Rahael

Rahael
Bab 113. Perkenalan Eyang Panji


__ADS_3

Bab 113. Perkenalan Eyang Panji


Setelah menyelesaikan makan siang dengan heboh, akhirnya Rahan dan yang lainnya mengunjungi rumah Eyang Panji


Eyang Rahayu dan Eyang Jum, memilih tinggal di rumah menggunakan dua mobil akhirnya mereka tiba juga di rumah Eyang saat itu selepas maghrib.


setelah melakukan shalat maghrib secara berjamaah kini mereka berkumpul di ruang tengah memeluk satu persatu cucu kesayangan mereka.


Ais memundurkan diri saat Eyang Panji ingin memeluknya dan lebih memilih memeluk Eyang Widia lebih dulu, melihat itu e


Eyang Panji hanya tersenyum dan semakin memeluk Rahan erat, "Eyang suka dengan calon cucu mantu Eyang," ujar Eyang sembari berbisik.


Tak banyak yang Bapak dan Ibu ucapkan yang pada intinya mereka mengenalkan dua cucu mantu mereka dan ada rencana yamg mereka bicarakan secara rahasia.


" Galang apa ini berlaku untuk Rayhan juga," ujar Kakek seketika.


"Enggak masalah Eyang, umur mereka juga sudah sama-sama dewasa, kalau Rayhan siap ayo," ucap Mas Galang.


"Penghasilan dari Toko yang Rayhan pegang juga bisa mencukupi kehidupan mereka," tutur Galang pelan.


"Maaf, Eyang ini tentang amplop yang Eyang berikan waktu itu, apa bisa kami buka?"


Seketika wajah Eyang Panji terkejut, "lho! kenapa belum di buka Galang? tanya Eyang Panji.


"Rahan dan Rayhan menunggu mereka siap.


Rencana sih besok Eyang," ucap Galang dan Rahael bersamaan.


"Ya, sudah besok saya akan datang dan sebagai saksi dan untuk memperkuat apa yang Eyang berikan, Eyang akan bawa pengacara Galang," ujar Eyang Panji lagi.


" Jadi ...."


"Maaf, kami belum membukannya sama sekali dan pemberian yang dari Silvi juga," ucap Rahael.


Mendengar itu Eyang Panji hanya tersenyum sembari menatap kami lekat.


"Di sini yang seharusnya minta maaf kami, Galang, Rahael," ujar Eyang Panji lirih.


Merasa malam makin larut, Galang langsung melihat jam, "maaf, Eyang sudah malam, kami bawa anak orang biar Rayhan mengantar Naya dan yang lainnya dengan kami," ujar Galang menjelaskan.


"Kami pamit sampai ketemu besok Eyang," ujar Galang.


Berjalan hingga ruang tengah anak-anak masih terdengar ramai.


"Twin dan kalian pamit dan salim," ucap Galang memberi perintah.


Dengan berbaris mereka berpamitan satu persatu, Eyang Widia tersenyum tiada henti melihat ini dan Eyang panji kini memandang kami dengan haru.

__ADS_1


"Hati-hati!" ucap Eyang saat kami memasuki mobil dan melajunya dengan tenang. Menempuh perjalan sekitar dua puluh menit akhirnya sampai di rumah, menuju kamar masing-masing Twin Al langsung mengajak kak Ais.


"Kakak tidur di kamar Twin Al saja," ujar mereka sembari menggandeng tangan Kak Ais sementara Rahan yang melihat sikap sigap dari adiknya hanya bisa tersenyum kecut. Hingga tatapan Rahan di kejurkan oleh kedatangan Rayhan, Rahan dan Rayhan kini memilih untuk masuk dalam kamarnya.


Sudah satu tahun mereja jarang bertemu, Rahan dan Rayhan langsung merebahkan diri di ranjang dengan menatap langit-langit kamar, "Rayhan bagaimana hubunganmu dengan Naya?" tanya Rahan tiba-tiba sembari melihat Rayhan.


Rayhan seketika memgibah posisi badanya, "maksud Kakak?" tanya Rayhan.


"Kamu menjalani dengan serius atau bagaimana Rayhan?" tanya Rahan.


"Masih sama-sama kuliah, Mas," ujar Rayhan sembari mengubah posisi badannya lagi.


Melihat reaksi Rayhan, Rahan hanya bisa menghela napasnya, "terus mau kau bawa kemana hubungan kalian? Kak Rahan lihat gaya pacaran kamu Rayhan!" ujar Rahan pelan.


" Rayhan cewek itu juga anak orang, kamu main peluk-peluk begitu saja, ingat Twin Al, adik kita, Rayhan adik kita juga cewek," tutur Rahan lagi.


Sejenak Rayhan terdiam mendengar ucapan Kakaknya, sesaat Rayhan hanya menghela napasnya.


" Terus kalau kakak dan Kak Ais?" tanya Rayhan pelan.


Rahan kini tersenyum dan melihat Rayhan lekat, "Kakak dengan Ais, dari awal memang serius, Kakak tak ingin mempermainkan Ais," ujar Rahan.


Rayhan seakan penasaran dengan ucapan Kakaknya, "memang gaya pacaran kakak, seperti apa?" tanya Rayhan tak percaya.


Rahan seketika tertawa mendengar pertanyaan Rayhan, "sejak awal, Kakak dan Ais sudah setuju tak ada sentuhan, pelukan apalagi ciuman, Kakak menerima dan menghormati keputusan Ais," tutur Rahan.


"Ya, kami tak perlu melakukan hal-hal aneh, karena Kakaj menatap Ais dengan cinta dan menunjukkan dengan perbuatan Kakak. Kakak yakin Ais tahu itu."


"Yakin, enggak pernah pegang?"


