Rain In The Winter

Rain In The Winter
143.


__ADS_3

Rain baru saja selesai mengobservasi beberapa tempat di pulau ini, sebenarnya dia bukan keluar dari Hotel itu, malah meminta pemilik hotel mencarikannya sebuah hunian yang bisa dia dapatkan segera karena dia merasa dia akan tinggal lebih lama di sini dan pemilik hotel itu dengan senang hati memberikan salah satu villa pribadinya yang sudah tak lama dia tempati.


Rain biasanya selalu segera pulang setelah melakukan pekerjaannya, lebih suka menghabiskan waktunya di rumah dari pada di luar.


Namun saat dia ingin kembali ke tempatnya, dia bertanya pada Antony dimana Bianca sekarang, dan dia mendapat kabar Bianca masih juga pergi bekerja, itu tentu membuatnya sedikit kesal, bukannya sudah dikatakannya untuk berhenti, kenapa wanita ini keras kepala sekali? Bagaimana dulu dia bisa benar-benar menyukai wanita seperti dia? Rain tak habis pikir kenapa bisa?


Namun baru saja mereka melewati beberapa blok di tengah kota, Rain yang awalnya sudah ingin langsung ke hotel tempat Bianca bekerja, sedikit teralih perhatiannya melihat dua orang anak yang langsung di kenalinya, dia tersenyum sedikit, pulau ini memang kecil berkeliling sedikit saja dia bisa bertemu kembali dengan mereka.


"Berhenti," ujar Rain, supir yang mendengar itu sedikit kaget namun sebisa mungkin menghentikan mobilnya dengan baik, Antony saja cukup kaget kenapa tuannya tiba-tiba ingin berhenti.


Antony segera melakukan tugasnya, dia segera membukakan pintu lalu mempersilakan Rain untuk keluar, udaranya tipikal pulau di tengah laut, kering dan panas, membuat matahari yang jatuh tampak berkilau menimpa kulit putih Rain, sejujurnya dari jauh dia terlihat begitu bersinar.


Gwi yang pertama kali melihat Rain mendekat, tak lama Gio pun menatap kedatangan pria itu, si paman rapi.


Gio dan Gwi seharusnya pulang 1 jam lagi, namun karena adanya sesuatu di PAUD mereka, mereka harus pulang cepat, untunglah guru mereka bertanggung jawab dan menunggu mereka hingga nantinya di jemput orang tua mereka.


Gwi tersenyum sangat manis, dia memberikan lambaian tangannya pelan, sangat manis hingga membuat Rain menaikkan satu sudut bibirnya.


Tentu bukan hanya Gio dan Gwi yang teralihkan oleh kedatangan Rain, guru mereka pun begitu, wanita yang mungkin seumuran dengan Bianca atau bahkan lebih muda itu terkesima dengan pria yang perlahan mendekati mereka, pertama dia belum pernah melihat pria setampan itu di sini, kedua ya, penampilan sangat berbeda, namun satu yang dia tangkap, kemiripannya dengan si kembar, apakah dia ayahnya? Dia hanya bertemu dengan ibunya, dia kira si kembar mewarisi keindahan wajah ibunya, tapi setelah melihat pria ini, dia yakin mereka mendapatkannya juga dari ayah mereka.


"Paman!" Sapa Gwi sopan melihat Rain yang entah kenapa bisa tak begitu canggung di depan si kembar ini, dia bahkan langsung berjongkok di depan Gwi.

__ADS_1


"Oh, maafkan aku tuan, aku kira tadi anda adalah ayah dari si kembar, mereka sangat mirip dengan anda," kata Guru itu, tak enak ternyata sudah menyimpulkan hal yang salah.


"Bukan, mami bilang papi sudah tidak ada, tapi … paman memang mirip dengan Gwi, jadi mirip dengan Gio juga, kita kan kembar," ujar Gio menganalisa wajah Rain dan Gwi, kenapa senyum mereka mirip?


"Benarkah?" Kata Rain yang menanggapi Gio, melihat Gio menggenggam tangan Gwi, seolah menjaganya selalu, anak yang benar-benar bertanggung jawab. Gio hanya mengangguk.


