Rahael

Rahael
BAB 41. MODUSNYA GALANG 2


__ADS_3

Setelah semalam begadang. Masih pagi Galang melihat Rahael menangis.


"Kok nangis?" tanya Galang sambil mendekat.


"***** Rahael sakit Mas," ucap Rahael sambil membuka kancing baju nya.


"Lihat ujungnya perih."


"Glek!!" seketika Galang menelan ludahnya, mendapat tontonan buah mentega di pagi hari, membuat otak Galang seketika oleng sesaat.


Galang tersenyum. Terbersit di pikirannya. Untuk menyembuhkan oleng Galang, saat ini biar Galang modusin saja.


"Semoga berhasil," guman lirih Galang.


"Coba lihat?" tanya Galang sembari mendekat. .


"Ya sudah! Nanti beli pompa susu, sekarang Mas obati dulu! Seperti yang Ibu bilang mau!!"


Rahael langsung mengangguk. "Kata ibu ini sedikit sakit. Tapi kalau sudah di obati nanti nggak sakit," ucap Galang meyakinkan.


"Yakin Rahael?" tanya Galang.


Galang memegang buah mentega nya. Awalnya Rahael menolak.


"Mau sembuh nggak?" tanya Galang.


"Sini!" sembari menarik tubuh Rahael mendekat.


Galang menundukkan kepalanya.


Pada awalnya Galang ingin ngelakuin dengan lembut, tetapi kenapa jadi nafsu ikut-ikutan pikir Galang. Mentangkup buah mentega Rahael. ******* secara lembut, Galang menggerakkan bibir dan lidahnya layaknya twin menyusu kanan kiri bergantian. Keterusan, kini sangkuriang kecil Galang pun ikut berontak. Rahael yang awalnya protes kini diam ikut menikmati. Galang menghentikan saat sangkuriang kecilnya memuntahkan lava di celana.


'Aduh!! kenapa bisa keblabasan batin Galang.


"Mas, mandi dulu Rahael," ucap Galang sembari membawa baju ganti,setelah beberapa saat selesai mandi.


"Nggak mandi Rahael. Cepet gih mumpung twin belum bangun."


"Eee, hiya," jawabnya.

__ADS_1


"Kok melamun Rahael?" tanya Galang.


"Mas! Akhirnya Rahael baru sadar. Apa? Hm ... Mas ini aneh ngobati ***** Rahael kok kayak begitu?" ucap Rahael sembari memukul lengan Galang dan berlalu kekamar mandi.


Galang hanya tersenyum mengingat tingkahnya tadi. Akhirnya setelah sepuluh bulan. Aku bisa menyentuhnya tanpa merasa menyakitinya.


Melihat twin mulai menggeliat dari wajahnya yang merah dan tak menunggu lama.


"Ya ... nangis bebarengan," ucap Galang bingung.


"Rahael, agak cepat sedikit. Nih Twin mulai menangis," ucap Galang.


"Sebentar Mas, tinggal pake baju tolong di puk, puk atau gendong salah satunya," teriak Rahael dari kamar mandi.


Setelah beberapa menit, Rahael keluar dari kamar mandi.


"Sini Mas, bawa kesini ! Biar Rahael nenenin, kayak kemarin Mas bantuin megang," ujar Rahael.


Setelah mengatakan maksudnya, Rahael menatap Galang dengan heran, saat melihat Galang tersenyum.


"Mas dari tadi senyum-senyum dapat lotre?" tanya Rahael.


"Gimana masih sakit?" tanya Galang tiba-tiba.


"Sudah agak mendingan nggak sakit tinggal perihnya," jawab Rahael.


"Mau di obati lagi?" tanya Galang memastikan.


"Ihh, Mas Suga maunya, kok Mas Galang kesannya kayak modus," ucap Rahael.


Melihat sudah pukul sepuluh pagi.


Suster datang untuk pemeriksaan terakhir kalinya.


"Semuanya sehat, Pak tolong ke ruang administrasi, untuk menyelesaikan pembayaran dan yang lain-lainya setelah itu Ibu dan dedek Twins bisa pulang," jelas Suster.


"Terima kasih Sus," jawab Galang.


Setelah mendapat informasi dari Suster tadi Galang menuju ke bagian administrasi. Cukup memakan waktu yang lama karena antrian yang cukup panjang.

__ADS_1


"Lang!!" panggil Bapak tiba-tiba dan sudah berjalan di belakang Galang.


"Eee, Bapak!" jawab Galang terkejut.


"Ayo, mereka sudah menunggu di mobil," ujar Bapak sembari merangkul bahu Galang.


"Terima kasih Pak," ucap Galang.


Perjalanan pulang, Tak perlu waktu lama, hingga sesampainya di ruko.


"Karyawan Galang yang terkejut dengan kedatangan Twin membuat mereka berebut untuk melihat Twin.


"Aduh. Pak, cakep bener," ucap Rin.


Galang hanya tersenyum mendengar ucapan Rin.


"Mau Rin? Buruan nikah sama No," ucap Galang sembari tersenyum.


"Na, Bapak larinya kok ke situ? saya kan memuji Twin?" gerutu Rin pelan.


Galang bergegas naik saat melihat Ibu dan Rahael sudah berada di atas.


Sesampainya di atas, Galang melihat kedua Ibu telah mendapat bagian masing-masing.


serasa mendapat mainan baru, kedua bayi Twin tak pernah lepas dari pangkuan mereka.


Bapak lebih asyik turun ke bawah walau sesekali mencuri kesempatan untuk menggendong .


"Sudah Bu, jangan di gendong terus kasihan Rahael, nanti kalau sudah sendirian," ucap Galang.


"Mumpung Ibu ambil cuti, Lang!" Nanti kalau sudah sibuk di kampus bakalan lama kesini nya.


Ibu dan bapak hanya tersenyum.


"Memang kami saja, Bapak juga tahu kalau kamu juga sering-sering gendong."


Galang hanya tersenyum menanggapinya.


Hening beberapa saat. "Rahael. Apa sebaiknya kalian pulang ke kota M saja, supaya Ibu dan Bapak bisa bantu mengawasinya," tawar Ibu jum.

__ADS_1


"Rahael, sih tergantung Mas Galang Bu!"


__ADS_2