
Perjalanan terasa lambat membawa Twin membuat Galang lebih berhati-hati, Bi Narmi dan Rahael yang di belakang terus merapal doa.
Twin yang kadang rewel dan merengek membuat Galang harus bolak balik berhenti untuk menenangkan. Hingga akhirnya Galang berhenti di masjid untuk meregangkan otot sembari sholat bergantian dengan Rahael dan Bi Narmi.
Sambil sesekali menelfon Ibu untuk mencari kabar, tetapi selalu tidak aktif. Pikiran Galang kian kemana-mana, beruntung saat ini sudah dekat berada di kota S masih daerah kabupaten kota M.
Berangsur lega saat mulai melewati jalan depan rumah, saat tiba di rumah pagar tertutup rapat dan lampu padam.
Penasaran tentu. Akhirnya begitu mobil Galang masuk garasi, keluar ibu-ibu setengah baya. "Mas Galang!" ucap Ibu ini sembari tersenyum.
"Ibu dan yang lainnya mana Bu? Kok sepi."
"Mas. masuk dulu, nanti saya jelaskan."
Galang memasuki rumah dengan suasana hening dan itu membuat Galang berpikiran aneh-aneh.
"Bu ... panggil Galang."
"Duduk dulu Mas, Sebenarnya Ibu dan Bapak dalam keadaan baik-baik saja. Tetapi karena kecelakaan yang di alami membuat Ibu, membuat bapak terkejut, Ibu Jum mrngalami sedikit luka memar serta lecet-lecet dan sementara Ibu Rahayu ... "
"Kenapa Ibu, Bu kenapa?" tanya Rahael, kini air matanya sudah luruh.
"Jangan berburuk sangka Mbak, Ibu baik hanya mengalami patah tulang."
Mendengar cerita ini seketika Rahael ambruk Rahan yang di gendongnya pun ikut terjatuh dan menimpa tubuh Rahael.
Lebih baik Mas istirahat besok baru bisa di jenguk dan sebaiknya kita tolong Mbaknya
kasian ini dedeknya juga butuh istirahat.
"Bi. Tolong Rahael dan Twin, saya pergi sebentar. Bu, mereka di rawat di rumah sakit mana?"
__ADS_1
"Rumah sakit L, Mas. Ruang paviliun M, blok 2 Mas."
Hati Galang yang terus merasa was-was sedari tadi, akhirnya dengan tak sabar.
"Bu. Titip istri dan anak-anak, Bi. begitu ibu siuman tolong telfon saya," pinta Galang sembari berlalu pergi.
"Baik Pak," jawab Bi Narmi.
Semua pikiran Galang berkecamuk, dua orang tua dan mertua. " Ya Allah ... "
Bergegas Galang memacu mobilnya menuju rumah sakit, lumayan dekat kisaran lima belas menit dari rumah.
Sampai di rumah sakit, Galang berjalan tergesa melihat jam masih pukul sembilan malam masih bisa masuk pikir Galang.
mencari paviliun Melati blok dua, begitu pintu Galang buka, Galang melihat dua wanita sedang duduk mengawasi Ibu dan Bapak.
Galang mendekat menatap wajah tua mereka, ada beribu-ribu penyesalan menyeruak dalam hati Galang seketika.
"Mbak istirahat dulu, maaf saya baru tiba."
"Tapi sudah malam Mbak !" ucap Galang.
"Nggak papa Mas, rumah saya dekat sini tinggal melangkah saja," jawab salah satu Mbaknya.
"Terus bagaimana pembayarannya?" tanya Galang bingung.
"Mas jangan kuatir, Bu Nina sudah membayarnya, maaf saya harus pulang sebelum pintunya di tutup."
"Terima kasih Mbak," ucap Galang sebelum dua Mbak ini pulang.
Mendengar suara Galang berbicara Bapak tiba-_ tiba terbangun. Melihatku dan tersenyum.
__ADS_1
"Kapan datangnya Lang? Mana anak dan istrimu?" tanya Bapak.
"Rahael dan anak-anak di rumah Pak,
kasihan capek, biar besok saja mereka datang."
"Maaf kan Galang Pak! Galang terlalu sibuk hingga lupa dengan orang tua."
Bapak hanya tersenyum. Nggak apa-apa hanya begini saja."
Melihat Ibu dan Bu Rahayu juga terbangun. Bergegas Galang mencium punggung tangannya. "Maafkan Galang Bu, ucap Galang.
Mereka tersenyum. "Mana istri dan anak-anak
Lang?"
Tak berapa lama ponsel Galang berdering.
"Mas! Rahael ada di depan cepet jemput."
"Siapa Lang?" tanya dua Ibu bersamaan.
"Rahael, sama anak-anak," ucap Galang.
Mendengar ucapan Galang mereka serempak bangun. "Eee, aduh Bu! Ingat masih sakit."
Mereka serentak kembali berbaring.
Sebentar Bu saya kedepan dulu.
"Aduh! Rahael ini," ucap Galang sambil berjalan keluar.
__ADS_1
Nampak Bi Narmi dan Rahael di ujung jalan.
"Kenapa datang sekarang Rahael, kalau begini bikin Galang mumet. Nek ngene iki.