Rahael

Rahael
Bab 108. Kota S


__ADS_3

Bab 108. Kota S


Twin Al lebih dulu sampai di atas. Ketika kami datang kebetulan Toko lagi ramai. Kak Rahan yang melihat ini langsung mengambil ancang ancang untuk membantu hingga semua barang bawaannya di titipkan pada Rayhan. Rayhan hanya mencebik marah, "ish yang sudah enggak sabar," ujar Rayhan pelan sembari melotot.


Mendengar jawaban Rayhan, Rahan hanya tersenyum sembari mendorong Rayhan ke atas, "Sstt! cepat naik," ujar Rahan mengusir.


Benar ucapan Rayhan, tak berapa lama terlihat Ais yang sudah melayani pembeli, tetapi melihat Bapak masih berbincang dengan Om Nono, Kak Rahan langsung mengurungkan niatnya, sementara Ibu sudah ke atas bersama Bi Narmi.


Bapak hanya tersenyum saat melihat Rahan masih di bawah, hingga Bapak mengakhiri percakapannya dengan Om Nono dan hendak naik ke atas.


"Ayo, Rahan ke atas setelah ini Toko juga Bapak suruh tutup setelah pelanggan terakhir," ujar Bapak sembari menarik tangan Rahan.


Rahan akhirnya, menuruti juga keinginan Bapaknya, memilih berjalan paling akhir sembari sesekali melirik ke arah Ais.


Seketika Rahan mengelus dadanya saat melihat Ais menatapnya sembari tersenyum, "Duh. Jantungku kenapa tiba-tiba bedetak lebih kencang," guman hati Rahan sembari naik ke atas.


"Rahan, Ayo," ajak Bapak lagi.


Sesampainya di atas yang terlihat hanya Bi Narmi yang sedang membereskan ini dan itu,


Twin Al sudah masuk kamar, begitu melangkah menuju dapur, Rahan melihat Rayhan sedang membuat teh.


Kini tinggal Rahan dan Rayhan, melihat Rahan tiba-tiba duduk di sampingnya, Rayhan seketika menaikkan alisnya sembari mencomot sendok bekas mengaduk teh.


Menarik Rayhan sedikit mendekat, "Rayhan, Ais makin kesini makin bening," ujar Rahan berbisik.


"Ya, sudah tembak saja," ujar Rayhan sembari menyesap tehnya.


"Belum lah, mau memastikan dulu, apa Ais suka juga sama Rahan," ujar Rahan.


"Lagipula, kuliah saja belum terlaksana, Kak Rahan, pingin kawin," tutur Rayhan seraya menyesap tehnya lagi.


"Lagipula, Bapak juga bilang kalau sama-sama siap dan suka Bapak mau langsung lamar biar halal pacarannya," ujar Rahan tak mau kalah.


Tanpa sepengetauhan Rahan dan Rayhan, saat mereka bicara ternyata Galang sudah berdiri di belakang mereka.


"Ya, kalau menurut Bapak. Ais biar lulus dulu, kurang setahun juga," ujar Bapak tiba-tiba dan itu mengagetkan Rahan dan Rayhan.


Seketika Rahan berbalik, "ih. Bapak sok tahu," ujar Rahan malu kemudian berdiri dan berlalu ke kamar, belum juga langkah Rahan keluar dari dapur, Bapak langsung menarik lengan Rahan.


"Mau kemana?" tanya Bapak menghentikan langkah Rahan.


"Rahan mau ke kamar Pak!" ujar Rahan pelan.


Rayhan hanya tersenyum meledek dengan puasnya. Kini Bapak mengajak Rahan duduk, Rayhan yang beringsut hendak pergi di tarik Bapak juga, akhirnya kami bertiga duduk berdampingan.


"Bi, tolong buatkan saya kopi dan Rahan teh, kamu Rayhan?" tanya Bapak. Rayhan tak menjawab tetapi menunjukkan teh yang di buatnya belum habis.


