
Melihat bi Nina datang tergopoh-gopoh membuat Galang terkejut.
" Ada apa bi? Kenapa tergopoh-gopoh.
" Maaf. Pak di depan ada tamu, mencari
ibu dan bapak," ucap bi Nina memberi tahu.
'Sepagi ini. Masih pukul delapan tiga puluh dan kami pun belum selesai sarapan,' pikir Galang
"Biar Galang saja Bu," ujar Galang sembari menggeser duduknya dan beranjak pergi ke depan.
Galang terkejut saat melihat Mawan cs sudah duduk di ruang tamu.
"Ish! Kau Mawan, masih pagi sudah datang," tutur Galang. Mendengar ucaoan Galang Pak Panji dan Bu Widia hanya tersenyum malu.
"Maaf! Nak Galang, jika kedatangan kami sepagi ini, karena kami nanti juga ada keperluan yang juga harus di selesaikan," ujar Bu Widia beralasan.
"Boleh kami bertemu dengan Rahael dan ibunya serta Twin?" tanya Pak panji ragu.
Galsng terduam seakan sedang berpikir.
"Sebentar pak, saya kedalam dulu," jawab Galang lagi.
Galang terdiam sejenak berdiri menatap
melihat ibu mertua, Rahael dan kedua orang tuanya dengan ragu. Hingga teguran Bu Rahayu mengagetkan Galang.
"Ada apa Lang?" tanya Bu Rahayu yang paham akan bahasa tubuh Galang, tanoa bicara lagi Bu Rahay kemudian beranjak berdiri.
"Bi. Tolong bawa Twins ke kamar dulu dan Bi Nani tolong buatkan minuman dan beberapa cemilan," ucap Galang meminta tolong.
Setelah memberi arahan pada ke dua bibinya, Gakang dan yang lainnya mengekor langkah Bu Rahayu.
Melihat kedatangan kami pak Panji, bu widia dan sepasang suami istri itu langsung berdiri
__ADS_1
sembari tersenyum. Bu Rahayu masih terdiam menatap mereka satu persatu hingga tatapan Bu Rahayu jatuh pada Mawan. Cukup lama Bu Rahayu memindai wajah Mawan dan terdengar bu Rahayu mendengkus kesal.
Hingga sapaan Pak Panji membuyarkan tatapan Bu Rahayu, "perkenalkan saya Panji dan ini Widia isteri saya dan itu Mawan dan isterinya," tutur pak Panji memperkenalkan diri dan menjabat tangan kami satu persatu.
Galang sekilas melirik ke arah Rahael, jelas jika saat ini Rahael sedang tak baik-baik saja. wajah Rahael terlihat menegang sesaat dan merah menahan amarah.
Setelah berjabat tangan bergantian ku lirik Rahael , ya , wajahnya merah menahan amarah.
Sementara ibudan bapak lebih memilih untuk kembali kebelakang.
Melihat kondisi Rahael yang sedang tak baik- baik saja, Galang segera mengambil tempat di sisi Rahael dan Bu Rahayu dengan sopan dan masih menggendong tangannya mempersilahkan mereka untuk duduk.
Suasana hening beberapa saat, hingga suara pak Panji membuka kediaman kami, "maaf jika kedatangan kami menganggu Anda," ujar pak Panji pelan.
"Perkenalkan saya orang tua dari Mawan,
saya tidak tahu akan mulai dari mana pembicaraan ini. Tetapi mengingat kejadian yang terjadi sungguh sebenarnya kami tidak punya muka untuk datang kemari dan sungguh kami merasa sangat malu," tutur Pak Panji sembari menunduk.
"Kami kemari ingin meminta maaf, jika kami tahu dari awal kejadian ini kami akan langsung datang untuk bertanggung jawab
berhubung ..., belum selesai pak Panji
mendekati Mawan, "aku memang sudah memaafkanmu tapi aku tidak akan lupa akan perlakuanmu Mawan! Rahael dengan cepat
"PLAK!!" tamparan ini untuk perlakuanmu dan
"PLAK!!" tamparan ini untuk luka dan sakit hatiku dan ibuku!" setelah puas menampar Mawan, Rahael beranjak pergi dari ruang tamu dan terlihat menahan tangisnya.
kedua orang tua Mawan hanya menatap dengan terkejut, sementara aku dan ibu mertua hanya diam di tempat tak berusaha menghentikan ulah Rahael.
Suasana kembali hening hingga bi Nina datang menyajikan minuman dan cemilan.
Melihat Mawan mengusap pipinya yang merah dan Silvi yang duduk diam tanpa berani menyapa Rahael, membuat Galang terdiam.
sesaat kemudian, "silakan di minum," ucap bu Rahayu. Setelah melihat mereka menyesap minumannya, bu Rahayu kembali berucap, "benar yang di katakan Rahael
__ADS_1
siapa yang tidak sakit hati jika di perlakukan seperti itu," ujar Bu Rahayu sembari menghela napasnya dalam-dalam dan menghembuskan secara kasar.
"Sebenarnya saya juga sakit hati sekali tapi melihat cucu saya, saya berusaha membuang ego saya dan saya juga sudah mempunyai menantu seperti Galang," ujar Bu Rahayu sembari menepuk pundak Galang, "yang dengan berbesar hati mau menerima
anak saya dengan ikhlas."
"Saya memaafkan Nak Mawan."
Mawan yang di sebut namanya langsung
mendongakkan wajahnya dan beranjak dari duduknya langsung bersimpuh di kaki Bu Rahayu, "maafkan saya bu," ucap Mawan sembari menangis.
Melihat reaksi Mawan, seketika merasa risih
"Sudah-sudah berdiri jangan seperti ini, Ibu sudah memaafkan itupun demi Twin," ujar Bu Rahayu jujur.
Melihat sikap Ibu Galang begitu menyadari, "Entalah, Ibu yang terlalu baik atau ada hal yang lainya," pikir Galang.
"Saya mohon kedepannya jangan seperti ini
lagi, cukup Rahael saja yang merasakan ini," tutur Bu Rahayu sembari menatap ke arah lain dan sedikit tersenyum.
"Silvi!" tegur bu Rahayu.
Mendengar Bu Rahayu memanggil Silvi langsung berdiri dan memeluk Bu Rahayu.
Silvi berdiri dan memeluk bu Rahayu
"maafkan kami bu," ujar Silvi lirih.
Pak panji dan isterinya pun ikut berdiri
" Maafkan atas ketidak sopanan kami Bu."
"Saya dan isteri mengucapkan terima kasih
__ADS_1
sungguh, kamu tidak punya muka dan mulai dari sekarang kami akan bertanggung jawab atas cucu kami"
"Maksud anda!" ujar Galang dan Bu Rahayu bersamaan.