebenarnya nanti. "Terima kasih Mas," ucap lagi Nisa lirih.
__ADS_1