Rahael

Rahael
Bab 103. Rumah Eyang Panji


__ADS_3

Setelah heboh di meja makan kami bergegas memasuki kamar masing-masing, Galang dan Rahael tak langsung merebahkan diri ranjang. Galang hanya terlihat gusar dan tak lama Galang duduk dan mengambil ponselnya sementara Rahael langsung menuju almari pakaian.


Galang mengulir sebentar nomor yang di tuju, Galang menghubungi orang tua Mawan sedang Rahael langsung membuka lemari, membuka brankas tempat menyimpan surat surat berharga kami, Galang melirik Rahael sekilas, sembari menelfon Galang mengamati Rahael yang sedang sibuk mencari sesuatu dan tak lama setelah menemukan apa yang di carinya, "ah. Akhirnya ketemu juga!" tak lama terlihat Rahael menariknya keluar.


Pandangan Galang teralihkan saat ponselnya tersambung.


" Waalaikumsalam Wr. wb, Eyang," jawab Galang.


Terdengar tawa, di seberang sana, "Kau Lang. mimpi apa kamu menelfon kami?" tanya Eyang Panji.


"Maaf, Eyang. Saya mau memberi kabar kalau besok Twin Ra, mau kesana dan menginap, tetapi maaf, Twin Al juga ikut, apa di kasih ijin?"


Sesaat Galang menjauhkan ponselnya, tak ada jawaban yang Galang dengar hanya teriakan Eyang Panji memanggil isterinya.


"Ma! Mama ... cucumu mau datang besok dan menginap, suruh Bibi nyiapkan kamar Mawan dan dua lainnya," ujar Pak Panji di telefon.


"Halo," kembali terdengar suara Eyang Panji di ujung sana memanggil.


"Ya, Eyang. Bagaimana bolehkan?" tanya Galang basa basi.


"Argh! Galang, andaikan kamu di sini, sungguh! Akan Eyang getok kepalamu! Ya tentu, boleh lah! Awas jika kamu berbohong," ucap Eyang Panji.


"Ya. Terima kasih Eyang," jawab Galang


sembari menutup ponselnya.


Rahael yang melihatku sedikit cemberut, "kenapa?" tanya Galang heran, "rasanya Rahael kok enggak rela mereka pergi ke sana!" tutur Rahael.


Mendengar itu Galang sedikit terkejut, "sudah Rahael, kasihan mereka. Sudah cukup kita menghukumnya, beri kebahagiaan di usia tuanya toh mereka juga Eyangnya," ucap Galang sembari melihat ke arah Rahael.


"Sudah ketemu yang di cari? Rahael tak menjawab sejenak mata Rahael berbinar, "eh. ini. kenapa baru kepikiran, sudah berapa tahun ya, Mas?" tanya Rahael sembari menatap Galang.

__ADS_1


"Sudah simpan dulu nanti saja di bukannya


kalau Twin Ra sudah ada, sudah larut Rahael, kita tidur yuk!" ajak Galang sembari menaikkan tubuhnya di ranjang.


Rahael tak berselang lama ikut menyusul merebahkan tubuhnya di ranjang setelah menyimpan amplop itu kembali.


Kini Gakang mbslikkan tubuhnya, menatap wanita cantik yang ada di depannya, "Rahael, bagaimana? Kalo kita buka Toko dengan konsep mirip Swalayan, tetapi kita jual untuk grosiran dengan harga yang sedikit lebih murah," ujar Galang.


Rahael sejenak menatap suaminya, "terus siapa yang pegang Mas? Anak-anak mungkin juga belum bisa, mereka masih harus belajar dan kuliah juga."


"Ya. Mas Rahael!" jawab Galang. "Terus toko oleh olehnya?" tanya Rahael pelan.


"Kamu yang pegang, bagaimana?" tanya Galang.


"Mungkin ide yang bagus, tetapi tetap harus di pikir matang-matang Mas, sebenarnya oke juga ide Mas," ucap Rahael sembari merangkul suaminya.


"Sudah mengantuk tidur yuk!" ajak Rahael.


Galang sedikit heran saat pertanyaannya tak mendapat jawaban dari Rahael, Galang seketika tersenyum saat melihat Rahael sudah tertidur. Galang mencium Rahael, "cantik," puji Galang sembari menyusupkan tubuhnya untuk lebih mendekat ke tubuh Rahael dan terlelap.


Pagi menjelang, terdengar keributan di meja makan, suara gelak tawa anak-anak dan Rahael yang sudah terbangun dan membantu Bibi di dapur untuk menyiapkan sarapan.


Terdengar suata Rahan yang sedang menggoda Aal. Setelah mandi, Galang bergegas keluar dari kamar. Anak-anak yang melihat langsung menyapa secara bersamaan, "Pagi Bapak," sapa mereka.


Galang yang merasa heran langsung menatap ke arah Rahael seakan mencari jawab, sementara Rahael hanya mengedikkan bahu tanda tak mengerti.


"Kemana para Eyang Twin?" tanya Galang sembari duduk di meja makan, "Ibu sudah berangkat pagi tadi dan Bapak sakit lagi! Bi Narmi, sudah Rahael suruh kirim makanan ke rumah belakang, Ibu di panggil enggak mau, menunggu Bapak," jawab Rahael panjang.


Galang sedikit terdiam, terus melihat anak-anak yang tiba-tiba menghentikan makannya.


"Lho, makan Twin kok melamun, katanya keburu ekstrakulikuler dan ke rumah Eyang," ucap Galang.

__ADS_1


"Hiya," ucap mereka serempak.


"Kok, enggak semangat? Sudah, nanti Eyang Kung, Bapak ajak ke Dokter sama Ibu, habis itu Bapak menjemput kalian," tutur Galang.


Mendengar ucapan Bapaknya, anak-anak langsung tersenyum kemudian berdiri dan berpamitan.


Setelah anak-anak berangkat, "Rahael, siap-siap yuk, kita mengantar Bapak ke Dokter," ujar Galang, "sebentar nanggung Mas!".


"Rahael, tinggal saja biar di lanjutkan Bibi," ujar Galang.


Melihat suaminya sedikit marah, Rahael segera bergegas ke kamar dan tak lama sudah keluar dari kamar dengan pakaian rapi.


Eyang Kung setelah menerima sedikit paksaan dari Mas Galang, akhirnya mau juga di bawa ke Dokter. Ibu yang dengan sabar dan telaten mendampingi Eyang Kung.


Begitu memasuki ruang periksa, Dokter Fahmi tersenyum, "pagi Pak Udin apa yang di keluhkan?" tanya Dokter Fahmi.


"Seperti biasa Dokter," Jawab Bapak.


Galang, sedikit menyerngitkan dahi, dan langsung memandang Bapak dan Ibu.


Melihat sikap suaminya seperti begitu, Rahael langsung menarik tangan suaminya, " enggak sopan Mas," bisik Rahael lirih.


"Ayo, Pak. Saya periksa dulu," ujar Dokter Fahmi sembari tersenyum.


Begitu Bapak sudah berbaring Dokter Fahmi segera memeriksa, "semua baik-baik saja, tensinya yang agak tinggi," ucap Dokter Fahmi.


Galang sedikit lega mendengarnya, "oh. ya Dok, apa perlu di lakukan kontrol tiap bulan?" tanya Galang.


Dokter fahmi tersenyum, "memang harus begitu tetapi Bapak Udin mesti mangkir," jelas Dokter Fahmi.


Setelah Dokter Fahmi menuliskan resep kami undur diri dan mengantar Bapak ke rumah dan Galang langsung ke Toko untuk mengecek.

__ADS_1


__ADS_2