
Tanpa menunggu lama, bahkan terasa sedikit kasar dan memaksa Rain mencium bibir Bianca yang sudah membuatnya ketagihan, rasanya kenyal dan manis membuat Rain menggila, napasnya bahkan tak teratur, Bianca pun sama semangatnya, dia tak ingin sendirian tanpa sehelai kain pun, dengan sedikit kasar dia meraba tubuh Rain, mencoba menemukan ujung kaos yang dipakai Rain, melihat Bianca yang berinisiatif begini membuat Rain ingin membantunya, dia mencoba membuka bajunya bersama dengan Bianca namun tetap menautkan bibir mereka.
Entah bagaimana yang pasti baju itu terlepas juga, setelah terlepas Rain segera mendekap tubuh Bianca.
"Ah!" Suara itu terdengar saat tubuh polos mereka bersentuhan, rasanya hilang sudah penat hati Bianca, kehangatan itu menenangkan, bahkan Rain juga merasakannya, mereka berpelukan cukup lama, membagi suhu tubuh bersama sebelum Rain mulai menggedong istrinya, meletakkannya perlahan di ranjang mereka.
Tanpa meminta izin Rain kembali menerjang tubuh Bianca, membuat Bianca langsung menggila, desahannya tak bisa dia tahan, membuat suara cukup gaduh, perlakuan Rain benar-benar mengosongkan pikirannya, hanya penuh kenikmatan, Rain mendengar desahan itu pun semakin terpancing, dia seperti begitu semangat membuat desahan itu semakin liar. Rain merasakan Bianca pun makin berani untuk memancingnya, sungguh membuatnya semakin semangat.
Bianca menutup mata dan menggigit bibirnya saat Rain perlahan menyatukan tubuh mereka, awalnya tetap saja terasa tak biasa walau dia sudah menerimanya, namun perlahan akhirnya bisa merasakan sensasinya.
Mereka kembali mengadu napas, sesekali berdesah bersautan, Rain menarik tubuh Bianca agar berada diatasnya, Menganti posisinya agar bisa mengontrol keinginannya sendiri, hal ini membuat Bianca malu namun tak bisa menolak rasa yang di berikan, tak butuh waktu lama hingga membuatnya menjerit tertahan.
Rain membiarkan wanita menikmati sisa-sisa surga dunianya, memeluknya dengan perlahan, beberapa kali mengecup bibir istrinya yang lemas tekulai.
Saat Bianca sudah mulai tenang, Rain membisikkan kata-katanya.
"Aku belum, masih sanggupkah?" Tanya Rain, tak ingin memaksa karena tahu istrinya mungkin kelelahan.
Bianca tak sanggup menjawab, seluruh kaki hingga pinggangnya masih bergetar namun dia tak ingin merasa puas sendiri, tak mungkin membiarkan Rain merasa tanggung, karena itu dia akan menerimanya walau tubuhnya sudah begitu lemah.
Rain tak menunggu lama, namun entah kenapa, malam itu baik Rain maupun Bianca sungguh jauh lebih liar daripada sebelumnya, bahkan mereka melakukannya hingga tengah malam, lalu keduanya tertidur pulas, semua ini ternyata bisa menjadi penawar sejenak untuk mereka.
__ADS_1
---***---
Bianca membuka matanya perlahan, tubuhnya hangat karena tergulung oleh selimut tebalnya, namun bukan itu yang membuatnya terbangun, sebuah ketukan keras di pintu kamarnya.
Bianca mencoba duduk, tubuhnya serasa ingin lepas seluruh sendinya, kemarin mereka benar bertarung hingga tak bisa melanjutkannya.
Bianca melihat Rain sedang menggunakan kaos simpel berwarna abu-abunya, sangat membentuk tubuhnya yang tegap dan bidang itu.
"Pagi," ujar Rain, berjalan sejenak ke arah istrinya walau ketukan itu tak berhenti, dia mencium dahi Bianca lalu buru-buru membuka pintu kamarnya.
Bianca memutuskan cepat keluar dari ranjangnya, merasa ingin tahu apa yang terjadi, dia khawatir itu karena Carel.
"Selamat pagi Nyonya," sapanya.
"Tuan dimana?" Tanya Bianca.
"Ke gedung perawatan," kata Yuri segera, dia memang diperintahkan untuk menunggu dan memberikan informasi kemana Rain pergi.
