Rahael

Rahael
Bab 123. Periksa


__ADS_3

Bab 123. Periksa


Galang sepagi ini di buat pusing oleh Rahael, anak-anaknya pun tak habis pikir dengan sikap ibunya.


Begitu memasuki kamar, "Mas jangan lupa,


belum selesai Rahael berbicara Galang langsung menangkup wajah Rahael dengan dua tangannya, Galang langsung mencium bibir Rahael, "bawelnya," ujar Galang yang tak hanya mengecup dan sedikit memberi kecupan yang menuntut.


Setelah beberapa detik dengan napas yang sedikit terengah engah, "ih ... Mas Galang mesti begitu," ujar Rahael sembari mengusap bibirnya.


"Tuh kan, lipstik Rahael jadi berantakan," ujar Rahael marah.


"Itu hukumannya kalau kamu masih bawel,


kepala Mas jadi pusing Rahael," ucap Galang.


Mendengar seperti itu Rahael langsung tersenyum, "maaf! Rahael juga enggak sadar," ucap Rahael sembari sesaat memberi kecupan lagi.


"Rahael, jangan menggoda," ucap Galang sembari mendekat.


"Mas dulu yang mulai, ayo Mas, kasihan anak- anak," ujar Rahael sembari membetulkan lipstiknya yang belepotan.


Keluar kamar berdua dengan senyum mengembang, "Eyang kok enggak ikut?" tanya Rahael.


"Eyang di Ruko saja, capek."


Setelah bersiap-siap mereka berangkat semua sudah memasuki mobil saat Rini dan Nono datang.


"Rini, ayo ikut," ajak Rahael.


"Sudah, biar nitip Ais saja Bu," ujar Rini sembari masuk ke Ruko.


Setelah sampai di pondok, mereka langsung turun dan mengantar anak-anak, Naya sedikit terkejut dengan keadaan pondok.


"Tau begini Bang, Naya ikut mondok," ujar Naya.


Rayhan langsung menjitak kening Naya,


"jangan macam-macam Naya, bisa-bisa Abang melanggar janji, biar besok langsung di halalkan sama Bapak," ujar Rayhan lirih sembari menatap Naya tajam.


Mendengar itu Naya langsung tersenyum,


"Naya, cuma satu macam, sama Bang Rayhan saja," ujar Naya.


Mendengar jawaban Naya, mau tidak mau Rayhan akhirnya tertawa, Ibu dan Bapak yang melihat itu langsung melotot.


"Rayhan ini di pondok," ujar Ibu dengan suara sedikit pelan, tak berapa lama ibu sudah terlihat keluar dari kamar Twin.


Sedang Kak Rahan masih berdiri di gerbang pondok bersama Ais, tak berapa lama kak Rahan menjauh dari gerbang dan menuju ke arah kami. Perjalanan ke Ruko di lewati dengan lancar hingga sampai di Ruko keadaan masih sepi. Kami memasuki Ruko dan langsung ke atas.


"Eyang Panji nampak semangat melihat kesibukan di bawah melalui kaca pembatas

__ADS_1


dan kadang-kadang senyumnya tersimpul.


Melihat itu Rahan mendekat dan tersenyum


Eyang panji yang merasa ada seseorang di sampingnya tersenyum, kamu kerasan Rahan di sini?" tanya Eyang Panji.


"Kerasanlah, Rahan ketemu jodoh di sini dan ini adalah Ruko rintisan Bapak, Eyang. Rahan hanya ingin menjaganya dan membuatnya semakin maju," ujar Rahan sembari berdiri di sisi Eyangnya.


"Eyang bangga padamu, Rahan. Apa rencanamu setelah menikah?" tanya Eyang Panji. "Rahan hanya ingin tinggal di sini bersama Ais, Eyang."


Perbincangan antara cucu dan Eyang yang semakin lama semakin serius membuat Galang yang berada di ruang tengah sedikit menoleh dan sedikit mendekat.


"Sama saja dengan Mawan," ucap batin Galang dan beranjak ke dapur membuat kopi.


"Rahael," panggil Galang saat melihat istrinya sedang makan dengan porsi jumbo."


"Mas, kok geli Rhael, melihat kamu makan seperti ini," ujar Galang sembari menyeduh kopinya.


Rahael hanya tersenyum sembari menyuap sesendok penuh nasi dan sayur.


"Pulang besok pagi ya Mas," ujar Rahael dengan mulut penuhnya.


"Telan dulu Rahael, aduh!Mas, kok jadi aneh meliat kamu begini? Ke Dokter yuk," ajak Galang.


Rahael tak menjawab karena sibuk menelan makanannya, sebentar, Di rumah saja Mas, Ra hael enggak pingin disini," ucap Rahael.


Galang hanya memandang sembari menyesap kopinya sesaat kemudian mendekati istrinya, "Rahael, kamu enggak hamil kan?" tanya Galang.


"Ingat-ingat, Rahael," ucap Galang lagi.


