Rahael

Rahael
Bab 127. Berkunjung


__ADS_3

Bab 127. Berkunjung.


Setelah menyelesaikan olah raga di sore hari


Rayhan menuju nakas mengambil gawainya.


Sudah enam panggilan yang di abaikan dan semua nomor yang sama. Mencoba menghubungi ulang namun tetap terputus, sejenak Rayhan mengacak rambutnya.


"Siapa Bang?" tanya Naya, "Abang kok jadi gelisah," ujar Naya sembari membetulkan bajunya, kemudian merangkak mendekat, Rayhan langsung menujukkan nomor yang menghubungi, "Bapak," ujar Rayhan sejenak dan duduk termenug.


"Naya, besok kita ke rumah Bapak!"


Naya hanya mengangguk menghiyakan.


Turun dan menuju kamar mandi, tak berapa lama Naya sudah keluar dengan rambut basahnya, "mandi Bang keluar yuk!"


ajak Naya


Melihatnya jam sudah pukul lima sore, "Enggak Nay, sebentar lagi magrib," ujar Rayhan.


" mKalau mau selepas magrib, ke Toko, yuk!" sudah seminggu Abang enggak ke sana."


Mendengar suaminya mengajak keluar wajah Naya langsung berbinar, karena selama seminggu ini hanya di rumah dan lebih banyak melakukan kegiatan di kamar.


Sebelum ke kamar mandi Rayhan melihat Naya senyum-senyum sendiri,


"Naya, kok senyum-senyum?" tanya Rayhan curiga.


"Enggak, Bang. Mandi, terus magrib jamaah."


"Jangan senyum-senyum Naya," ujar Rayhan


sembari berlalu ke kamar mandi, keluar dari kamar mandi Naya sudah menyiapkan sajadah dan sarung yang akan di pakainya


"Terima kasih, cantiknya Abang."


Tak ada jawaban, tak berapa lama mereka pun sudah menyelesaikan shalatnya.


Setelah berganti baju, mereka pun berangkat,


melihat Mama dan Papa duduk di ruang TV, mereka mendekat sejenak dan berpamitan.


"Rayhan, mau mengajak Naya ngecek Toko Ma, Pa," ujar Rayhan dan langsung mendapat anggukan dari orang tua Naya, "hati-hati Rayhan, Naya."


Tak berapa lama mereka sudah sampai, tak banyak perubahan masih sama. Hingga kami masuk dalam Toko.


"Selamat datang Pak, Bu," ucap semua karyawan, "selamat menempuh hidup baru," ucap mereka serentak.


"Terima kasih dan maaf jika kemarin kami tidak mengundang dan insya Allah pas ngunduh mantu kalian pasti Bapak undang," ucap Rayhan


Menuju ruangannya yang seminggu tak di kunjungi, sudah banyak berkas yang menumpuk.


"Naya, Abang kerja sebentar, habis ini sekalian mampir ke Ibu mau kan Naya?"


Naya hanya mengangguk.

__ADS_1


Memeriksa lembar demi lembar berkas yang menumpuk sudah jam delapan di lihatnya Naya tertidur di sofa yang sedari tadi menunggunya.


Mendekat perlahan dan mengecup keningnya, "Naya, bangun, kita ke rumah ibu yuk!" ajak Rayhan.


Naya menggeliat sejenak, "Naya ketiduran Bang!"


"Ayo," ajaknya sembari membantunya berdiri.


Perjalanan yang tak membutuhkan waktu lama hanya sepuluh menit akhirnya mereka sampai, lampu masih menyala saat kami datang. Memasuki halaman rumah dan memarkir mobil berjalan masuk ke ruang tamu sembari mengucap salam.


Ternyata benar dugaan Rayhan mereka belum tidur, mendengar suara Rayhan Bapak langsung keluar.


"Ih. kayak tamu,masuk Rayhan."


Mendengar suara Bapak, ibu langsung keluar," Rayhan, Ibu kangen," ucap Ibu langsung mengeret Rayhan dan Naya.


"Aduh Bu, hati-hati, perutnya sudah besar," ujar Rayhan khawatir. Melihat di ruang tengah semua masih berkumpul, kami salim satu persatu.


Eyang Jum langsung mencium seluruh wajah Rayhan begitu juga dengan Naya. Sedangkan Eyang Rahayu langsung menjewer Rayhan, Rayhan hanya tersenyum saja dan menurut.


Kini ibu yang sudah tersenyum tapi beda dengan Bapak, seketika Rayhan teringat akan panggilan dari Bapak, "maaf Pak. Bukan maksud mengabaikan, tetapi Rayhan kan langsung datang," ujar Rayhan lirih.


Rayhan langsung menengok ke dalam kamar, "Kakakmu sudah berangkat Rayhan, ada urusan," ucap Bapak.


Melihat Ibu berjalan dengan sedikit kesusahan sembari mengajak Naya ke teras belakang, tak berapa lama terdengar tawa keduannya


"Bagaimana Pak, Ibu dan dedek Rayhan?" tanya Rayhan.


" Alhamdulillah Rayhan, semua sehat doakan saja waktu lahiran nanti lancar," ucap Bapak sembari menatap kearah Ibu.


