
Rain memperhatikan perubahan wajah Bianca, dia hanya memperhatikannya, Bianca yang merasa Rain tidak lagi menempelkan bibirnya membuka matanya perlahan, menatap mata yang penuh kelembutan yang langsung bertemu dengan matanya.
"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu," ujar Rain, Bianca hanya diam, walau napasnya masih berat, Bianca hanya mengangguk. Rain lalu sekali lagi menyentuh bibi Bianca dengan bibirnya, hanya menyentuhnya sedikit, membuat napas Bianca kembali tertahan, namun sekarang rasanya lebih nyaman.
Rain mengamati perubahan wajah Bianca, tangan Bianca mengepal kembali menahan dirinya, Rain mulai menekan bibir Bianca saat dia merasa Bianca sudah bisa menerima sentuhan darinya, perlahan sekali tak memaksa sama sekali, dengan lembut hingga Bianca akhirnya bisa menerimanya.
Rain tak ingin berbuat lebih lanjut, baginya begitu saja sudah cukup untuk bisa memberitahu Bianca bagaimana perasaannya sekarang. Bianca membuka matanya ketika Rain sudah memundurkan tubuhnya dengan senyum manisnya.
Bianca mengenggam tangannya lebih erat, semakin parah perasaannya sekarang, sanggupkah dirinya meninggalkan pria ini?
Bianca terus menatap Rain, Rain pun memberikan senyum tipisnya, tiba-tiba ponsel Rain berbunyi, membuat suasana yang tercipta terurai sudah.
Rain mengambil ponsel yang ada di sakunya, melihat sejenak ke arah layarnya, dia segera menyimpan ponselnya lagi.
"Rapatnya sudah selesai, aku harus menemui Ken sekarang, sudah malam, anginnya tak akan baik untuk mu, tunggu saja di dalam," ujar Rain sambil menatap Bianca, tak jemu dia menatap wajah cantik itu.
"Baiklah," kata Bianca.
Rain membimbing Bianca untuk masuk ke dalam, dia lalu segera berjalan ke arah Pintunya, di depan pintu sosok Ken tampak, dia segera menyerahkan sebuah berkas dengan map berwarna hijau, Rain melirik sedikit ke arah Bianca, Bianca segera membuang tatapannya, di dalam berkas itukah hal yang ingin diminta oleh Drake?
"Bianca, aku dan Ken akan membahas suatu di sini, tunggulah di kamar, aku akan segera ke sana setelah selesai," kata Rain yang segera menuju ke arah salah satu Sofa, Ken mengikutinya dari belakang memberikan tatapan tajamnya, Bianca merasakan tusukan dari tatapan Ken itu, ingat dengan pesan yang pernah diucapkan Ken.
Bianca menggigit bibir dalamnya, dia mengangguk sejenak lalu masuk ke dalam ruangan yang di tunjuk Rain tadi, perlahan dia menutup pintu itu, sebelum pintu tertutup di mendengar sedikit percakapan Rain dan Ken.
"Bagaimana lepas Pantai Utara?" tanya Rain langsung.
__ADS_1
"Mereka masih mempertimbangkan tawaran tentang pengeboran lepas pantai di pantai Utara itu, itu proyek senilai 13 Trilliun, bahkan jika awalnya saja tidak jadi, kita akan mengalami kerugian besar," ujar Ken.
"Kita ambil resikonya," kata Rain singkat.
"Tapi Tuan terlalu berbahaya," ujar Ken lagi.
Bianca menutup pintunya, jantungnya berdetak kencang, lepas pantai utara, itukah wilayahnya?
---***---
Rain masuk ke dalam kamarnya yang tampak temaram, dia mengerutkan dahinya kenapa begitu gelap? lalu dia segera menghidupkan salah satu lampu, menemukan Bianca sudah tertidur di salah satu sofa yang ada di sana.
Rain memandang wanita itu dengan tatapan datar, wanita ini pasti menunggunya terlalu lama hingga tertidur, Rain memang cukup lama berdiskusi dengan Ken tadi. Rain hanya melihat Bianca tertidur, awalnya hanya ingin membiarkannya tidur di sofa itu, namun baru beberapa langkah dia meninggalkannya, Rain henti dan melirik kembali ke belakang, dia segera kembali.
Dengan sangat hati-hati Rain menyusupkan tangannya di antara pundak Bianca, bersamaan dengan itu menyusupkan tangannya yang lain ke bawah lututnya, perlahan dia mengangkat tubuh Bianca, menaruhnya di ranjangnya yang belum pernah ditiduri siapa pun kecuali oleh dirinya sendiri.
"Rain! itu kau, aku menunggumu lama sekali!" ujar Bianca begitu manja, matanya tampak sendu menatap Rain, tangannya menahan tangan Rain agar tak beranjak menjauh darinya.