"Waduh. Rahael juga enggak inget Mas, pernah dua kali Rahael lupa enggak minum Mas, tetapi sekarang Rahael masih minum.


"Kalau begini Mas cuma bisa pasrah Rahael,


tetapi enggak apa-apa, Mas seneng," jawab Galang sembari tersenyum.


Sejenak Rahael melepaskan sendoknya,


"Mas, kalau bener Rahael hamil, Rahael kan malu sama anak-anak," ucap Rahael sembari berdiri.


"Kok. enggak di habiskan Rahael, tinggal sesendok, sini," ujar Galang kini sudah siap menyuapi.


Rahael kembali duduk dan menerima suapan suaminya, "kalau begitu besok pulang Mas," ujar Rahael sambil berdiri dan ke kamar.


Sesuai dengan kesepakatan, masih pagi mereka sudah bersiap. Mobil yang tadinya penuh kini tinggal di isi oleh lima orang.


Sementara mobil Eyang Panji hanya di isi berempat, "Bu nanti Rayhan langsung menginap di rumah Eyang," ucap Rahan sebelum berangkat.


Perjalanan pulang di lalui dengan tenang, Rahael hanya diam saja sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah. Memasuki halaman rumah Pak Juned segera membuka pintu pagar, satu persatu mereka turun. Nampak wajah kelelahan dari mereka semua, "Bi jika masih capek besok saja bersih-bersih istirahat dulu," ucap Eyang Rahayu.


"Eyang, ayo," ujar Rahael sembari menuntun tangan Eyang Jum.

__ADS_1


Memasuki kamar masing-masing , Rahael langsung merebahkan tubuhnya di ranjang


pikiran nya kini tertuju pada pertanyaan suaminya, kini perlahan Rahael berusaha mengingat, "benar hanya dua kali Rahael lupa terlambat minum pilnya," ucap batin Rahael.


Tubuhnya terjingkat saat suaminya menyentuhnya, "kok kaget Rahael?" tanya Galang.


"Mas! Rahael takut kalau beneran hamil," ucapnya lagi.


"Kenapa bingung Rahael, Mas, saja Bapaknya saja mau dan siap juga tambah seneng," ujar Galang sembari menatap lekat Rahael.


Seketika Rahael memeluk suaminya, "maaf ya Mas."


"Hem, enggak apa-apa Rahael, kita masih di percaya untuk di beri rejeki lagi," ucap Galang sembari mencium lembut bibir istrinya.


"Mandi, nanti sore kita mengunjungi Dokter tercinta," ucap Galang sembari menuju kamar mandi.


Rahael belum beranjak juga dari ranjang,


melihat suaminya keluar dari kamar mandi Rahael langsung tersenyum, "kok males Mas," ucap Rahael sembari bangun.


"Atau kita beli test pack dulu Mas," ucap Rahael.


"Sudah kita ke Dokter Sumi saja," ujar Galang sembari mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu.


"Nanti selepas isya Rahael, kita berangkat sekarang Dokter Sumi masih menolong orang melahirankan," ujar Galang.


"Mandi Rahael, terus istirahat," ucap suaminya. Rahael kini bergegas ke kamar mandi tak berapa lama sudah keluar lagi, "berr ... dingi," ucap Rahael sembari naik ke ranjang.


"Rahael mau tidur dulu Mas," ujar Rahael sembari menarik selimut nya.


Galang yang tadinya duduk kini ikut berbaring lalu memeluk Rahael.


Merasa mendapat pelukan Rahael sedikit bergerak dan kemudian tenang dalam pelukan. Sama-sama tertidur, hingga tak terasa adzan maghrib membangunkan mereka.


Rasanya kok masih ngantuk Mas," ucap Rahael. "Bangun Rahael, magriban dulu yuk!"


Entah kenapa kini Rahael lebih suka di suruh biasanya semuanya tanpa perintah. Setelah berwudhu mereka shalat bersama dengan khusuk. Bersiap-siap ke Dokter tercinta dan itu kata Mas Galang sih."


Hanya berdandan seperti biasa saat di rumah tanpa bedak dan lipstik.


Melihat itu Galang tersenyum, "tumben enggak pakai riasan?"


"Males Mas," ucap Rahael lagi.


Berpamitan pada Bi Nina karena kedua Eyang masih di dalam kamar. Berjalan ke halaman menuju mobil yang kami parkir, hanya lima belas menit perjalana masih pukul tujuh kurang sepuluh menit.


Seperti pengunjung yang lainnya kami pun ikut duduk mengantri, tak berapa lama pintu sudah terbuka. Karena sudah menelpon lebih dulu , kami pun di panggil. Menjabat tangan dan setelahnya mempersilahkan kami duduk


"Tumben kalian berdua kemari jangan bilang, Rahael, kamu hamil lagi?"


"Ish, Tante Sumi. mangkanya kami kesini ingin tahu Tante," ucap Rahael.

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban Rahael Dokter Sumi langsung tertawa.


__ADS_2