Bapak diam sesaat, "bagaimana Rahan positif mau kuliah dan tinggal di sini?" tanya Bapak.

__ADS_1


Rahan hanya mengangguk, "apa tujuan Rahan untuk kuliah di Kota S?" tanya Bapak lagi.


Sesaat Rahan diam hingga beberapa saat kemudian, "kuliah, membantu di Toko," jawab Rahan, tetapi tidak dengan jawaban Rayhan, "hiya Pak, selain tiga jawaban yang di ucapkan Kak Rahan, ada satu jawaban yang masih Kak Rahan sembunyikan, Kak Rahan ingin menjaga jodoh kakak," ucap Rayhan sekenanya.


Mendengar jawaban Rayhan seketika Bapak tersenyum sambil mengusik kepala Rahan, "anak Bapak sudah besar dan dewasa, sudah mengerti cinta," kata Bapak kemudian menyesap kopinya.


"Kira-kira, Rahan tanggung jawab dan bisa di percaya enggak, kalau Bapak merestui?" tanya Bapak. Rahan dan Rayhan langsung saling memandang, "Itu juga berlaku untukmu Rayhan, tetapi Bapak minta mantapkan hati kalian, biar ada seribu godaan tak goyah," ucap Bapak.


"Kalau bisa tunggu sampai kelar kuliah Mas!" ujar Rayhan.


Mendengar ucapan Rayhan Bapak langsung tersenyum, "agh. Bapak juga enggak tahu, jika Kak Rahan juga sudah ngebet pingin menikah, terpaksa nikahin saja biar aman," ujar Bapak sambil berlalu dan membawa kopinya yang belum habis.


Mendengar ucapan Bapak, hati Rahan sedikit berbunga secara tak langsung, Bapak sudah memberi lampu hijau. Percakapan yang tak terduga ini membuat Rahan semakin percaya diri dan harus menunjukkan bahwa, Rahan bisa di percaya dan bisa tanggung jawab dengan semua pilihan yang Rahan ambil.


Malam sudah menjelang saat Bapak mengakhiri sesi percakapan kami, Rahan dan Rayhan langsung menuju kamar, melihat kamar Ibu juga sudah di tutup dan Bi Narmi sudah turun ke kamar bawah.


Tertidur dengan perasaan berbunga berharap esok pagi bangun dengan tenang karena


banyak hal yang harus di urus untuk masuk kampus. Pagi menjelang, Rahan keluar dengan pakaian rapi, melihat Twin Al juga sudah rapi kini telah berhijab, "aduh! cantiknya, adik Kakak," ujar Rahan.


"Belum berangkat?" tanya Rahan lagi.


"Masih menunggu kak Ais, lagipula pendaftaran dua hari lagi," tutur Twin Al.


"Tuh. Kak Ais, masih libur dan membantu kita


Bapak yang baru keluar dari kamar hanya melihat kami dengan heran, "ayo, sarapan langsung kita berangkat," ujar Bapak, tetapi Rahan masih berdiri di kaca pembatas melihat orang yang di suka.


Akhirnya, Rayhan yang menyahuti, "masih bening, lagipula siapa yang berani mendekati," ujar Rayhan menggoda Rahan.


Mendengar ucapan Rayhan Ibu langsung tersenyum, "sudah di lamar saja Pak, biar enggak lari di gondol orang," ucap Ibu ikut menggoda.


" Maunya Bu, kalau Bapak sih tunggu saja kode-kode dari mereka," ujar Bapak menggoda.


Rahan yang di goda hanya diam, tetapi netranya terus melihat ke arah Ais yang sibuk ini dan itu di Toko.


"Kamu, enggak sarapan Rahan?" tanya Ibu ulang. "Enggak Bu, Rahan kenyang," jawab Rahan.


"Pantengin terus, buruan nanti terlambat," tutur Bapak mengingatkan.


"Rayhan, Twin, nanti Ibu dan Bapak pergi. Tolong jaga kasir saja, bantu Tante Rini biar nanti Bapak yang bicara ke Om Nono dan Tante Rini."


