
BAB 30. Teman Lama
Tak terasa sudah tujuh bulan kehamilan Rahael berarti sudah tiga bulan kami hidup berdua tanpa orang tua kami, menjalani hidup seperti biasa, kadang orang tua kami bertukar kabar menceritakan apa yang di lakukan sehari-hari serasa bahagia, kuliah Galang pun sudah beres.
Semakin hari usaha Toko
Pusat oleh-eleh pun kian maju, Rahael kini hanya berdiri di belakang untuk mengawasi, karena saat ini Rini sudah Galang tarik menjadi kasir dan menambah satu karyawan laki-laki, hamil tujuh bulan dengan dua dedek bayi membuat perut Rahael sangat besar.
Di usianya yang terbilang muda membuat Galang menjadi begitu khawatir. Tiba-tiba Rahael tersenyum saat melihat dua tamu mengunjungi toko. "Rahael!" teriak mereka.
Mendengar teriakan dua orang tamu yang asing, membuat Galang siaga dan waspada, sepintas Galang memperhstikan dua gadis yang sedang berpekukan dengan Rahael.
Entah, kenapa hati Gslang tiba-tiba berdesir tak enak.
"Intan. Kinan!" teriak Rahael langsung memeluk mereka bergantian. Kinsn dan Intan langsung menatap Rahael bingung.
"Kamu disini Rahael? Kamu hamil? Sudah berapa bulan?" tanya mereka penasaran.
Rahael hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan mereka, tak urung bibirnya menjawab juga, "tujuh bulan, Kinan," jawab Rahael lirih. Sementara Intan mengusap perut Raharl yang buncit. "Kenapa enggak undang-undang. Mana suamimu?" tanya Intan sembari berbisik.
Raharl hanya tersenyum dan tak lama menoleh kearah kasir dan menunjuk pada Galang. "Wei, suami kamu ganteng banget," tutur Intan senbari berbisik.
"Kau, itu. Bisa saja Intan," tutur Rahael lirih.
Setelah berapa lama mereka sudah mulai memilih survenir dan beberapa barang lainnya dan berjalan menuju kasir untuk membayar. "Suaminya Rahael kan! Kenalkan saya Intan dan saya Kinan," ujar mereka saling berjabat tangan.
Setelah semua barang di bungkus Intan dan Kinan berpamitan, "Mas Galang mungkin dua minggu lagi akan ada rombongan dari kota M Intan promosikan deh tempat kalian," tutur Intan sembari tersenyum.
"Terima kasih," jawab Galang dan Rahael bersamaan.
__ADS_1
Waktu berjalan begitu saja, mungkin hampir tiga minggu sejak kedatangan dua teman Rahael, pengunjung yang ramai membuat fokus kami terbagi entah sejak dua hari Galang mendapati seorang pengunjung memakai masker topi dan kaca mata hitam. Pengunjung ini selalu membeli apapun itu.
Namun, pagi ini pengunjung ini terlihat aneh saat melihat Rahael turun dan langsung minta di layani oleh Rahael. Gakang yang terus memperhatikan langsung datang menghampiri Rahael. "Rahael duduk saja, kasihan dedeknya," ujar Galang sembari meletakkan survernir yang du pefang Rahael dan meraih tangan Rahael dan mengajaknya duduk. "Duduk saja, ingat itu," ujar Gakang dan berlalu kemudian mengambil alih kerjaan Rahael. Rahael hanya tersenyum dan paham akan kekhawatiran suaminya karena saat ini Toko tengah penuh.
Rini, yang menyadari kondisi ini langsung mendekat ke arah Rahael. "Ibu duduk saja, biar saya yang mengerjakannya," ujar Rini lirih.
"Rin!" panggil Rahael lirih.
"Ya, Bu. Perasan orang itu dari kemarin belanja banyak sekali?" tanya Rahael lirih.