"Rayhan, menginaplah semalam," disini pinta Bapak.


Rayhanmengangguk, kini Bapak terlihat serius. "Bagaimana Rayhan mau menempati rumah sendiri atau ...."


"Pak. Sebelumnya Rayhan minta maaf


Kalau Rayhan mau tinggal sama Eyang


Panji?" tanya Rayhan lirih.


Bapak menatapku dengan tajam kemudian menghela napas panjang.


"Yakin dengan keputusan Rayhan, belajarlah mandiri Rayhan, tetapi Bapak juga enggak melarang bicarakan baik-baik dengan Naya dan mertuamu, kini kau yang bertanggung jawab atas istrimu."


Rayhan termenung sejenak, melihat Ibu dan Naya sudah masuk ke dalam, "huf ...dingin ucap ibu.


"Bapak langsung menoleh ke Ibu, sini Bu," panggil Bapak. Bersamaan dengan Naya juga mendekat, "Naya, bmBapak mau kita menginap di sini, mau kan?"


Naya mengangguuk tanda setuju, "beri kabar mertuamu Rayhan."


Setelah Rayhan memberi kabar mertuanya


Bapak masih ngobrol dengan Rayhan hingga


Naya sesekali menguap, "lihat Bu menantu kita sudah menguap terus ayo, kita tidur juga," ujar Bapak lalu menuntut ibu masuk ke kamar.

__ADS_1


"Ajak istrimu istirahat Rayhan."


Melihat Naya memang sudah mengantuk apalagi hari ini sudah tiga ronde, Rayhan meminta jatah. Rayhan jadi tersenyum sendiri mengingatnya.


"Naya, ayo," ajak Rayhan masuk ke kamar masa lajangnya dan memang baru kali ini Naya masuk ke kamar Rayhan.


Mereka langsung merebahkan diri di ranjang,


"Bang jangan macam-macam loh! Naya, enggak bawa baju ganti," ujarnya sambil terlelap.


Mendengar ancaman Naya, Rayhan makin ingin berbuat lebih pada Naya, malam ini dan Rayhan tak mau mengurangi jatah berkunjungnya, "Mas, enggak akan macam macam Naya, cuma satu macam ini."


Kini Nay hanya melotot mendapat serangan dari Rayhan, "Bang. Naya enggak bawa baju," ujar Naya pasrah.


"Besok, Abang belikan, toh bisa pinjam baju Twin Al, atau baju Abang," ujar Rayhan sambil tanganku sudah kemana.


"Abang!" teriak Naya pelan. "Hem ... jawab Rayhan.


"Abang inget ini di rumah Ibu," ujar Naya pelan. "Memang di sana juga rumah Mama," ujar Rayhan sembari mengecup bibir Naya agar tak bersuara.


"Akhirnya, Naya diam juga, kini Rayhan yang beraksi hingga kami sama-sama terkulai lemas. Tertidur dengan sama-sama lelah hingga esok pagi, Rayhan sudah terbangun lebih dulu saat Naya mulai menggeliatkan tubuhnya.


"Pagi, cantiknya Abang!" yang Rayhan sapa masih dalam mode bingung dan sesaat kemudian tersadar, " bangun yuk!"


Takut mendapat serangan pagi hari dari Rayhan Naya langsung bangun dan bergegas mandi. Mendengar suara air sudah berhenti tetapi kenapa Naya tak kunjung keluar, akhirnya Rayhan dengan penasaran membuka pintu kamar mandi.


"Kenapa?" tanya Rayhan. "Bang baju dan daleman Naya?"


"Enggaj usah pakai baju Naya," seloroh Rayhan asal.


"Ih, itu kan maunya Abang," ujar Naya sembari cemberut.


"Sebentar," jawab Rayhan sembari bergegas ke kamar Twin, mencari baju yang pas untuk Naya.


Masuk kedalam dan memberikan pada Naya


"Pakai ini dulu Naya, Abang mandi dulu baru Abang belikan, Bagaimana?" tanya Rayhan.


"Bang tolong dalemanku," ucap Naya


Aku terus menatapnya saat Naya keluar memakai baju gamis Twin.


"Tambah cantik Naya," ucap Rayhan sembari pandangan Rayhan tak lepas darinya.


Naya, Yang Rayhan puji malah senyum-senyum, "Naya," panggil Rayhan.


Mendengar panggilan Rayhan, Naya langsung sadar dan bergegas keluar, melihat itu Rayhan langsung tertawa di dalam kamar, karena Naya takut alan serangan selanjutnya.


Mendengar suara ibu samar-samar berbicara dengan Naya, gelak tawa ibu dan kedua Eyang ikut terdengar. "Galang lihat anak cucu mantu Eyang, cantikkan, pakai gamis," ujar Eyang memuji.


Rayhan hanya mengintip dari pintu kamar saat Naya tersenyum di goda oleh Ibu dan Eyang.


Bapak yang mendengar pujian untuk menantunya tersenyum dan menjawab.


"Bagaimana Bu kalau enggak cantik Rayhan, ya, enggak mau," jawab Galang.

__ADS_1


Melihat keakraban yang terjadi Rayhan hanya berharap selamanya akan seperti ini.


__ADS_2