
Bab 31. Silvia
Setelah kontrol dari rumah sakit, kini kehamilan Rahael sudah menginjak delapan bulan. Galang lebih over proktektif mengingat sejarah kehamilam Rahael. Entalah, Galang sering was-was saja bila melihat Rahael sibuk meskipun di kasir dan di bantu Rini.
Dan semenjak kedatangan dua teman Rahael membuat toko Galang semakin pesat. "Ya!setiap teman atau rekannya datang pasti menuju toko Galang untuk membeli oleh-oleh.
Seperti hari ini secara tiba-tiba.
"Pagi Mbak! Bisa saya bertemu dengan Mbak Rahaelnya!"
Sejenak Rini menatap siapa yang mengajaknya bicara, kemudian membalas pertanyaan wanita ini. "Sebentar ya mbak," ucap Rini.
"M ... maaf dengan Mbak siapa?" tanya Rini lagi.
"Oh ... maaf saya silvi! Pasti Mbak Rahaelnya tahu."
"Sebentar ya, Mbak, saya tanya Bapak dulu," ucap Rin sembari berlalu ke atas, tak berapa lama Silvi melihat karyawan itu telah turun kembali .
"Silakan mbak, langsung ke atas saja," ucap Rini mempersilahkan.
Begitu di atas Silvi melihat Rahael berdiri di samping laki-laki yang tengah mengenggam tangannya.
"Rahael ... "panggil Silvi.
Sesaat Silvi berdiri di ujung tangga, memindai dari atas hingga ke bawah sosok Rahael.
Seketika Silvi membekap mulutnya sendiri. Agar tak mengeluarkan suara terkejutnya, Silvi perlahan mendekati Rahael dan langsung memeluknya .
"Rahael ... "panggil Silvi dengan tangisnya.
"Maafkan aku, Rahael," ucap Silvi di tengah isaknya.
Mendapatkan pelukan dari wanita ini. Galang merasakan Rahael mengenggam tangannya makin erat. Sesaat Rahael menatap lekat seakan takut Galang tinggal.
Galang tersenyum membalas tatapan Rahael dan mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
"Silvi ... mendengar panggilan Rahael, Silvi langsung melepas pelukannya sembari mengusap air matanya dan menatap Rahael.
"Maaf, Mas! Kenalkan saya Silvi sahabat Rahael," ucap Silvi sembari mengulurkan tangannya.
Galang yang mendapat uluran tangan dari Silvi langsung menyambutnya.
"Kenalkan saya suami Rahael. Galang!!" jawab Galang sembari menjabat tangannya.
"Duduk Mbak," ucap Galang mempersilahkan.
Sesaat kemudian Silvi menundukkan wajahnya membisikkan sesuatu ke telinga Rahael.
"Maaf, Mbak saya tinggal ke bawah," ucap Galang.
Silvi hanya mengangguk dan Rahael masih menatap Silvi dengan ragu.
Sebelum beranjak pergi, sejenak Galang mengusap pucuk kepala Rahael, sambil berlalu ke dapur menemui Bi Narmi dan setelahnya Galang turun ke bawah.
Entalah, Galang hanya ingin memberi kebebasan pada silvi dan Rahael mungkin dengan tidak adanya Galang. Silvi dan Rahael akan bebas bercerita.
Benar, belum juga Galang turun.
"Maafkan aku Rahael, bukan niatku untuk meninggalkanmu sendirian di sana."
"Maafkan aku Rahael."
"Kamu kemana Rahael? Kenapa kau tak menjawab telfonku?" tanya Silvi memburu.
Tak menjawab pertanyaan Silvi kini tiba-tiba Rahael memeluk Silvi dengan erat, tangisnya luruh dalam rangkulan Silvi.
"Maafkan aku silvi, maaf !" hanya itu yang terucap dari mulutnya.
Kini kami saling berpelukan menangis bersama, hingga beberapa saat setelah kami puas menangis dengan mengikis air mata kami masing-masing.
"Sudah berapa bulan Rahael?" tanya Silvi.
__ADS_1
Kini Silvi melihat Rahael tersenyum.
"Delapan bulan," jawab Rahael sembari kembali menyusut air matanya.
Tak ada kata-kata yang dapat Silvi ucapkan
sembari Silvi mengelus perut Rahael dan kembali Silvi menatap wajahnya.
"Selamat ya?" ucap Silvi.
Rahael hanya tersenyum .
Entalah, banyak perubahan yang Silvi rasakan saat ini. Ini bukan Rahael yang dulu yang Silvi kenal.
"Rahael. Maaf! Dua hari setelah kita wisuda aku di jemput orang tuaku dan aku di ajak pindah ke kota B."
"Rahael, Maaf. Saat dalam perjalanan hp ku hilang otomatis semua nomor ku hilang dan aku baru tahu kamu di sini dari intan dan kinan, Rahael," jelas Silvi pelan.
"Aku memang sengaja kemari Rahael, untuk menemuimu, bukan maksudku untuk menghilang, sekali lagi maafkan aku ya?" Kembali Silvi melihat Rahael hanya tersenyum.
Tak banyak yang Silvi bicarakan pada Rahael, saat ini seakan ada pembatas yang menghalangi antara kami berdua.
Mungkin ini cukup untuk meminta maaf
dan Silvi pun tak mau memaksa Rahael untuk jujur dan bercerita, kenapa saat itu dia menghilang.
Merasa waktu Silvi juga enggak banyak. Akhirnya Silvi berpamitan untuk pulang, merangkul Rahael sekali lagi.
"Terima kasih mau menerima dan mendengar penjelasanku," ucap Silvi lagi.
Kini Rahael kembali mengangguk dan tersenyum. "Hati-hati Silvi!" Hanya itu kata terakhir yang Silvi dengar.
Sekembalinya di bawah.
"Terima kasih Mas," ucap Silvi pada mas Galang.
__ADS_1
"Sama-sama Mbak," jawab Galang
Sekilas Silvi menatap Galang saat berjalan ke atas. 'Suami yang siaga batin Silvi.'