
Sepanjang perjalanan pulang tak banyak yang mereka bicarakan, Twin Al menutup rapat bibirnya dengan apa yang dilihatnya, Galang juga masih fokus dengan kemudinya.
"Tumben kok diam saja, mana cerewetnya putri Bapak?" tanya Galang mencoba memancing pembicaraan.
Twin Al hanya tersenyum, "apa yang mau di omongin Pak. Kita di sana baik-baik saja," tutur Aal. Galang hanya menoleh sejenak dan kembali dengan kemudinya.
Begitu juga dengan sepeninggal Twin Al, Rahan dan Rayhan langsung minta ijin masuk kamar. Meskipun semua telah di jelaskan oleh kedua orang tuanya. Namun, masih ada perasaan tak puas di hati mereka berdua, masuk ke dalam kamar membuka lemari pakaian dengan maksud ingin meminjam baju ayahnya.
Mungkin sudah bertahun-tahun baju itu tersimpan di lemari tetapi kondisinya masih harum, Rahan memilih satu baju yang di rasa cukup. Namun, tidak dengan Rayhan yang sibuk membuka laci meja ayahnya, mencari sesuatu yang bisa menambah keyakinannya.
Akhirnya dengan sedikit menarik kertas penghalang Rayhan menemukan buku tipis yang sudah mulai menguning. Rayhan seketika tersenyum, tetapi berbeda dengan Rahan yang penasaran dan langsung ikut melihat, Rayhan seketika melihat Rahan dengan heran, "kembalikan baju itu Rahan, jangan di pakai biar untuk kenangan," pinta Rayhan.
"Sudah terlanjur," jawab Rahan dan kembali melihat ke arah Rayhan.
"Apa itu?" tanya Rahan penasaran.
Rayhan membolak-balik sebentar buku yang di pegangnya dan Rayhan langsung membuka buku catatan itu, tak ada yang istimewa hanya coretan-coretan isi hati ayahnya dan hingga di bab terakhir yang tertulis membuat Rahan dan Rayhan terkejut hingga mereka membaca berulangkali.
Rahan dan Rayhan seketika berpandangan
ada sesal di hati mereka, "Rayhan," tutur mereka langsung berpelukan, ternyata Ibu enggak pernah berbohong Rahan, semuanya benar adanya," ucap mereka sembari menangis.
Begitu banyak kejutan, sehari di rumah Eyang mereka, Rahan masih menatap kamar yang nampak terawat dan bersih, "Rahan, lepas baju ayah," ujar Rayhan, "sengaja Eyang merawat kamar ini agar kenangan ayah tak hilang," tutur Rayhan lagi.
Mendapat omelan dari Rayhan, Rahan akhirnya melepas baju yang di kenakan
dan mengembalikan pada tempatnya semula.
"Buku itu juga, kembalikan Rayhan," ujar Rahan akhirnya, "enggak ini untuk kita, pasti ayah akan memaafkan kelancangan kita," ujar Rayhan tak terima.
Belum selesai mereka berdebat terdengar pintu di ketuk dengan pelan, mendengar ketukan di pintu, Rayhan langsung menyembunyikan buku yang di pegangnya dalam tas.
Rahan hanya terpaku sesaat melihat ulah Rayhan, "cek," gerutu Rahan sembari membuka pintu, "Eyang ... "panggil Rahan sembari membuka pintu lebar-lebar.
__ADS_1
"Lho! Kok, enggak pakai baju. Pakai saja baju Ayah kalian!" ujar Eyang Panji sembari masuk dan membuka lemari pakaian, "Kakek, memang sengaja merawat baju Ayah kalian di setiap tahunnya kami mengganti baju Ayah kalian dengan yang baru dan model yang sama dan untuk baju aslinya, Kakek menjeda sejenak ucapannya dan melangkah ke lemari pakaian yang lebih kecil, di samping ranjang.
"Baju-baju asli milik Ayah kalian, Kakek simpan disini, dulu masih tercium aroma parfumnya dan kami juga sengaja membeli parfum yang sama dengan yang di pakai Ayah kalian dulu."
Mendengar ucapan Kakek, seketika hati kami teriris sakit. Sebegitu kehilangannya Eyang dengan kepergian anaknya, hingga kenangan akan sosok anaknya, tak bisa lepas begitu saja.
Setelahnya Eyang menutup pintu lemari di samping ranjang, kini Eyang memilih duduk di sisi ranjang, "maafkan Eyang," hanya itu yang terucap dari bibir Eyang dan tatapan Eyang kini jauh menerawang dan setelah itu Eyang berdiri sembari tersenyum.
"Ayo kita jalan-jalan! Eyang Uti, sudah menunggu di bawah."
"Rahan dan Rayhan gunakan barang ayah kalian yang ada di sini dan sekarang Eyang sudah merasa bahagia dan tenang saat kalian ada di sini."
"Ayo," ajak Eyang sekali lagi sembari melangkah keluar.