Bianca membesarkan matanya, dengan napas panjang di memulai langkahnya, dia tak memperdulikan lagi perutnya yang mulai keroncongan, semua yang mereka lakukan tadi malam menguras tenaganya, namun dia memaksakan diri agar cepat bisa melihat keadaan Carel, ingin tahu apa dokter memberitahukan tentang hal baik atau tidak.
Ketika Bianca membuka pintu ruangan perawatan, dia melihat sosok pria itu, terlalu tampan bahkan saat terdiam melihat ke arah kaca, dia tampaknya terlalu fokus hingga tidak menyadari kedatangan Bianca, Bianca segera berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Mencium bau segar dan rasa hangat yang terpancar di antara udara dingin di sana membuat Rain sadar akan keberadaan Bianca, tangannya menyelip ke jari jemari Bianca yang langsung menatap ruangan kaca tanpa berkedip.
6 orang berbaju putih di sana tampak sibuk, mereka tampak kesulitan menenangkan tubuh kecil yang kejang itu, Bianca mengalihkan wajahnya ke tangannya yang di remas oleh Rain, lalu memandang mata indah itu.
"Dokter mengatakan dia kejang dan mengalami perdarahan, telinga dan hidungnya mengeluarkan darah," ujar Rain tak mau menutupi apa yang terjadi pada Carel, mata Bianca membesar, dia kembali melihat ke arah tubuh kecil itu, kenapa tiba-tiba merasa tak tega, jika begitu tersiksa, kejam kah berdoa agar segalanya berakhir saja? Bianca tentu mau Carel sembuh, tapi jika Tuhan lebih mencintainya, bolehkan jangan menyiksanya lebih lama? Air mata Bianca berkumpul di matanya, sialnya membuat semuanya jadi kabur, Bianca mengerjapkan matanya, membuat mata indah dengan bulu mata lentik itu menjadi basah.
Suara melengking alat pantau jantung itu membuat Bianca menjadi tegang, begitu juga Rain, tanpa sadarnya meremas kuat tangan Bianca, Bianca bahkan tak sadar lagi akan sakit akibat genggaman tangan Rain, mereka fokus melihat seorang dokter yang sedang melakukan RJP ( resusitasi Jantung Paru) pada tubuh mungil itu, dia sangat berusaha agar mengembalikan denyut jantung itu namun tidak juga terlalu kuat menekannya, kalau tidak dia bisa mematahkan tulang iga anak ini.
Hampir 30 menit mereka berkutat, namun pandangan mereka sudah tertuju pada Rain dan Bianca yang tampak masih berharap, di RJP terakhir Rain tampak meredup sorot matanya, dia sudah tahu apa yang terjadi.
Sorot mata itu membuat dokter pun mengerti, dia melepaskan tangannya, dan semua orang di sana hanya bisa diam.
Hanya Bianca yang masih menaruh harap, melihat semua orang berhenti, dia tampak kaget. Air matanya lolos begitu saja ke lantai.
"Kenapa? Kenapa mereka berhenti?" Tanya Bianca yang seolah tak bisa menerima walaupun otaknya mengatakan tubuh kecil itu sudah tak bisa diselamatkan.
Rain menatap mata merah menuntut Bianca, hati kecil milik istrinya ini pasti tak bisa menerimanya, dia memeluk Bianca, nyatanya hatinya juga terkoyak, anak itu anaknya, 3 tahun tak pernah dia tahu ada, begitu dia mengetahuinya, cepat sekali dia pergi meninggalkannya.
Apakah Carel mendengar kata-kata terakhirnya yang mengatakan bahwa dia tak menginginkannya? Apakah Carel menyerah karenanya? Tanpa sadarnya matanya yang biasa terlihat tajam itu menjadi basah, memerah karena hatinya sakit.
"Lepaskan dia, dia sudah tak sakit lagi," bisik Rain membuat raungan Bianca makin jadi, apa Tuhan mengabulkan permohonannya? Kenapa untuk hal ini Tuhan begitu cepat mengabulkannya, Bianca menyesal meminta hal itu. Mungkin sikap Bianca berlebihan karena mereka hanya baru bertemu, tapi bagaimana pun dia hanya anak kecil, kenapa begitu cepat meninggalkan dunia? Dia tak akan pernah merasakan indahnya dunia, bagaimana indahnya lautan, bagaimana cantiknya hamparan salju, bagaimana merasakan cinta, dia tak akan tahu, betapa seorang Bianca ingin merawatnya, namun dia harus rela melepaskannya.
__ADS_1