Rahael

Rahael
Bab 54. Telepon Siang Hari


__ADS_3

Bab 54. Telepon Siang Hari


Pagi ini tidak seperti pagi biasanya sejak bangun tidur Twin sudah mulai rewel menangis tak jelas hingga Rahael ikut bingung. Mereka rewel dan menagis secara bergantian, jika Rahan berhenti menangis kini Rayhan yang mulai rewel .


"Bi, badanya enggak panas, kenapa ya? Mereka kok rewel terus. Bi, tolong periksa Rahan dan saya akan periksa Rayhan, siapa tahu ada yang ruam atau ada binatang yang mengigit," ucap Rahael cemas.


Sudah hampir tengah hari Twin rewel. Mendengar dua anaknya rewel, Mas Galang yang berada di bawah bergegas naik keatas.


"Kenapa Rahael, tangis mereka tumben sampai terdengar di bawah."


"Mana Twin?" tanya Galang ikut cemas.


"Barusan tidur Mas, mungkin capek menangis," jawab Rahael.


Galang bergegas ke kamar melihat Twin. "Badanya panas nggak Bi?" tanya Galang.


"Enggak Pak! Sudah saya periksa sama Ibu, apa enggak di bawa ke Dokter saja Pak!" ucap Bi Narmi.


Mendengar ucapan Bi Narmi, Galang lantas menoleh ke arah Rahael.


"Rahael, apa enggak kita bawa ke Dokter saja."


"Ya Mas, nanti Rahael sama Bibi saja yang ngantar kalau Mas repot," ucap Rahael.


"Enggak Rahael, nanti sama Mas saja."


Galang melihat toko masih ramai saat berangkat ke Dokter anak terdekat, hampir sepuluh menit perjalanan akhirnya kami sampai.


"Bi, bantu pegang Rayhan ya?" Pinta Rahael saat turun dari mobil.


Mas Galang dengan sigapnya, mendaftar di bagian administrasi dan mencarikan kami tempat duduk. Suasana agak ramai dan harus mengantri mungkin lima orang pasien setelahnya kami.


Saat memasuki ruang periksa Rayhan mulai menangis lagi, kini makin menjadi dan terisak-isak. Galang dan Rahael bergantian berusaha untuk menenangkannya.


Dokter silo tersenyum, melihat Twin beberapa saat. Kemudian meminta kami untuk merebahkan Twin di ranjang yang tersedia, dengan telaten dan sabar, Dokter Silo memeriksa Twin. Setelah pemeriksaan, Dokter Silo tersenyum semua baik-baik saja, mereka mungkin agak merasa sedikit cemas Bu, Pak," jawab Dokter Silo.


"Saya tidak memberikan resep, tapi saat ini putra Ibu dan Bapak memang baik-baik saja."

__ADS_1


Mendengar keterangan dari Dokter kami sedikit lega setelah semuanya selesai, kami berdua berpamitan.


"Terima kasih, Dok," ucap Galang sembari berjabat tangan.


Kami bergegas keluar dari ruang periksa.


Belum sampai di luar ruang Dokter, tiba-tiba telfon Mas Galang berbunyi. Menyerahkan Rayhan ke Bi Narmi, kemudian Mas Galang mengulir ponselnya dan menekan tombol hijau.


"Assalammualaikum wr, wb."


"Piye, Nak kabare?"


(Bagaimana Nak, kabarnya?")


"Alhamdulillah sae, pripun ibu!"


( "Alhamdulillah, baik. Bagaimana Ibu!")


"Apik ...."


("Baik .... ")


("Lang, kalau bisa besuk pulang ya?")


Sebelum panggilan terhenti, terdengar suara ribut klakson mobil saling bersautan.


"Bu ... Bu ... "panggil Galang berulang, tetepi tak ada jawaban dan setelahnya terputus.


Saat panggilan terputus Rahan dan Rayhan kembali rewel, tangisnya kian menjadi.


"Mas ... "panggil Rahael yang kini sudah ikut menangis.


"Cup, cup ... diam ya Nak! jangan menangis," ucap Rahael sembari mengambil air kemasan.


"Bi, tolong masukkan dalam dot masing-masing, siapa tahu bisa mendiamkan


Twin."

__ADS_1


"Bi Narmi pun mengangguk."


Setelah tangisan Twin sedikit reda.


"Siapa, Mas?" tanya Rahael.


"Ibu, Rahael."


"Habis dari sini kita pulang berkemas


kita ke rumah Ibu, setelah Ibu menelfon hati Mas Galang kok enggak enak Rahael. Lagian Rahan dan Rayhan juga rewel terus seharian.


Masuk dalam mobil Galang melihat Twin kembali tertidur dengan dot masing-masing di mulutnya.


"Pelan-pelan saja Mas," pinta Rahael.


Setibanya di rumah kami semua bersiap


anak yang di toko pun kami liburkan hari ini dan esok Galang meminta untuk membuka toko.


"Rin, No dan yang lainnya tolong bantuannya, saya akan ke kota M untuk suatu urusan dan toko ini akan saya percayakan sama kalian, tolong kerjasamanya."


"Rin, No. tolong ikut saya ke atas," pinta Galang.


Begitu sampai ke atas, Galang memberi arahan pada Rini dan Nono meminta bantuan untuk keperluan toko.


"Saya percayakan, toko ini pada kalian," pesan Galang.


Setelah semuanya siap, Galang segera memasukkan semua bawaan ke mobil


Rahan dan Rayhan, saat sudahsedikit lebih tenang.


Melajukan mobil dengan berbagai pikiran membuat Rahael berkali-kali menegur Galang.


"Mas, pelan. Jarak dari rumah itu jauh, ada lima nyawa yang jadi tanggung jawab Mas


pelan ya Mas?" pinta Rahael.

__ADS_1


Galang tersadar sesaat dari lamunan. Lama tak bertemu dengan orang tua dan ibu mertua, hanya bertukar kabar melalui telfon membuat Galang sedikit tercubit hatinya.


Malu, itulah saat ini yang Galang rasakan, seakan terkesan mengabaikan.


__ADS_2