Rahael

Rahael
Bab 32. Gelisahnya Rahael


__ADS_3

BAB 32 .GELISAHNYA RAHAEL


Malam ini setelah pertemuannya dengan Silvi Rahael terlihat gelisah, sudah jam sebelas malam Rahael tak kunjung terlelap.


"Kok belum tidur bumil," panggil Galang dan yang Galang panggil hanya berbalik dan menggeleng.


Menyandarkan kepala di sandaran ranjang.


"Sini," ucap Galang sembari merengkuh kepala Rahael untuk bersandar di bahunya.


"Mau cerita sama, Mas?"


Rahael hanya menatap sembari tersenyum


"Nggak ada yang penting Mas, Silvi hanya meminta maaf."


"Tapi bumilnya Mas, kok gelisah."


Galang terdiam sesaat.


"Aku takut bila laki-laki itu datang menemui Rahael dan meminta anak ini," ucap Rahael pelan.


Seketika pikiran Galang ambyar, benar juga yang di katakan Rahael.


"Terus terang Mas, jika itu sampai terjadi.


Entah, apa yang bisa Rahael lakukan," ucap Rahael cemas.


Sejenak Galang menatap mata Rahael yang mulai berkaca-kaca.


"Sssttt ... jangan menangis Rahael, ingat pesan Bidan Sumi," ujar Galang sembari memeluk Rahael.


Rahael hanya mengangguk. "Tidur ya?" pinta Galang pada bumil.


"Mau di usap?" tanya Galang. Terlihat Rahael kembali mengangguk.

__ADS_1


Tak berapa lama Galang melihat Rahael sudah terlelap.


Pikiran Galang malam ini sudah kemana mana hingga tak terasa Galang pun sudah tertidur sembari merangkul Rahael.


Pukul tiga pagi Galang terbangun, pandangan Galang kini mendapati Rahael termenung menatap keluar jendela.


Bayangannya yang tidak begitu tinggi dengan perut buncitnya nampak jelas kalau dia tengah memikirkan sesuatu.


"Kenapa?" tanya Galang.


Rahael hanya menggeleng.


"Cerita Rahael, mungkin Mas bisa bantu," sembari mendekap tubuhnya dari bekakang.


"Mas, bantu Rahael keluar dari perasaan takut mas. Jujur saat ini Rahael benar-benar takut," ucap Rahael tersekat.


"Rahael, ada Mas di sini. Jangan takut Mas akan bantu Rahael, semampu Mas dan sebisa Mas. Mas janji akan itu."


Pagi telah bergulir kami tak melanjutkan tidur melakukan shalat tahajud dan menunggu subuh datang .


Pikiran kami benar-benar terasa lelah mendengar adzan subuh Galang membentangkan sajadah, sesaat Rahael mengikuti di belakang. Sesaat kami kembali menyerahkan diri pada sang pencipta dengan harapan esok akan kembali baik.


"Rahael ... panggil Galang, sembari melihat Rahael melepas mukenanya.


"Ya, Mas."


"Mau pangil Ibu sama Bapak kesini? Nemani kamu atau mau lahiran di kota M?" pinta Galang.


Sesaat senyum Rahael kembali mengembang.


"Rahael mau yang nomer satu Mas, kangen sama Ibu dan masakannya."


"Lagian itung-itung nemani Rahael lahiran kayaknya ramai, enak Mas."


Galang terkekeh mendengar ucapan Rahael, kemudian ku toel hidungnya yang agak tertutup pipi tembemnya.

__ADS_1


"Ini baru bumilnya Mas," ucap Galang sembari mencium pipinya, secara reflek Rahael mendorong Galang.


"Ingat janji apa itu, sama ibu," ucap Rahael.


"Ish ... kau itu halal Rahael, enggak apa-apa yang cium juga suami kamu!" Bela Galang karena malu.


"Hm ... istri kecilku," ucap Galang sembari duduk di samping Rahael.


"Eee, kok deket-deket lagi!" teriak Rahael.


Galang semakin geli di buatnya dan semakin ingin menggoda.


"Jangan begitu ... tiap malam itu loh, tidur juga sudah aku rangkul, aku usap, Rahael."


"Sudah, Mas turun ke Toko gih, sudah siang, kasihan anak-anak di bawah," ucap Rahael tersipu sembari mendorong tubuh Galang.


Masih di ujung tangga. "Mas ... nanti Rahael ikut turun ya?" pinta Rahael dan Galang hanya mengangguk menghiyakan.


Inilah kesenangan Galang saat menggoda isteri kecilnya dengan gaya Rahael yang lucu.


Masih jam delapan pagi toko tak begitu ramai di sela-sela kesibukan, Galang melihat orang yang selalu memborong semua oleh-oleh di Toko.


Kini Nono yang sedang melayani laki-laki itu. Memandang sekilas saat dia melepas kaca matanya.


Entalah , saat ini perasaan Galang tiba-tiba was-was dan sekilas pria ini tampak sesekali menoleh ke atas.


Galang beranjak ke atas untuk memberitahu Rahael untuk tidak turun kebawah.


Tetapi belum sampai kaki Galang menginjak anak tangga, Galang melihat Rahael sudah berada di dua anak tangga menuju ke bawah, mengenggam tangannya dengan segera Rahael tersenyum pada Galang.


Di sengaja atau tidak pria itu mengekor


di belakang Galang dan tak begitu jauh.


Galang dan Rahael menuju kasir dan beberapa saat setelah Rahael duduk, laki- laki ini kembali memakai kaca matanya.

__ADS_1


Saat ini hanya berpikiran positif yang Galang punya mengingat dia adalah pelanggan.


Setelah semuanya terbayar lunas pria itu bergegas keluar dengan sedikit tergesa sembari mengikis air


__ADS_2