
Bab 99. Rahael yang gondok
Setelah kejadian semalam bukannya Mas Galang datang menemui Rahael untuk minta maaf malah tidur dengan anak-anak.
Hal Itu membuat hati Rahael semakin kesal, pagi ini, sengaja Rahael bangun siang, Rahael hanya ingin bergelung dengan selimut di tambah udara yang dingin membuat Rahael semakin mengeratkan selimutnya dan kembali tertidur.
Terbangun saat sinar matahari mulai masuk melalui jendela kamar, "hm, terasa nyaman dan tenang," guman Rahael. Rahael sedikit terkejut saat melihat Mas Galang sudah duduk di kursi, memandang sembari tersenyum. Begitu Rahael sudah duduk di tepi ranjang mas Galang menghampiri, "maaf!" ujar Mas Galang sembari mencium kening Rahael.
Rahael masih diam melakukan mode diam merajuk. "Rahael jangan begini, Mas kan sudah minta maaf dan menjelaskan, Nisa juga sudah menjelaskan!" tutur Galang pelan.
Rahael masih diam dan tak ingin menjawab pertanyaan suaminya, Rahael langsung berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.
"Rahael," panggil Mas Galang.
Rahael tak menghiraukan panggilan Galang, menutup pintu kamar mandi dan menyelesaikan mandinya dengan segera.
Keluar dari kamar mandi, Rahael sejenak menghentikan langkahnya saat melihat suaminya berdiri di depan jendela sembari melamun.
Lamunan Mas Galang terhenti saat mendengar pintu kamar mandi yang sengaja Rahael tutup dengan sedikit keras. Seketika Mas Galang menoleh dan tersenyum saat melihat Rahael keluar dari kamar mandi.
"Rahael, bicaralah. Maaf, Mas salah, Mas sudah berlaku tak jujur. Jangan begini Rahael, hanya kamu dan anak-anak tempat Mas berpulang dan hanya kalian tempat tujuan Mas," ujar Galang sembari memeluk tubuh Rahael.
"Sudah! Mas, Rahael juga enggak tahu seperti apa perasaan Rahael saat ini yang jelas Rahael masih marah sama Mas Galang.
Rahael, juga bukan orang yang sempurna. Rahael juga memiliki masa lalu, tetapi jujur Mas. Rahael kecewa, kenapa kejadian ini yang membuka orang lain bukan kita atau Eyangnya? Rahael juga tidak tahu harus berbuat seperti apa? Tentang perasaaan anak-anak Mas!"
"Kita pulang Mas. Jelaskan semuannya pada orang tua kita!"
"Rahael, Mas akan lakukan itu tetapi jangan marah, jangan mendiamkan Mas Rahael."
__ADS_1
Rahael masih terdiam lama, memandang Galang dalam kemudian menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Kita lihat nanti Mas," ujar Rahael sembari menyisir rambutnya.
"Kok nanti Rahael?"
Kini Mas Galang sudah sedikit tak terkontrol, Mas Galang membalik tubuh Rahael dan dengan cepat Mas Galang mulai mencium bibir Rahael dan memberi sedikit menuntut hingga ciuman Mas Galang lepaskan dengan napas memburu.
"Sudah, jangan merajuk lagi, Mas juga enggak mau lama-lama, Rahael jangan mendiamkan Mas seperti ini," tutur Mas Galang semakin nakal, tangannya kini sudah
tak terkontrol.
"Argh! Mas Galang, Rahael masih marah!"
Rahael sedikit lega saat suaminya melepaskan tubuhnya, tetapi netra Rahael makin melotot saat melihat suaminya lari ke pintu dan kemudian menguncinya.
Kembali Galang merengkuh tubuh isterinya, "kalau begini, marahnya pasti hilang," ujar Nas Galang melanjutkan aksinya kembali.
Mas Galang, mengakhiri serangannya saat Mas Galang benar-benar puas dan tersenyum, "jangan marah lagi Rahael, jika Rahael masih marah dan merajuk, yakin saat ini juga Mas akan melakukan serangan lagi," ujar Mas Galang mengancam.
Rahael segera beringsut ke kamar mandi,
"gara-gara Mas, Rahael jadi mandi dua kali," gerutu Rahael sambil menutup pintu kamar mandi.
Rahael segera membersihkan tubuhnya dan setelah semua beres, Rahael langsung keluar dari kamar mandi, Rahael hanya bisa menggeleng heran, saat melihat Mas Galang tidur terlentang di kamar mandi, "kuncinya mana Mas?" tanya Rahael. Rahael semakin heran saat Mas Galang tak menjawab malah tengkurap di atas ranjang.
"Mas, kuncinya," pinta Rahael, tetapi Mas Galang hanya melihat Rahael saja.
"Mas masih ingin, melanjutkan yang tadi Rahael," ujar Mas Galang sambil membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Ish. Mas Galang, benar kan? pasti ujung ujungnya itu lagi."
"Sekali lagi ya?"
"Enggak, mau. Rahael sudah mandi, kuncinya Mas!" pinta Rahael.
Mas Galang kemudian menatap Rahael cukup lama, "Rahael, janji enggak marah?" tanya Galang dan hanya mendapat anggukan dari Rahael.
"Sini ambil kuncinya," ujar Mas Galang.
Rahael segera naik ke sisi ranjang, tetapi belum juga meraih kunci yang di ukurkan Mas Galang, Mas Galang langsung menarik tubuh Rahael hingga berada di atas tubuh Mas Galang.
"Jangan marah," ujar Mas Galang sembari ******* bibir Rahael. Hingga beberapa saat Rahael berusaha lepas dari dekapan Galang,
"enggak mau, nanti Rahael mandi untuk yang ketiga kalinya, sini kuncinya Mas," pinta Rahael.
Mas Galang masih belum mau melepaskan Rahael, penolakan Rahael membuat Galang semakin memeluk Rahael erat dan kembali beraksi.
Hingga terdengar suara ketukan di pintu berulang kali, "Ibu, Ibu baik-baik saja?" teriak Aal di depan pintu.
Galang langsung melepaskan Rahael, "ayo, Mas, sini kuncinya," ujar Rahael sembari beringsut turun dan membetulkan bajunya yang berantakan dan menyisir rambutnya asal dengan tangannya.
Melihat Mas, Galang tak ujung memberikan kuncinya, kini Rahael kembali naik keatas ranjang, mendekat ke arah suaminya.
"Hiya, Mas. Rahael tak akan marah," ujar Rahael sembari mencium seluruh wajah suaminya dan memberi kecupan lembut dan singkat di bibir suaminya.
Galang yang mendapat serangan dari Rahael langsung tertawa, Galang kembali mencium bibir Rahael hingga Galang melepas Rahael dengan ikhlas.
"Sudah, puas. Mana kuncinya?"
__ADS_1
"Itu, di atas meja," jawab Galang sembari tertawa.