Rain bisa mencium bau alkohol yang kuat dari mulut Bianca, dia semakin memasang wajah heran dan kagetnya, Rain melihat ke sekeliling sofa di dekat Bianca, ada sebotol minuman keras dan juga gelas di dekatnya, Bianca pasti mengambilnya dan meminumnya dari tempat penyimpanan minuman keras yang memang ada di sudut kamar Rain.
"Rain! Kau tahu aku sedang bingung! aku sedih! dan aku ingin mati," ujar Bianca dengan suara meracau khas orang mabuk, Bianca tersenyum manja menarik tubuh Rain yang tadi masih memperhatikan kamarnya, membuat Tubuh Rain langsung terhuyung ke arah Bianca dan dengan cepat Bianca mengalungkan tangannya ke leher Bianca.
"Rain? apa yang bisa aku lakukan untuk membalasmu?" racau Bianca lagi, antara sadar dan tidaknya, yang pasti minuman itu membuatnya sedikit tak merasakan sakit di dirinya.
"Kau mabuk," kata Rain menatap wajah merah Bianca, bau alkohol itu sangat tercium.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya minum sedikit, aku ingin tidur, kau ingin tidur denganku? pria-pria ingin tidur denganku," kata Bianca dengan senyuman sumringah namun matanya memancarkan kesedihan.
Rain diam, wajah datarnya terlihat, dia tak menjawab sepatah kata pun.
"Kau jijik denganku? benar bukan? kau tak ingin denganku, tapi kenapa mengatakan menyukaiku? membuatku berharap?" Racau Bianca tak sadar apa yang baru dia katakan.
"Aku ingin denganmu, tapi bukan begini caranya," kata Rain mencoba lembut melepaskan tangan Bianca yang melingkar di lehernya, namun Bianca tak membiarkannya, dia malah menarik kepala Rain seperti tadi pagi Rain lakukan dan dengan cepat mencium bibir Rain.
Rain tentu kaget dengan apa yang dilakukan oleh Bianca, tapi dia tak menyukainya, selain bau alkohol yang menyeruak keras, dia tahu semua ini di bawah sadar Bianca, dia sesungguhnya tak ingin melakukannya.
Bianca mencium Rain dengan cukup ganas, kemampuan ciumannya tak baik, bahkan dia sempat menggigit bibir Rain, Rain yang awalnya terus menolak, namun lama-lama terpancing juga dengan tingkah Bianca.
Tanpa sadarnya, entah bisa atau tidak, sepertinya dia juga terpengaruh oleh bau alkohol itu, dia mulai mencium Bianca, membalasnya dengan ganas, lidahnya menyapu apapun dalam mulut Bianca, tadinya dia ingin melepaskan diri, namun sekarang dia malah menahan kepala Bianca agar tak melepas ciuman panas mereka, Rain menghisap, menggigit kecil bibir Bianca, hingga Bianca tampak kesusahan untuk bernapas.
Tangan Rain mulai mencoba menyusup ke baju yang dipakai oleh Bianca, menyentuh kulitnya yang tak mulus itu membuat Bianca mengelinjang menahan geli oleh sensasinya, namun karena sentuhan itulah akal sehat Rian akhirnya kembali, apa bedanya dia dengan pria yang memberikan luka itu pada Bianca.
Walau Bianca tampak tak menolak, dan dia tampak menikmati ciuman dan sentuhan yang diberikan oleh Rain, tapi itu semua karena pengaruh dari alkohol yang dia minum dan dia tak sadar.
Rain seketika kehilangan nafsunya, dia tak ingin melakukannya dan mengambil keuntungan dari ketidakberdayakan Bianca.
Rain menyudahi sentuhannya dan melepaskan ciumannya dari Bianca, wajah Bianca tampak sangat memerah, matanya menahan nafsu dan napasnya terengah-engah, sungguh pemandangan yang sangat menggoda kejantanan pria mana pun, tapi Rain bukan pria yang seperti itu.
"Tidurlah, aku akan tidur di sofa," kata Rain menarik selimut kembali menutup tubuh Bianca.
"Rain," lirih suara Bianca seolah meminta, dia ingin memberikan dirinya untuk Rain sebagai tanda terima kasih, karena hanya itu yang dia bisa berikan, sebab itu pulalah dia harus meminum banyak alkohol agar dia bisa melakukannya, karena kalau tidak dia pasti sudah terpengaruh traumanya lagi.
__ADS_1
"Jangan pikirkan, tidurlah," ujar Rain, mencium lembut dahi Bianca, yang seketika membuat Bianca sadar diri, Bianca dengan kepala pusingnya menatap Rain yang terlihat samar pergi ke arah sofa dan tidur di sana.
Bianca membaringkan tubuhnya, perlahan dia menenangkan dirinya, mencoba untuk menutup matanya dan segera terlelap mungkin karena masih terpengaruh alkohol yang dia minum tadi.