
Bab 73. Masih Mawan terakhir.
Selesai sarapan mereka langsung pindah ke ruang tengah Mawan tak henti hentinya menggoda Twin, apalagi Bu Widia dan Pak Panji, mereka terus memangkunya hingga tertidur, "biar mereka tidur begini, nanti juga lama enggak ketemu lagi," ujar Pak Panji saat Bi Narmi meminta Twin untuk di pindah ke kamar.
"Maaf!" ujar Pak Panji serius.
"Maaf, jika kami menganggu Anda sepagi ini. Mengingat kami pun harus mampir ke besan kami, di kota B. Sebelum kami menetap di Bali bersama Mawan dan Silvi," Pak Panji menjeda sejenak ucapannya, "untuk itu kami ingin bermain dengan Twin sepuasnya," ucap Pak Panji.
"Oh. Ya, tolong terima ini dan jangan menolak, mungkin saat ini mereka belum memerlukan, tetapi saya yakin kalau Twin sudah besar pasti sangat memerlukan," ujar Pak Panji sembari menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat yang di terimanya dari Bu Widia, " mungkin ini sedikit sebagai bentuk tanggung jawab Mawan."
"Andaikan di ijinkan, setiap bulannya kami juga berharap di ijinkan untuk memberikan tunjangan untuk Twin," ucap Pak Panji lagi.
Galang melihat Mawan dan Silvi hanya menunduk, sementara Bu Widia masih sibuk memangku Rayhan. Saat ini Galang melihat ibu mertua sedang berfikir, "maaf bukan kami tidak menghargai niat baik Bapak tetapi Rahan dan Rayhan masih belum memerlukan banyak biaya," ujar Bu Widia.
"Mungkin nanti, kalau mereka sudah besar tanpa di tawari pasti kami akan menghubungi Bapaknya," tutur Ibu mertua sembari melirik ke arah Mawan.
"Oh, Ya. Masih ada satu permintaan kami
kami ingin berfoto dengan Twin saat bangun nanti," ucap Pak Panji.
__ADS_1
Seketika Ibu mertua tersenyum sembari menjawab permintaan Pak Panji, "silahkan Pak," jawab Ibu Rahayu.
Hari ini Galang benar-benar menjadi seorang pengamat, saat ini Galang melihat Rahael dan Silvi sedang berbicara dan tak lama Bapak dan Ibu ijin untuk ke rumah belakang.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Twin terbangun juga, "Wan. Ayo, ambil gambarnya," ucap Galang seperti enggak sabar kemudian berdiri dan siap-siap memotret.
"Eh. Tunggu," ujar Bu Rahayu sembari menarik Silvi dan Rahael menarik silvi dan Rahael, "ayo Lang! ucap ibu memberi perintah.
Setelah dua foto di jepretkan kini gantian Mawan yang masuk dengan posisi yang sama dan setelahnya, "terima kasih atas semuanya," ucap Pak Panji.
"Baiklah. Terima kasih atas semuanya dan maaf kan kami atas segalanya," ujar Pak Panji sembari berdiri dan melihat jam.
"Kalau begitu kami minta ijin pulang sekali lagi terima kasih," sambil menyerahkan Rwin
Jelas terlihat raut kesedihan di wajah mereka, melepas kepergian mereka saling berpelukan dan mengucapkan maaf.
"Wan lekas buat adeknya Twin," ucapku saat Mawan hendak memasuki mobil.
Mawan sekilas menoleh dan tersenyum, "ayo! Siapa takut kita lomba," ucap Mawan sembari menutup pintu mobil dan menjalankan mobilnya. Setelah menghantar Mawan cs kami kembali masuk, Ibu yang masih memegang amplop langsung menyerahkan padaku, "simpan baik-baik," ucap ibu sambil menyerahkan amplop itu.
__ADS_1
"Ibu saja yang simpan," ucap Galang menolak, "kau itu!" ujar Ibu sembari duduk, "kamu orang tuanya kamu yang berhak menyimpannya," ucap Ibu lagi.
"Sudah ibu mau ke kamar, "oh. Ya, selama seminggu Ibu akan ke kampus di kota B ada urusan Rahael," ucap ibu ulang.
Tak berapa lama ibu sudah masuk ke kamar dan Twin sudah bersama Bi Narmi.
"Rahael. Ayo, keluar yuk!" ajak Galang sembari melangkah ke kamar, "males Mas, capek!" tolak Rahael sembari merebahkan tubuhnya di sofa.
"Janji kita enggak kemana-mana. Mas, sudah janji sama yang punya Ruko, tinggal melihat kondisi dalamnya saja, bagaimana? Mau kan?"
Seketika Rahael duduk, ayo, Mas. Rahael simpan ini dulu," tutur Rahael sembari membuka almari dan menyimpan amplop berwarna cokelat itu.
"Galang hanya memperhatikan saja, kegiatan Rahael hingga beberapa saat, " Rahael, ayo," panggil Galang. "Ayo, Mas," jawab Rahael sembari menutup pintu almari.
"Rahael, kita jalan saja. Dekat sini saja, ayo!" Rahael hanya mengangguk dan mengekor langkah suaminya. Jalan kali ini memang dekat, hanya kisaran sepuluh menit dari rumah.
Setibanya di ruko sang pemilik ruko sudah menunggu, melihat kami datang sang pemilik Ruko langsung tersenyum, "maaf, jika kami datang sedikit terlambat," tutur Galang sembari menjabat tangan pemilik Ruko
"Boleh kami melihat-lihat, karena isteri saya yang akan mengelola Ruko ini," tutur Galang sembari menatao pemilik Ruko.
__ADS_1
"Silakan," ucap pemilik Ruko. Setelah cukup lama kami melihat, akhirnya Rahael setuju untuk membeli Ruko ini. Perdebatan dan tawar menawar harga yang cukup alot akhirnya kami setuju dan sepakat dengan harga yang di setujui.
Rahael hanya tersenyum saat melihat kegigihan suaminya dan keuletannya dalam menawar.