Rahael

Rahael
Bab 94. Emosi


__ADS_3

Bab 94. Emosi


Suasana seketika menjadi membingungkan seyelah Ibu memanggil Kak Rahan dan Rayhan dengan keras.


Merasa nama mereka di panggil kak Rahan dan Rayhan langsung mengikuti langkah Ibu keatas, sementara Om Nono dan Tante Rini, hanya menatap bingung, sedangkan Bapak masih sibuk menyuruh pergi Tante cantik pergi, semua terlihat jelas saat Aal memilih menahan langkahnya untuk naik keatas.


Beberapa saat kemudian Bapak sudah naik ke atas, memanggil nama Ibu, "Rahael!" panggil Bapak lirih.


Ibu tang masih dengan amarahnya, "sebaiknya, selesaikan urusan Mas disini, jangan kembali menemui Rahael jika urusannya belum selesai dan setelah itu, kita selesaikan masalah ini," tutur Ibu sembari menangis dengan suara tercekat.


"Twin Al, lihat kakakmu dan bantu berkemas kasihan mereka!" seru Ibu kini sudah duduk di kursi, Bapak masih juga berusaha mendekat pada Ibu.


"Rahael, ini tidak seperti yang kau pikirkan!" seru Mas Galang.


"Mas. Cukup, Rahael tak ingin berdebat di sini, kasihan anak-anak! Pasti mereka juga terkejut mendengar semua ini," kekeh Rahael geram. Galang kini hanya menunduk, entah apa yang sedang di pikirkannya.


"Mas, maaf. Sebaiknya Mas selesaikan dulu urusan Mas! Biarkan anak-anak bersama Rahael," tutur Rahael sembari mengetik sesuatu di ponselnya.


"Kita pulang sama-sama Rahael," tutur Galang tiba-tiba.


"Mas!!" teriak Rahael, "Rahael mohon, selesaikan dulu yang di sini paham! Biar Rahael tenang dulu," ujar Rahael lagi.

__ADS_1


Rahel langsung masuk kamar dan krluar dengan menarik kopernya, "Twin Ra, Twin Al, ayo!!" ajak Rahael marah.


"Rahael berhenti !!" ujar Mas Galang nerusaja mencegah kepergian kami.


"Sudah Mas! Rahael sudah pesan pesawat


tolong pikirkan lagi, Rahael hanya ingin Mas menyelesaikan semuanya," tutur Rahael sembari turun.


Melihat anak-anak sudah siap, Rahan dan Rayhan dalam gandengan Twin Al. Rahael sudah di bawah saat taksi online sudah menunggu dan tak lama Taksi sudah pergi melaju dan itu terdengar dari suaranya.


Galang hanya menatap dan diam terpaku menatap kepergian mereka.


Galang hanya bisa menyesali apa yang terjadi, "kenapa masih saja menerima mantan kekasih dan tak menjelaskan pada Rahael dari awal," cicit Galang lirih.


Menerima telfon dari Bapak saat itu membuat pikiran Galang menjadi kacau, Galang harus menemui Rahael anak majikan. Awalnya Galang menolak tetapi begitu melihat kondidi Rahael dan Bapak mengingatkan akan hutang budi seketika Galang tak berkutik. Rahael gadis kecil yang tumbuh besar bersama dan bermain bersama harus mengalami hal sangat tak terduga. Trenyuh saat itu yang Galang rasakan


saat Bapak meminta Galang untuk menutupi aibnya.


Saat itu Galang tengah menjalin kasih dengan teman kuliah, memang Galang tak pernah bercerita tentang ini dengan orang tua Galang, karena Galang ingin langsung melamar sang pujaan hati.


Tetapi kenyataan berkata lain, Galang akhirnya memutuskan sang pujaan hati dan menceritakan semuannya dengan jujur pada sang pujaan hati.

__ADS_1


Awalnya, dia menolak mentah-mentah tapi karena janji Galang masih mau menjadi teman, akhirnya dia luluh juga. Sudah bertahun-tahun Galang tak pernah bertemu, akhirnya dia menghubungiku lewat chat. Sering berhubungan secara online jujur, setelah sekian lama saat bertemu kembali masih ada sedikit rasa dan mengetauhi dia belum menikah juga. Mungkin hanya sebatas ini perasaanku hingga kejadian ini.


Satu kesalahan dan satu kepercayaan Rahael yang Galang khianati.


flashback end


Galang langsung bergegas menuruni tangga Nono yang melihat kejadian ini dengan bingung dan Rini hanya duduk terdiam. Galamg masih berdiri di depan Ruko menunggu seseorang dan meminta untuk datang kembali, setelah menghubunginya beberapa menit tadi.


Galang terlihat gelisah, berkali-kali Galang melihatv log panggilan, tak ada jawaban


sudah berkali-kali, bahkan Twin Al dan Twin Ra, pun tak dapat Galang hubungi, seketika Galang menendang pintu mobil yang ada di depannya. "Bodoh-Bodoh!" seru Galang berulangkali. Akhirnya setelah sekian menit kemudian, sosok yang Galang tunggu datang juga, yanpa bicara Galang langsung menarik dan masuk dalam mobil.


Galang menghela napasnya sejenak, untuk menetralkan perasaan Galang yang emosi, Galang kemudian mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu dan kemudian meletakkan ponselnya lagi.


Galang melajukan mobilnya dengan diam, tak ada percakapan selama perjalanan pulang dan jalan satu-satunya, Galang harus membawa Nisa, untuk menjelaskan semuanya. Berkali-kali Galang mendengus kesal dan melihat jam tangannya, mungkin saat ini mereka dudah sampai tujuan, ini sudah lima jam yang lalu," guman Gakang sendiri.


Nisa yang sedari tadi hanya diam kini terlihst tersenyum culas, dan sesekali melirik tajam ke arah Galang.


Mendekati kota tujuan Galang menelfon Bapak ingin mencari kabar tentang Rahael dan anak-anak. Bapak bilang mereka belum sampai dan dari nadanya Galang tahu bahwa Bapak sedang marah saat ini.


Mendengar jawaban Bapak, Galang berkali-kali memukul setir mobil, "argh!! ****!!" ujar Galang geram.

__ADS_1


Galang hanya bisa menahan emosinya, Galang seakan teringat akan ucapan Bapak, " jika sesuatu terjadi dengan Rahael dan anak-anak, orang pertama yang harus Galang hadapi adalah Bapak." Mengingat akan ucapan Bapak Galang mendadak lemas dan menepikan mobilnya tiba-tiba.


"Shiit !!" umpat Galang emosi.


__ADS_2