Rini yang mendengar ucapan Ibu Bosnya seketika tersenyum. "Ah. Ibu ini namanya rejeki," ujar Rini pelan.
Entalah, ada perasaan aneh saat Rahael menatap pada pengunjung itu dengan tatapan aneh. "Rahael," panggil Galang membuyarkan lamunan Rahael. "Kok melamun, ada apa?" tanya Galang.
Rahael hanya menggeleng dan seketika meringis. "Ada apa?" tanya Galang lagi.
"Istirahat Rahael," ucap Galang sesampainya di atas. "Mas, enggak turun?" tanya Rahael tiba-tiba tetapi bibirnya meringis menahan sakit. "Ada apa?" tanya Galang bingung.
"Esh, ini lihat, kenapa dedeknya gerak terus bergantian juga Rahael jadi mules Mas," tutur Rahael sembari mengusap perutnya bergantian. "Eh, sini coba Mas usap biar dedeknya tenang," ujar Galang bersemangat.
Hingga beberapa menit kemudian dan Rahael menjadi tenang kembali.
"Mas, enggak turun?"
Galang hanya menggeleng, "Mas, pingin di sini," ujar Mas Galang sembari merangkul tubuh Rahael. "Tidur yuk!" ajak Galang sembari meraih tangan Rahael.
"Ayo, tetapi Mas, jangan aneh-aneh!"
"enggak cantiknya Mas Galang, sembari mencium keningnya dan megusap kepala Rahael."
__ADS_1
Sesaat Galang terdism hsnya duduk di sisi ranjang, "Rahael, besok Rahael enggak usah turun, di atas saja sama Bi Narmi, kadihan dedeknya, Toko juga semakin ramai, lihat kaki Rahael juga mulai bengkak," ujar Mas Galang sembari duduk di depan Rahael.
"Nau Mas pijit atau di oles minyak Rahael?" tanya Galang sembari melihat ke arah Rahael.
"Enggak, usah Mas. Nanti malam saja," jawab Rahael.
"Ayo, tidur. Mau di usap enggak perutnya?"
Rahael hanya mengangguk menghiyakan, Rahael kini telah terlelap setekah ritual rutin yang Galang lakukan.
Melihat Rahael yang tertidur dengan lelap Galang memilih kembali turun ke bawah, menelisik setiap pengunjung yang ada hingga langkah Galang tiba di kasir.
"Rin, apa pengunjung tadi sudah pergi?" tanya Galang mencari tahu.
"Barusan Pak! Irang itu juga berpesan, jika beberapa hari lagi akan kembali lagi, untuk memborong survenir kita," ujar Rini menjelaskan.
Galang yang mendengar penjelasan Rini hanya mengangguk. "Mungkin ini rejeki dedek bayi," guman hati Galang.
Memang benar beberapa hari ini orang itu selalu ada di Toko dan anehnya. "Jika sudah menganggap kami mitra kerja, kenapa enggak lewat jasa pengiriman atau lainnya atau pengenal semisal kartu nama," guman Galang dalam hati .
jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi saat orang itu berdiri di kasir, Rin tolong layani Masnya, Bapak mau mengantar Ibu kontrol," pinta Galang.
"Siap Pak," jawab Rini.
Galang sedikit heran, sast melihat orang itu sudah berdiri di area parkir. Galang tak melanjutkan pikiran negatifnya tetang orang itu.
Gslang memilih membukakan pintu mobil untuk Rahael, setelah itu Galang melajukan mobilnya. Senyum Rahael langsung tersungging senang. "Sudah siap?" tanya Galang sembari tersenyum.
Rahael hanya mengangguk senang, karena inilah waktu yang palung menyenanglan untuk Galang dan Rahael. karena selepas kontrol Rahael dan Galang bisa menikmati waktu berdua, untuk sekedar jalan- jalan atsu menjajal kuliner dan kudapan yang di jual di sekitar rumah sakit atau sepanjang jalan pulang. Sepanjang jalan pulang.
__ADS_1