
BAB 19. Perjanjian (masih tentang Galang)
Galang Flashback on
Sore hari, ketika Bu Rahayu sudah datang Bapak langsung memanggil, entalah kenapa tiba-tiba Galang merasa gemetar, Galang melangkah menuju ruang tengah, netra Galang secara reflek melirik kamar atas, "sepi," batin Galang.
Perlahan Galang mengetuk pintu ruang kerja Bu Rahayu, "masuk Lang! suara Bu Rahayu tiba-tiba mengejutkan, "kalau mencari Rahael seperti biasa dia di kamar jarang keluar kalau enggak makan Lang," ujar Bu Rahayu.
"Lang. Bapak sama ibu sekalian panggil kesini juga," pinta Bu Rahayu.
Sedikit berjalan tergopoh Galang memanggil, bersama-sama kami masuk ke ruang kerja Bu Rahayu.
"Mang, Bi. Silahkan duduk," pinta Bu Rahayu, "kau juga Lang," seru Bu Rahayu.
__ADS_1
Setelah kami duduk hampir sepuluh menit berlalu, tak ada kata-kata yang keluar dari bibir kami hingga Bu Rahayu yang mengawali percakapan ini. "Gimana Bu?" tanya Bu Rahayu sembari menatap lekat ke arah Galang.
"Mang, Bi dan kau juga Lang, bukan maksud saya untuk mengambing hitam kan atas semua yang Rahael hadapi pada kalian, sungguh sebenarnya saya malu dan balasan apa yang saya akan saya berikan nanti, tetapi melihat keadaan Rahael yang seperti itu mau tidak mau saya harus menerima pertolongan kalian, sebelumnya saya pribadi juga meminta maaf pada kalian."
Di pandangnya Galang sekali lagi nampak muram, "Lang apa kau ikhlas membantu Rahael?" tanya Bu Rahayu lirih. "Ya Bu," jawab Galang cepat.
"Jika kau ikhlas Lang, saya hanya ingin ada satu persyaratan untuk kalian berdua."
"Tolong satu saja, meskipun kalian nantinya nikah sah tolong jangan tidur sekamar dulu mengingat keadaan Rahael saat ini. Terima kasih karena sudah mau menjadi penutup aib Rahael dan ayah bagi cucuku nanti."
Bapak menepuk pundakku, sembari tersenyum," terima kasih Lang," ucapnya dan bergegas melangkah kan kaki keluar.
Galang flashback off
__ADS_1
Galang sesaat tersenyum, mengingat kejadian seminggu lalu hingga tepukan di bahunya membuat Galang terkejut.
"Jadi berangkat atau masih ingin tinggal di sini," tutur Ibu memberi tahu.
"Berangkat Bu, nanti selepas isya saja. karena besok Galang harus langsung ke Kampus tutur Galang lirih sembari memeluk Ibunya.
"Lang. Terima kasih, Ibu beruntung memiliki anak sebaik dan setampan ini, Ibu senang jika Galang bisa menilai mana yang bsik dan buruk," ujar Ibu sembari menepuk bahunya berulangkali sebelum beranjak pergi.
"Istirahat Lang. Nanti perjalanan juga jauh," ucap ibu sembari turun.
Galang masih menatap Ibunya, sesaat senyum Galang tersimpul, "Ibu hebat, Galang bangga pada Ibu," guman Galang lirih sembari mekangkah masuk dalam kamar.
Galang memikih berkemas dan bersiap sebelum membaringkan tubuhnya di ranjang, tetapi belum juga Galang terlelap suara Rahael muntah dan terdengar sering membuat Galang memilih untuk duduk.
__ADS_1
Ada rasa trenyuh di hati Galang. Perasaan simpati tang tiba-tiba muncul yang tak lama berubah menjadi rasa iba yang saat mendengar Rahael beberapa kali muntah.
Tak lama terdengar suara Ibunya tengah berbicara dengan Rahael dan itu terdengar samar-samar di kamar Galang. Ada rasa ingin tahu yang tiba-tiba muncul di hati Galang tetapi semua Galang urungkan saat mengingat perjanjian Galang dan Bu Rahayu.