Rahael

Rahael
Bab 63. Kedatangan


__ADS_3

Bab 63. Kedatangan


Menyusupkan tubuh ke Rahael membuat Rahael sedikit menggeliat, karena lelah Galang pun langsung tertidur.


Hingga pagi datang, Galang terbangun saat Rahael membangunkan.


"Subuhan Mas," ucap Rahael sembari mengoyang-goyangkan tubuh Galang.


Galang menggeliat, merenggangkan tangan dan kaki kemudian duduk di sisi ranjang dengan mata masih mengantuk.


"Ayo, Mas! keburu subuhnya habis."


Munuju ke kamar mandi mengambil air wudhu, melihat Rahael


belum memulai shalat. "Duh! Mas. Lama nya."


Setelah membaca niat Galang memfokuskan hati dan fikiran untuk berpasrah pada Ilahi. Mengucap salam, setelahnya Rahael merengkuh tangan Galang untuk di cium.


"Datang jam berapa Mas? Maaf kalau Rahael enggak nungguin."


"Enggak apa-apa Rahael, lagian Mas juga enggak bilang kalau mau pulang."


"Bagaimana Twin? Rewel enggak Rahael?"


"Alhamdulillah enggak Mas, mereka pinter."


Galang bergegas melipat sajadah dan beranjak berdiri.


"Mas mau kemana?" tanya Rahael.

__ADS_1


"Mau tidur lagi masih ngantuk Rahael, nanti saja nengok Twin lagian masih tidur juga," ucap Galang.


Melihat Rahael melipat mukenanya. "Sini bobok lagi," ucap Galang sembari menarik tangannya.


"Enggak usah macem-macem Mas."


"Ayo, Rahael temenin tidur saja," ucap Galang sambil beranjak naik keranjang.


"Rahael ... "panggil Galang tiba-tiba dan merasakan khawatir.


'Jika Mawan dan orang tuannya datang di tambah silvi yang merupakan sahabatnya,' guman hati Galang tiba-tiba sembari menatap Rahael.


Melihat suaminya hanya diam dan menatap ke arahnya.


"Kok diam Mas?" tanya Rahael.


Galang hanya diam dan meraih tubuh Rahael agar mendekat.


Rahael hanya tersenyum. "Jangan khawatir Mas, Rahael dan ibu sudah memaafkan meskipun tak seratus persen, tetapi demi Twin juga kedepannya. Rahael dan Ibu serta Ibu Jum dan Bapak sudah membicarakan kemarin."


"Rahael yakin, karena saat ini Rahael berada di tempat yang tepat dan ada yang selalu menjaga Rahael," ucap Rahael sembari mengecup bibir Galang dengan lembut.


"Mas tidur, Rahael mau lihat Twin biasanya sudah bangun," ucap Rahael sembari beringsut hendak turun.


Galang yang sudah mode on mendapat kecupan di pagi hari di tambah dua hari tak bertemu, langsung menariknya kembali dalam pelukan.


"Hm ... sudah berani menggoda sekarang dan tidak mau bertanggung jawab," ucap Galang sembari mengecup lembut bibir Rahael.


kecupan yang singkat akhirnya berubah menjadi menuntut dan lagi-lagi sangkuriang Galang yang menang dan berjaya dengan hebat.

__ADS_1


Sudah pukul tujuh pagi saat Galang mengakhiri perang dashyat, melihat Rahael masih sibuk di kamar mandi saat Twin terdengar menangis.


"Rahael, Twin menangis," panggil Galang.


"Sebentar tinggal sedikit lagi," jawab Rahael dari kamar mandi. Galang langsung keluar dari kamar, Galang melihat Twin sedang menangis.


"Rahan, Rayhan," panggil Galang. Mereka yang Galang panggil langsung menengok ke arah Galang sembari tersenyum.


"Aduh! Kangen sama Bapak? Sini-sini,


turunkan saja Bi, biar jalan," pinta Galang.


"Melihat keduanya berjalan berebut untuk sampai di depan Galang, seketika membuat Galang geli.


Rahan yang tiba duluan langsung memeluk, Rayhan yang terkesan kalem datang terakhir juga ikut memeluk. "Hm ... pinternya anak Bapak," sembari Galang mencium pipi gembul mereka secara bergantian."


Melihat Rahael sudah keluar dari kamar.


"Mas mandi gih, saat melepas Rayhan menangis. Bapak mandi dulu nanti gendong lagi," sambil Galang mengusel uselkan wajahnya di pipi gembul Rayhan dan bergantian begitu juga untuk Rahan.


"Ayo, anak Ibu mandi dulu," suara Rahael saat Galang sudah memasuki kamar.


Bapak yang melihat interaksi ini tersenyum dan melihatkan giginya yang mulai nampak ada lubang di tengahnya.


Sarapan pagi seperti biasa berkumpul dalam satu meja makan dan Twin masih duduk di bangku khusus untuk bayi yang baru belajar makan.


Belepotan sana sini membuat duo Nenek dan Bapak tertawa terpingkal-pingkal. Tangan mertua pun mulai belajar di lepas dan sesekali di gendong lagi.


Di tengah sarapan pagi, Bi Nina datang dengan tergopoh-gopoh menghampir ruang makan. Melihat Bi Nina datang dengan tergopoh membuat Galang dan lainnya menatap heran

__ADS_1


"Kenapa Bi? Ada apa?" tanya Galang heran.


__ADS_2