Rayhan dan Rahan hanya tersenyum kikuk
tak tahu harus berkata apa, pada kenyataanya memang seperti ini.
Setelah bersiap kami segera turun melihat Eyang Uti dan Eyang Kakung sudah menunggu di ruang tamu.
"Ayo, Twin!" ajak Eyang Putri yang sudah memasuki mobil.
Setekah kami masuk, Eyang Kakung langsung tersenyum, tak lama mobil melaju dengan tenang hingga kami tiba di Mall yang cukup terkenal di kota kami.
Memasuki Mall dengan saling berdampingan senyum Eyang Putri tak pernah lepas dari bibirnya dan Eyang Kakung yang selalu menggandeng, kami berdua.
Menatap kami berdua dengan tatapan yang sulit kami artikan jelas rona bahagia terpancar dari wajahnya yang mulai terlihat sedikit gurat-gurat keriput di wajah Eyang Kakung.
Memasuki setiap area Butik dan berbagai barang elektronik membuat kami sedikit bingung, "Eyang untuk siapa semua barang ini ? Bapak sudah memenuhi semua kebutuhan kami," ucap kami berdua.
Seketika kami terkejut saat mendapat jawaban yang tak di sangka-sangka yang keluar dari bibir Eyang Kakung, "ini semua untuk kalian cucu-cucu Eyang dan Twin Al juga!"
Kami hanya menatap dan terdiam, "mungkin kemewahan seperti ini yang dulu, Ayah kami terima,' hanya itu pikiran yang terlintas.
__ADS_1
"Eyang. Bukan kami menolak, kami sangat berterima kasih dan untuk kali ini kami menerimanya tetapi ... "ucapan kami terhenti begitu saja.
"Sudah-sudah, terima saja. Eyang juga belum pernah membelikan sesuatu untuk kalian!"
Rahan dan Rayhan hanya menatap bingung, begitu banyak barang yang Eyang belikan untuk kami dan sudah kami duga pasti jawaban Eyang akan seperti ini.
Selesai memenuhi keinginan Eyang yang di paksakan, Eyang membawa kami masuk ke restoran yang cukup berkelas membuat kami sedikit terkejut, hingga akhirnya kami paham akan situasinya. Rahan dan Rayhan akhirnya menyadari, memang Eyang kami bukan orang biasa dan secara tak langsung mereka sudah menunjukkan pada kami.
Setelah beberapa saat akhirnya kami dan Eyang selesai juga dengan berbagai barang bawaan, memasuki area parkir dan menghempas tubuh kami di kursi mobil.
"Ayo. Mawan, bawa mobilnya!" seru Eyang sembari melempar kuncinya pada kami, mendengar panggilan nama kami yang berbeda, membuat kami saling memandang sesaat dan kami menyadari jika Eyangnya saat ini masih mengingat dan mengenang akan anaknya semata wayang. "Benar dan wajah dari sebagian kenangan itu adalah milik kami seutuhnya," guman hati Rahan sembari melajukan mobil dengan berbagai macam perasaan yang berkecamuk hingga tak terasa kami sudah sampai di rumah e
Eyang.
Melihat kedatangan kami Pak Satpam langsung membuka pintu gerbang dan setelahnya menutup kembali, memasuki rumah Eyang dan menyerahkan semua belanjaan pada kami.
"Eyang, maaf! Semua barang ini biar di sini saja dan akan kami pergunakan jika kami di sini, hanya punya Twin Al saja yang nanti kami bawa," ujar Rayhan dan Rahan.
Mendengar itu kedua Eyang kami tersenyum,
"terserah pada kalian dan Eyang juga berharap yang terbaik untuk kalian. Ayo, lekas istirahat, besok kita jalan-jalan lagi dan besok hari minggu kan?" tanya Eyang memastikan.
Kami langsung menghela napas panjang, sebenarnya, "bukan ini yang kami mau, bukan kemewahan ini, tetapi kebersamaan yang kami inginkan," tutur hati Rahan.
Rahan dan Rayhan saling menatap dengan tatapan sendu, tak ada yang bisa kami perbuat, sedikit menuruti keinginan Eyang dan itu kami lakukan untuk menjaga hati Eyang agar tak tersinggung.
Memasuki kamar dengan lelah Rahan melihat Rayhan sudah merebahkan dirinya di kasur, "Rayhan, shalat isya dulu baru tidur," ucap Rahan mengingatkan.
"Capek Mas!" keluh Rayhan malas.
"Hei! Ayo, bangun," ujar Rahan sembari menggeret tubuh Rayhan agar turun dan segera shalat isya.
Akhirnya Rayhan menurut saja, berjalan dengan tergesa untuk mengambil air wudhu, untuk menenangkan hati dan menyerahkan semuanya pada Allah Sang Maha Pencipta,
__ADS_1
hanya itu pesan Bapak agar tak melupakan shalat.
Setelah melakukan shalat kami langsung merebahkan diri untuk tidur dan menghilang dalam selimut.