Rahael

Rahael
BAB 126 . PERSIAPAN UNTUK RAHAN


__ADS_3

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat kehamilan Rahael yang semakin membesar membuat Rahael sedikit bersedih tak bisa mendampingi putranya menuju pelaminan


Sudahlah bu , nanti kan bisa di video kan


Rahan lebih memilih ibu di rumah kasian dedeknya , sembari merangkul ibunya


Tapi Rahan , bapak juga di rumah bu , eyang uti juga di rumah


Semua persiapan sudah selesai , besok kami semua berangkat mohon doanya bu ucap Rahan


Eyang panji dan eyang widia masih berbicara serius dengan bapak , nampak wajah ketiganya sedikit tegang


Aku yang melihat itu ikut nimbrung dan mendengarkan dan aku paham akan situasinya


" Gimana Lang seperti keinginan Rahael dan aku sadar maksudnya , istrimu tak ingin nantinya ada yang kurang


" Sudah , eyangnya ini sudah siap dan bangga bisa menikahkan dua cucunya dan kami juga berterima kasih mempercayakan semua ini pada kami


Sesaat kemudian bapak masuk ke dalam mengambil sesuatu yang di masukkan dalam amplop , Ra...mas kawinya mirip kan dengan Ray tanya bapak


" Maaf nanti untuk kue hantarannya biar eyang Rahayu yang menyiapkan dan untuk seragamnya sudah di kirim kan eyang Panji dan eyang widia mendengarkan dengan seksama


" Pak .....seketika bapak diam sesaat


Eyang panji menatapnya dengan serius


" Ini menyangkut tentang ngunduh mantunya


mungkin setelah seminggu pernikahan Rahan akan di laksanakan ngunduh mantu , menginggat Rahael yang sudah hamil tua tidak mungkin kami melakukan kerepotan itu meski semua sudah catering dan yang lainnya


" Kami selaku orang tua dari twin Ra ingin sekali lagi meminta pertolongan untuk membantu kelancaran ngunduh mantu nanti dan kami harap eyang berdua mau membantu


" Hhhhhhh....eyang Panji tertawa dengan keras


" kau ...Lang bicaramu seperti ke siapa saja mereka cucuku Lang yo jelas....aku mau sembari menepuk pundak bapak


Hatiku bertambah lega , Rayhan dan Naya sudah datang dan menginap sementara twin Al tinggal di kota S bersama bi Narmi


Jadi keberangkatan besok hanya aku , Ray , Naya , eyang Rahayu dan eyang Panji serta eyang Widia


Semua hantaran sudah di masukkan tinggal hantaran untuk mas kawin satu set perhiasan dari ayah dan satu set alat sholat


Memandang itu semua hatiku trenyuh , entah mengapa , " Rahan ...panggil bapak cepat istirahat ingat besok harus berangkat


Aku melangkahkan kakiku masuk kedalam ibu yang dari tadi sudah sedikit melo , kemudian memelukku erat , " maafkan ibu jika tak bisa menghantarmu ke pelaminan nak sembari mengusap kepala ku


Aku tersenyum sesaat , " bu...doakan semuanya baik baik saja dan berjalan lancar aku kini memeluk ibu dengan erat


" Rayhan dan Naya yang melihat itu tersenyum


" Ayo istirahat , perjalanan masih jauh


" Jaga stamina buat MP nya ucap Rayhan tanpa filter


" Bapak yang mendengar itu langsung berdehem


" yang sudah merasakan MP gak boleh kasih bocoran , ucap bapak sembari menyentil keningku

__ADS_1


" Ih....bapak malu , kok nyentil


" Itu hukuman jika ngomong gak pakai rem ucap bapak sembari berlalu


Aku dan Naya saling pandang dan tersenyum Bapak yang melihatku langsung mendelik


"Ra..tidur yuk , sembari mengambil tangan istrinya


Melihat Rahan yang masih belum sadar dengan omongan ini hanya diam


Melihat bapak menjauh aku mendekatinya


Jangan khawatir nanti ku bagi obatnya


Rahan tak menjawab , tapi langsung memitingku


" awas kau Ray , jangan macam macam


kini ganti aku yang memiting nya hingga puas , setelahnya kami tertawa bersama sama


