
"Bagaimana Wan?" tanya Galang lagi.
"Maaf!" Akhirnya Bu Widia yang menjawab.
"Biar Mawan saja yang menginap, bukan bermaksud menolak tawaran Nak Galang tapi semua barang bawaan kami ada di penginapan."
"Gimana, Silvi mau di sini sama Mawan?" tanya Galang.
"Nggak Mas, mungkin ada sesuatu yang ingin Mas, bicarakan dengan Mawan."
"Kalau begitu kami pamit."
Saling menjabat tangan. "Maafkan saya Bu, akan saya usahakan urusan saya agar cepat selesai biar kita bisa sama-sama ke kota M," ucap Galang lagi.
Setelah kepergian orang tua Mawan dan Silvi hanya tinggal Galang dan Mawan.
Berdua dengan keadaan yang tak nyaman, tak ada yang ingin memulai percakapan.
"Wan, aku tinggal shalat dulu ya?"
"Ayo, Mas. Mawan belum shalat juga," ucap Mawan.
Bergegas mengambil air wudhu, tak berapa lama kami sudah shalat bersama.
Setelah melipat sajadah. "Kamu sudah makan Wan?" tanya Galang. Yang Galang tanya hanya diam.
Berjalan ke dapur melihat ke persediaan makanan kering, Galang hanya menemukan mie instan. Memasak sebentar.
__ADS_1
"Wan, kau minum kopi!" teriak Galang. Mendengar teriakan Galang, Mawan bergegas ke dapur.
"Biar kopinya, aku bikin sendiri Mas."
Berkutat di dapur berdua membuat suasana canggung hilang. Duduk di ruang tengah sembari menyatap mie. "Wan, kamu dan Silvi?"
"Aku sudah menikah Mas," ucap Mawan sembari menunjukkan cincin nikahnya.
"Syukur lah," ucap Galang.
"Wan, maaf bukan maksudku menjauhkan Twin darimu tapi ... aku juga harus menjaga perasaan Rahael dan memang sedikit sulit mengingat trauma yang di alaminya,
setidaknya jika kamu sudah menikah Rahael nggak akan berpikiran macam-macam padamu."
Mawan meletakkan mangkok mie nya.
"Mas, mungkin kata maaf tak cukup untukku
"Terima kasih telah merawat Twin dan menjaganya dengan sebaik-baiknya."
"Malu rasanya bertemu dengan Rahael dan orang tuanya. Mawan tak tahu Mas, apa mereka mau memaafkan, tapi setidaknya ini demi kebaikan Twin untuk saat ini.
Galang hanya mengambil nafas panjang sembari menyandarkan tubuhnya di sofa, sembari menyesap kopi yang masih hangat.
"Terus rencana mu setelah mendapat maaf dari mereka?" tanya Galang.
"Setidaknya Mawan akan berusaha menjadi ayah mereka dan bertanggung jawab meskipun tak bisa bersama."
__ADS_1
"Bagaimana dengan silvi?" tanya Galang.
Mawan menatap. "Maaf, Mawan sudah menceritakan semuanya Mas. Bukan maksud Mawan mengumbar aib, tapi Mawan juga ingin Silvi mengetauhi keadaan yang sebenarnya Mas. Cukup dengan Rahael Mawan melakukan kesalahan Mas."
"Kau mencintainya?"
"Mawan akan berusaha untuk itu Mas."
"Baiklah jika seperti itu, aku akan meyakinkan istriku dan mertuaku. Istirahatlah aku akan menyelesaikan urusan ku dulu."
Kemudian Galang bergegas turun ke bawah membawa kopi yang belum habis di minumnya.
Beberapa saat kemudian. "Kok belum tidur Wan."
"Mas, memang Mas mau menetap di kota M?" tanya Mawan.
Galang hanya mengangguk.
"Kasihan Ibu, Bapak dan Mertua, Wan
saat ini keadaannya sedang tak baik. Sebulan yang lalu mengalami kecekakaan meskipun tak parah tapi mertua, mengalami patah tulang, maka dari itu kami di minta tinggal di sana."
"Toko di sini, Mas serahkan pada karyawan
toh, selama ini mereka baik dan jujur. Dan mungkin rencana kedepan aku ingin membuka cabang di kota M."
Mawan hanya diam dan manggut-manggut mendengarkan Galang bercerita.
__ADS_1
Kami berdua hanya terdiam setelahnya dan Galang kembali menyelesaikan pekerjaannya. Sementara Mawan kembali ke atas.
Sudah jam sebelas malam, Galang bergegas ke atas, sesaat Galang melihat Mawan belum tidur.