
Bab 66. Ketauhan
Rahael yang melihatku duduk di depan kamar sedikit terkejut, "eh. Mas Galang? Sudah tadi duduk di sini?" tanya Rahael sembari menatap curiga.
Galang hanya tersenyum, saat melihat Rahael menjadi salah tingkah, "Hash! Gara-gara kau Silvi! Semoga Mas Galang tak mendengar apapun yang kita ceritakan," bisik Rahael lirih.
"Twin mana Mas?" tanya Rahael mengalihkan tatapan suaminya. "Ada di ruang tamu," jaeab Galang singkat.
Silvi yang sedari tadi mendengar percakapan kami seketika mengkerutkan keningnya.
"Sudah. Duduk saja jangan berdiri terus," ucap Mas Galang sembari berdiri dan melangkah menuju rumah belakang, tetapi Mas Galang mengurungkan langkahnya sejenak.
"Rahael, Mas mau melihat Bapak sama Ibu dulu, puas-puasin mengobrol, tetapi jangan ngomongin Mas Galang," tutur Galang sembari tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju rumah belakang.
Mendengar ucapan Galang Rahael dan Silvi saling pandang dengan heran, " Rahael, apa suami mu mendengar percakapan kita? Aduh! Rahael, malunya aku," ujar Silvi.
Masih berbincang panjang lebar dengan Silvi, Rahael mendengar suara gelak tawa di ruang tamu, saat mendengar ucapan Twin dan cara bicaranya yang belum begitu jelas.
Rahael melihat sekikas jam di dinding, "waktunya makan siang," guman Rahael menuju dapur begitu juga dengan Silvi yang kini sudah berada di belakang Rahael.
Bi Nina dengan cekatan mengerjakan ini dan itu bersama Bi Narmi. Hingga hampir pukuk satu siang dan semuanya sudah tertata di meja makan.
__ADS_1
"Bi Narmi, tolong panggil Bapak dan sekalian Ibu dan Bapak juga," ujar Rahael sembari menuju kamarnya.
"Silvi, Rahael tinggal di kamar dulu, kamu di sini saja," ujar Rahael sembari menutup pintu kamar.
Rahael kembali keluar dan duduk menemani Silvi. Mendengar tak ada suara dari ruang tamu, Rahael segera mengintip di melalui pembatas yang berdiri kokoh.
"Mereka tidur Silvi , di pangku suami mu dan Rayhan dengan Pak Panji bisik Rahael lirih.
" Ada apa Rahael" tanya Mas Galang tiba-tiba dan mengejutkan Rahael, "Twin tidur, kasihan pindah di kamar saja Mas," ujar Rahael sembari mendorong tubuh suaminya untuk ke ruang tamu.
"Mas, setelah itu ajak tamunya untuk makan siang," ujar Rahael dan Galang hanya mengangguk paham.
Tak berapa lama Raharl sudah melihat Galang dan Mawan keluar dari kamar Twin. Bersamaan datangnya Ibu dan Bapak mertua, " bagaimana Rahael dudah puas bisa menampar anak itu?" tanya Bapak mertuanya.
"Bu, Raharl dhuhuran dulu, khawatir twin keburu bangun, ajak saja mereka untuk makan siang," ucap Rahael sembari masuk kamar.
Bergegas aku ke kamar , tak berapa lama mas Galang juga sudah di kamar mandi untuk ambil air wudhu .
"Jamaah yuk! bareng-bareng di ruang tengah," ajak mas Galang.
"Rahael, di kamar saja mas.
__ADS_1
"Rahael. Ayo!" ucap Mas Galang sembari menarik sajadah mengajakku ke luar kamar.
"Ish. Mas ini," ucap Rahael protes tetapi sambil mengekor langkah suaminya.
Sampai di ruang tengah ku lihat sudah berkumpul, bapak yang menjadi imam nya.
Setelah sholat berjamaah ibu mengajak langsung ke meja makan, untuk makan siang
Saat ada di meja makan aku terkejut ada menu spesial ku , selain sop kini aku juga menyukai menu ikan panggang dengan sambal jeruk limaunya , buih melihat nya saja air liurku sudah meleleh.
Semua makan dengan diam dan menikmati hidangan sederhana tapi mampu menggoyang lidah .
Saat makananku tinggal sesuap ku dengar twin menangis, "biar aku saja mas," ujar Rahael melihat saat mas Galang akan beranjak dari kursinya.
"Ya. Rahael habis ini mas mrnyusul," ucap Galang.
Tak berapa menit aku bergegas berdiri,
"silakan di lanjutkan saya mau lihat twin dulu bergegas berjalan menuju kamar, sekilas nampak Mawan memperhatikan langkahku.
"Masih tetap seperti itu , tapi kan dia istriku
__ADS_1
ucapku dalam hati .
Aku sadari memang Mawan masih sangat mencintai Rahael , itu terlihat dari caranya memandang Rahael .