Rayhan, langsung menatap heran saat melihat Kakaknya menggeleng.


"Rayhan, jika kau sudah mantap buruan halalin takut jika nanti terjadi sesuatu yang orang tua kita tidak inginkan, lagipula nanti kalau sudah halal mau melakukan apa saja juga boleh dan lagi enggak ada resiko," tutur Rahan


Rayhan kembali terdiam sekelumit percakapan dua laki-laki dewasa sebelum mereka terlelap tidur di alam mimpi mereka.


Setelah percakapan Rayhan dengan kakaknya pagi ini Rayhan banyak termenung dan diam,


melihat kak Rahan sudah keluar lebih dulu membuatnya sedikit tenang. Rayhan kini berjalan menuju kamar Bapak dan Ibunya mengetuk pintu kamar mereka beberapa saat, begitu pintu kamar di buka Rayhan langsung menerobos masuk. Melihat Bapaknya masih belum bangun Rayhan langsung tidur di sebelahnya, sang ibu yang masih berdiri, makin kebingungan melihat sikap Rayhan. Namun, Rayhan kini juga menarik Ibunya untuk tidur di sisinya.


"Ada apa Rayhan?" tanya Ibu lirih.


"Sebentar biar Bapak bangun dulu," jawab Rayhan. Galang yang merasa terusik dengan percakapan Rayhan dengan Ibunya akhirnya terbangun juga. Galang yang terjejut meligat Rayhan tidur di tengah-tengah mereka seketika menatap dengan heran.


"Kok tumben Rayhan?" tanya Galang, Rayhan yang di tanya hanya diam dan kemudian memeluk Bapaknya erat.


"Eh, ada apa Rayhan?" tanya sang Ibu yang bingung.

__ADS_1


"Pak. Bapak, enggak marah kan?"


"Marah? Memang Bapak harus marah kenapa Rayhan?" tanya Galang heran.


"Rayhan. Rayhan, em ... Rayhan sudah mantap dan ingin menghalalkan Naya," ucap Rayhan pelan sembari memeluk Bapaknya.


Galang dan Rahael yang mendengar ucapan Rayhan langsung tertawa tergelak, sembari mengusap anak lelakinya Galang bangun dari tidurnya, "Rayhan pingin menikah?"


"Ayo, Bapak dan Ibu siap! Kapanpun Rayhan mau," jawab Galang sembari memeluk Rayhan. "Hm ... anak Bapak sudah dewasa!"


Galang langsung mencoel Rahael, "coba lihat anak kita, ternyata Rayhan ada maunya!"


Seketika Ibu bergantian memeluk Rayhan dan mengusap rambut Rayhan, "sampaikan kabar bahagia ini ke keluarga Naya mumpung adik dan kakakmu datang nanti kita bergantian datang ke kota S," ucap Ibu sembari mengecup pucuk kepala Rayhan.


"Sudah mandi sana! Jangan buka Toko Rayhan di rumah saja untuk sehari ini jangan kemana-mana," tutur Ibu.


Rahyan segera beringsut turun dari ranjang dengan wajah bahagia hingga langkah Rayhan belum juga mencapai pintu saat Ibu memanggil kembali. "Rayhan, tolong panggil Kak Rahan untuk menemui Ibu."


Rayhan langsung mengangguk menghiyakan dan tersenyum. Selepas Rayhan keluar, Mas Galang duduk bersila di atas ranjang, "Rayhan-Rayhan, anak itu punya cara yang unik untuk menyampaikan maksudnya," guman Mas Galang dan setelahnya turun dan masuk kamar mandi.


Setelah beberapa saat Mas Galang sudah berganti baju terdengar pintu di ketuk lagi


"Masuk Rahan," seru Ibu dari dalam kamar.


"Rahan, nanti jangan ke mana-mana untuk sehari ini saja ada urusan yang harus di selesaikan," ucap Ibu dan Bapak.


"Penting kah Bu!"


"Hm, nanti Rahan tau sendiri jawabanya."


"Ayo-ayo, sarapan kasihan Eyang dan yang lainnya sudah menunggu," ucap Ibu.


Selesai sarapan Rahan dan Rayhan hanya duduk di ruang tengah. "Twin, ajak kak Ais jalan-jalan, biar di antar Mang Juned," ucap Ibu.


Mendengar itu Rahan langsung berdiri, "biar Rahan saja Buu yang mengantar," ucap Rahan menawarkan diri.


"Sudah, biar Mang Juned ada hal yang lebih penting yang harus di selesaikan," ujar Ibu lagi.


Tak berapa lama Rahan melihat mereka sudah bersiap, Rahan langsung menatap Ais, Ais yang sadar akan ucapan Rahan langsung menjawab, "cuma sebentar Kak dan itu juga perintah dari Ibu, janji Ais enggak bakalan nakal."


"Twin, jaga kakak kalian nanti jika urusan kakak selasai kakak menyusul dan jaga Kak Ais, Kak Ais belum tahu kota ini," tutur Rahan khawatir.


Mendengar ucapan Rahan Ibu langsung tertawa, "Rahan, mereka itu main ke rumah Naya," ucap Ibu seketika.


"Hiya, Ibu! Tetap nanti Rahan yang menyusul, Ais nanti duduk di kursi belakang jangan dekat Mang Juned," ujar Rahan.


Melihat percakapan ini Rayhan sadar hanya dengan menatap saja kak Ais sudah paham akan maksud kak Rahan. Rayhan sadar tanpa menyentuh kak Rahan sudah bisa membuat kak Ais menurut, "ayo kak, kita berangkat," ucap Twin sembari berpamitan pada Ibu mereka.

__ADS_1


"Kak Ais berangkat," pamit Ais sembari menunduk.


__ADS_2