
Pengenalan
Rahael gadis berusia 17 tahun, tinggi, kulit kuning dengan rambut sebahu. saat ini Rahel merupakan murid di SMA swasta yang cukup ternama di kota M.
Bab 1.Pengumuman
Jam masih menunjukkan pukul 06.30 wib. Masih pagi, tetapi Rahael sudah siap-siap untuk ke sekolah, hatinya terus berdebar karena mengingat hari ini pengumuman kelulusannya. Setelah mematut dirinya di kaca Rahael bergegas turun, melihat Bi Jum yang masih sibuk ini dan itu membuatnya tersenyum dan menghampiri.
"Bi, Rahael berangkat," tutur Rahael sembari meraih punggung tangan Bi Jum. "Ya. Non, hati-hati," jawab sang Bibi dengan menatap Nona kecilnya.
Di tatapnya Nona kecilnya, hingga mobil menghilang di balik pagar. 'Kasian kamu Non,' ibanya dalam hati.
Dengan di antar sang Mamang, setelah lima belas menit perjalanan akhirnya Rahel tiba di sekolah.
Setelah keluar dari mobil. "Mang! Nanti Rahael nggak usah di jemput ya? Rahael mau pulang bareng Silvi," ucap Rahael pada Mamang.
Mendengar ucapan Nona kecilnya sang Mamang hanya menjawab sembari mengajungkan ibu jarinya. "Siap Non! Tapi jangan lama-lama Non, mainnya. Kasian Bi Jum kalau terlalu lama menunggu."
__ADS_1
"Siap! Mamangku," jawab Rahael sembari berjalan masuk, ke gerbang sekolah.
Setelah sampai di gerbang sekolah, Rahael berhenti sesaat, memindai setiap tempat mencari sosok sahabatnya.
'Kemana juga Silvi? Kok, nggak keliatan batang hidungnya' gumannya dalam hati.
Tak berapa lama Rahael melangkah terdengar suara memanggil dengan keras.
"Hel .... Rahael!"
Mendengar namanya di panggil Rahael sekali lagi berhenti dan mencari ke sumber suara yang memanggilnya, setelah mengetauhi sang pemilik suara sepintas Rahael tersenyum karena orang yang di carinya sudah berada di ujung kelas.
Hingga langkah Rahael hampir tiba di ujung kelas. "Brugh ... " Mungkin itu kata yang tepat saat Rahael bertabrakan dengan seorang cowok.
Rahael berhenti sejenak menatap cowok yang sudah menabraknya. "Hati-hati Rahael kalau jalan," suara Mawan teman satu kelasnya.
"Eh ... Mawan, maaf ya!" ucap Rahael sembari berlalu pergi.
__ADS_1
Silvi! Jangan di tanya bagaimana reaksinya saat melihat Rahael bertabrakan dengan Mawan. Terlihat di ujung kelas Silvi terlihat d tertawa terkikik dengan puas. "Hahaha ... " itu yang terdengar saat Rahael sudah sampai.
"Ish ... "Kau! Malah tertawa tolongin apa?" omel Rahael, sembari bersungut-sungut.
"Sepertinya kamu puas Silvi, melihat aku tabrakan tadi."
Di liriknya Silvi sesaat. "Sudah! Ayo masuk,
lihat Pak Mahmud sudah jalan kemari," ucap Silvi sembari menyeret lengan Rahel.
Setelah sampai di bangku mereka, tak berselang lama Pak Mahmud datang dan memasuki ruang kelas. Berdiri sejenak menatap ruangan kelas, kemudian meletakkan tas dan setumpuk surat pengumuman.
Hingga beberapa saat kemudian. "Selamat pagi anak-anak, seperti biasa silakan berdoa sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan masing-masing," ucap Pak Mahmud.
Seketika kami terdiam hingga beberapa menit untuk berdoa, setelah berdoa selesai Pak Mahmud kembali melanjutkan pengumumannya lagi.
"Seperti yang kita ketauhi sistem *** kelas 12 telah selesai, pihak sekolah sengaja mengundang anak-anak kembali ke sekolah untuk menerima pengumuman kelulusan dan ada satu surat untuk orang tua kalian."
__ADS_1
"Tetapi sebelum surat edaran saya bagikan tak bosan-bosan saya berpesan, nanti setelah menerima surat pengumuman kelulusan tolong jaga sikap dan nama baik sekolah, nggak ada konvoi, corat coret apalagi pilok memilok paham!"
"Ya, Pak!" jawab para murid serentak.