Naya yang melihat ini hanya menggelengkan kepalanya


Kami berdua berangkulan memberikan semangat satu dan yang lainnya , " sukses kak nanti MP nya ucap nya lagi


" Lambe mu Ray , Ray sembari berlalu


" Nay , ayo ajakku ke kamar


Masih pagi saat eyang panji datang kami pun sudah bersiap eyang uti memelukku


" Ati ati Le , sembari mengusap kepalaku


Setelah berpamitan kami pun berangkat


perjalanan di lalui dengan hening


hanya sepatah dua kata yang keluar dari mulut kami


Hampir delapan jam akhirnya kami sampai di ruko , mengeluarkan hantaran untuk dimasukkan kedalam


Acara di mulai besok tapi karena tak ingin capek akhirnya kami berangkat sehari sebelumnya agar dapat ber istirahat


" Ku lihay Rahan tampak pucat , kurangkul saudara laki lakiku untuk memberinya semangat


" kenapa ? kini ku lihat hanya menunduk dan menangis


" Maafkan aku , ucapnya


Lalu merangkulku lagi , " kubiarkan dia memelukku semaunya karena aku sadar


meski di panggil kakak , tapi untuk keadaan seperti ini kak Rahan lebih nyaman dengan ibu dan memang ibulah yang bisa membuatnya tenang


Setelah beberapa saat dia melepas pelukannya Naya yang awalnya ingin mendekat ku beri isyarat untuk menjauh


" Kakak istirahat , besok hari H siapkan tenaga untuk itu , jangan buat perasaan ibu sedih kak ucapku lagi


Kakak menatapku lekat , kemudian memelukku lagi , " terimakasih ucapnya kemudian masuk kamar

__ADS_1


Pagi menjelang semua sudah bersiap memakai baju seragam ngaten , twin Al tersenyum puas melihat kakak laki lakinya tampak tampan


" Berangkat agak pagi Ra , ucap eyang Panji nanti belum ganti baju untuk ijab


" Mungkin acaranya akan sama dengan Ray langsung resepsi Ra , ku lihat kakak hanya mengangguk saja


Ku pegang tangannya dingin , " kak sudah hafal ijabnya sekali lagi hanya mengangguk


" Kakak nerves tanyaku hanya menatapku saja


" Eh...kok murung , mau menuju halal lo


ucap eyang Panji


" Ada apa kini eyang Panji sudah memeluk


cucunya sembari menepuk punggung Rahan


" Sudah jam delapan ayo berangkat ucap eyang Rahayu


" Bi....tolong ini di masukkan ke mobil


mana Ray , tanya eyang


" Sepuluh menit lagi harus berangkat


setelah semua hantaran dan kue kue sudah masuk mereka pun segera berangkat


Sampai di tempat tujuan di sambut dengan hangat , Rahan langsung di tarik kedalam untuk berganti pakaian


kini pandangannya sudah memindai setiap ruangan namun yang di carinya tak kelihatan


Menunggu di ruang yang telah di sediakan


tak berapa lama acara di mulai


Menghapal ulang ijab qobul yang telah aku hapal


Ais keluar dengan tampilan beda meski berhijab tapi saat ini riasan nya membuatnya


semakin cantik


Pandanganku tak lepas dari wajahnya e...yang kupandang malah menunduk


Aku tersadar saat pak penghulu menjawil tanganku , " Mau di pandang terus atau di halalkan


Seketika wajahku panas menahan malu


Eyang Panji yang di sampingku tersenyum lebar


" Bisa di mulai ucap pak penghulu seketika suasana hening , dengan seksli tarikan nafas aku bisa mrngucapkan ijab dengan lancar


Kata sah , sah , sah seketika terucap membuat aku lega


" Ais yang mengambil tanganku untuk di ciumnya membuatku tersenyum


Kini ia tak menolak lagi untuk ku pegang malah dengan ke inginan nya sendiri menyentuh tanganku , seketika darahku berdesir hangat

__ADS_1


Kini tak ada lagi yang membuatku ragu untuk menyentuhnya


__ADS_2