
Bab 61. Masih Di Ruko
Begadang dengan Mawan membahas sesuatu yang menurut Galang kurang manfaat. Membuat Galang ingin mengerjainya, mengorek tentang perasaan Mawan pada Rahael. Sebenarnya ini hanya mengurangi rasa curiga Galang saja.
"Wan, memang seperti apa Rahael di sekolah dulu?" tanta Galang tiba-tiba.
Memang nyatanya saat itu Galang sudah berada di kota S ini untuk menuntut ilmu.
Mawan tersenyum menatap Galang.
"Jangan bilang Mas cemburu."
Galang hanya tersenyum menanggapi ucapan Mawan.
Mawan Flashback on
Sebenarnya Rahael itu adik kelas, saat dia masuk awal sekolah, Mawan sudah ada di kelas dua. Sejenak Mawan tertawa, otak Mawan memang gila saat itu. Mawan rela tinggal kelas demi dapat satu kelas dengan Rahael, sembari menatap jauh kedepan. Bodohnya Mawan tak menyadari jika cinta Mawan bertepuk sebelah tangan, Mawan selalu mendapat penolakan dengan alasan dia sudah mencintai orang lain.
Namun, nyatanya Mawan tak pernah melihat Rahael berjalan dengan siapapun, Rahael itu cewek pemilih dan dengan silvi lah Mawan selalu melihatnya bersama.
Merasa selalu mendapat penolakan hati Mawan semakin sakit dan saat itu memang Mawan sedikit mabuk mas dan itu membuat Mawan nekat.
flashback end
Melihat wajah Mawan di tekuk Galang tertawa terkikik puas. "Memang kau itu bodoh," jawab Galang.
Mawan hanya tersenyum menanggapi olok kan dari Galang sembari menggaruk
kepalanya.
"Sudah jam satu malam, aku mau tidur Wan.
Besok masih ada urusan dengan anak-anak
mungkin lusa kita dapat ke Kota M, Wan.
Besok pagi kamu pulang, ke penginapan kasihan silvi nanti kangen sama kamu.
Mendapat olokan dari Galang, Mawan beringsut berdiri.
"Memang kamu enggak bulan madu Wan?" tanya Galang sembari berjalan ke kamar.
Yang Galang tanya hanya diam. "Buruan di bukak," ucap Galang.
"Ngantuk Mas," hanya ini jawaban Mawan dan masuk ke kamar masing-masing.
__ADS_1
Merebahkan diri di ranjang beberapa saat mata Galang pun terpejam.
Terbangun saat adzan subuh, melihat Mawan masih tertidur. 'kenapa juga di sofa pikirku.'
Setelah menyelesaikan sholat subuh Galang melihat Mawan sudah keluar dari kamar mandi. Mengambil sajadah dan sholat subuh.
Galang bergegas ke dapur membuat kopi dan
turun kebawah sembari melihat toko.
Setelah memeriksa toko dan gudang, Galang sedikit lega dan memang mereka jujur.
Sudah jam delapan pagi Galang melihat Mawan belum turun mungkin tertidur pikirku.
Anak-anak sudah datang, sengaja Galang menutup toko karena ingin meminta pertolongan mereka untuk mengepak barang kami yang tertinggal dan nantinya kami paketkan.
"Rin, tolong nanti urus semuanya alamatnya juga jelas kan?"
"Siap Pak."
"Di mana Nono, Rin? Kok enggak kelihatan."
"Mas Nono, ada di gudang Pak," jawab Rini sembari menunduk.
"Sejak kapan kamu memanggil Nono dengan sebutan Mas, Rin?" tanya Galang menyelidik.
Yang di tanya cuma senyum-senyum malu.
"Memangnya kalian pacaran? Awas ya kalo
nikahnya enggak bilang-bilang," ucap Galang lagi.
"Husain panggil Mas Nono," ucap Galang tiba-tiba.
Mendapat perintah dadakan Husain bergegas ke bawah, Mawan yang masih duduk di sofa hanya geleng-geleng kepala.
"Biar ku jodoh kan saja mereka," guman Galang. Biar tidur di sini ada yang merawat ruko ini sekalian.
Mawan yang mendengar ucapan Galang, Mawan hanya geleng-geleng.
"Pulang Wan! Kasihan Silvi. Siap-siap besok kita berangkat."
"Sebentar Mas, masih betah."
"Dasar tuyul tengil," ucap Galang.
__ADS_1
Tak berapa lama Nono datang bersama Husain. "Terima kasih Husain," ucap Galang.
"Siap bos," jawab Husain.
"Rinu ... "panggil Galang kemudian.
Nono hanya terdiam saat Galang memanggil Rini.
Mawan yang melihat keisengan Galang hanya tersenyum. Seperti akan di sidang melihat tubuh mereka tegang.
Husain yang ada di belakang juga ikut menegang. "Rini. Nono, setelah saya periksa tadi pagi, sepertinya ada yang kurang," ucap Galang serius.
Galang langsung melirik Mawan yang tengah menahan tawa.
"Memangnya apa yang telah kalian lakukan."
Galang melihat Rini, Nono dan Husain wajahnya semakin pucat.
"Husain kamu keluar karena tak ada sangkut pautnya di sini."
Sesaat setelah Husain keluar. "Rini. Nono, duduk," pinta Galang.
"Maaf, Pak saya berdiri saja," ucap mereka serentak .
"Baik lah kalo itu mau kalian."
Galang turun mendekati mereka dengan wajah serius. "Sejak kapan kalian pacaran hem .... "
Yang Galang tanya hanya saling menatap.
"Sepertinya satu bulan yang lalu, kalian masih menyebut nama masing- masing, sekarang kok sudah berubah jadi Mas Nono."
Mendengar ucapan Galang, Nono dan Rini langsung tersipu malu.
"Bapak kalau mau bikin lelucon garing tau," Ucap Nono.
"Hahahaha ... seketika Galang tergelak, serasa puas bisa mengerjai mereka, Mawan yang di atas tak kalah keras suara tawanya. Setelah beberapa saat kemudian.
"Kalau memang sudah serius dan mantap buruan halalin, Bapak enggak mau terjadi apa-apa di sini Rini, Nono."
"Dan untukmu Nono, awas sampai macem macem buruan halalin. Bapak tunggu kabar nya."
"Siap Pak," jawab Nono kemudian.
"Panggil Husain ada yang ingin Bapak bicarakan."
__ADS_1