"Siap, Pak," jawab mereka bertiga serempak.


Setelah sarapan mereka semua turun tinggal Bi Narmi yang beberes.


Setelah berbicara dengan Tante Rini, Bapak mengajak Rahan berangkat menuju universitas yang kami tuju.


Ternyata Universitas yang kami tuju tak begitu jauh dari Ruko, Bapak yang merupakan alumni kampus ini dengan sigap mengurus segalanya dan dengan cekatan hingga ayunan langkah Rahan terhenti sesaat.

__ADS_1


"Kuliah yang benar, lihat betapa repotnya Bapakmu dan jangan sia-siakan kesempatan ini Rahan," ucap Ibu sembari menatap mata Rahan.


Sesaat Rahan merangkul Ibu, "Rahan akan berusaha Bu dan jika Allah mengijinkan, Rahan ingin menyelesaikan kuliah dengan cepat," ucap Rahan pelan.


Hingga tak lama kami melihat Bapak sudah selesai mengurus semuanya, "ayo, pulang! untuk besok dan yang lainnya biar Rahan saja yang urus Bu, sekalian Rahan belajar sendiri," ucap Bapak sembari berlalu menuju parkiran.


"Siap bos," jawab Rahan.


Sengaja Bapak tak menyelesaikan semua urusan di universitas ini, agar Rahan juga bisa belajar mandiri," ujar Rahan.


Memasuki parkiran Ruko terlihat Toko sudah mulai ramai, Bapak berhenti sejenak, lalu bersandar di sandaran kursi mobil.


"Kenapa Mas?" tanya Rahael.


Mas Galang, langsung menoleh pada Rahael, "jadi ingat saat Mas merintis usaha ini, saat itu Mas juga seumuran Rahan."


"Semuanya sendiri hanya doa Eyang Kung dan Eyang Uti yang jadi semangat Bapak," jawab Bapak sembari menundukkan kepalanya di setir mobil.


Percakapan kami terhenti saat pengunjung Toko semakin ramai.


"Ayo, kita bantu mereka," ujar Bapak yang kini kemudian Bapak sudah keluar dari mobil.


Sejenak Rahan menatap sosok Bapaknya, sesaat Rahan tersenyum, " semangat inilah yang harus Rahan contoh," ucap batin Rahan dan keluar dari mobil.


Berjalan beriringan memasuki Toko, meletakkan tas di meja kasir. Melihat Rayhan dan Twin sudah sibuk mengurus kasir, Rahan langsung melesat di bagian pelayanan.


Rayhan yang berada di meja kasir tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Rahan, sembari menoel lengan Rahan.


"Kata Bapak, enggak boleh dekat- dekat belum muhrim," ujar Rayhan iseng.


"Ih. Kemesnya mulut mu Rayhan," jawab Rahan.


Tiba-tiba Rayhan yang usil mendekati Ais dan dengan tidak tahu malu, "Kak mau kan? Sama Kakak Rayhan yang ganteng itu?" tanya Rayhan tanpa filter.


Mendapat pertanyaan dari Rayhan, Ais langsung melihat sembari tersenyum.


Seketika Rahan membekap mulut Rayhan, "kamu, bikin malu saja Rayhan," ujar Rahan


Ais yang di seberang langsung senyum-senyum sembari sesekali melihat ke arah Rahan.


"Nanggung Kak, kelamaan juga," kata Rayhan sembari menjaga jarak dengan Rahan


karena takut mulutnya Rahan bekap lagi.


Rahan seketika tersenyum puas, saat melihat Rayhan sedikit menjauh dan mulai sibuk dengan kegiatannya.


Tak terasa waktu cepat berlalu semua sudah terlihat lelah dan akhirnya pukul empat sore Bapak sudah menutup Tokonya.


Berjalan ke atas satu persatu beberapa karyawan sudah pulang, kini tinggal Bapak dan Ibu, serta Tante Rini dan Om Nono mereka nampak berbincang dengan akrab.

__ADS_1


__ADS_2