"Tuan, apakah anda wali mereka? Mereka seharusnya pulang 1 jam lagi, tapi karena ada urusan para guru, mereka dipulangkan cepat, aku sudah menghubungi kontak walinya, namun sepertinya dia tak bisa datang dengan cepat," kata guru itu lagi.


"Paman bukan wali kami, kami hanya kenal paman sekilas, kami akan menunggu bibi Yuri saja," ujar Gio, ingat bahwa hanya Bianca dan bibinya yang boleh membawa mereka pulang.


Rain mengerutkan dahinya, anak yang pintar sekali, setiap dia berbicara ada kesan tegas dan tak takut apapun, jika dia punya anak laki-laki, maka dia harus seperti Gio, usianya masih kecil namun sudah menampakkan ketegasan tanpa kesan manja sama sekali.


"Kakak, aku lapar," bisik Gwi pada Gio, bekal Gwi tadi jatuh, karenanya dia hanya mendapatkan setengah yang dibagi oleh kakaknya, Gio juga lapar namun tak bisa mengeluh.


"Tunggu sebentar lagi, bibi akan segera datang," ujar Gio mengetatkan pegangan tangannya, membuat Rain menaikan sudut bibirnya sekali lagi, polos sekali.


"Kalian ingin makan apa?" Tanya Rain menatap dua mata indah, pasti diturunkan oleh ibunya, namun kenapa dia malah ingat Bianca. Mata Bianca pun seindah ini.


"Ehm...." Gumam Gio, tak enak meminta namun juga tergiur oleh tawaran itu.


"Tak apa, paman bukan orang jahat, bukan nya paman sudah memberikan gulali sebelumnya, begini saja, paman akan meminta asisten paman membelikannya dan kalian makan di dalam," kata Rain memberikan pengertian, wajahnya yang biasa datar dan dia yang irit bicara langsung berubah di depan anak-anak ini, Antony jadi yakin, tuannya hanya butuh anak agar tak terlalu dingin.

__ADS_1


"Gwi ingin makan ayam itu," ujar Gwi tanpa segan, seolah sudah mengenal paman ini lama, Rain melihat sebuah kedai ayam goreng yang di tunjuk Gwi, dia tersenyum tipis.


"Gio? Bagaimana?" Kata Rain.


Gio memainkan bibirnya, dia tentu mau sekali itu makanan favoritnya, tapi dia masih segan untuk memintanya.


"Kakak juga suka, kita makan itu saja," ujar Gwi, mendengar itu Gio melirik adiknya dan menarik tangannya, Rain tahu pria kecil ini bersikap sungkan, dia jadi ingat, dia pun dulu begitu, meminta pada orang lain adalah hal yang paling disungkankannya.


"Antony," kata Rain tanpa melirik Antony, Antony pun tanpa diberikan penjelasan apapun langsung pergi ke tempat penjual itu.


"Aku meminta izin untuk menemani mereka makan di dalam," kata Rain mencoba sedikit ramah pada guru ini.


"Ya, tentu, silakan Tuan," ujar guru itu, tentu sebenarnya tak boleh, tapi siapa yang bisa menolak pesona pria ini.


Gio dan Gwi duduk di meja bundar kecil di taman bermainnya, Rain juga ingin duduk, namun karena kakinya yang jenjang, dia kesulitan duduk di kursi kecil itu, jadi dia putuskan hanya berdiri, mengamati kedua anak itu yang sedang membuka bungkusan makanan mereka.


"Wah, paman kau membelinya Banyak sekali, apa kau begitu kaya? Bahkan ada mainannya," ujar Gio kaget, dia tak menyangka mendapatkan full paket yang selalu diidamkan nya, mainan dari hadiah itu juga sudah lama dia inginkan, namun dia tak bisa memintanya pada ibu atau paman Bramnya, sadar bahwa hanya menikmati ayam saja sudah sangat bersyukur.


Rain tentu mendengar itu tersenyum apalagi melihat kepolosan Gio karena takjub, makanan begini tentu tak ada apa-apanya baginya.


"Paman mari makan," ujar Gio dan Gwi serempak walaupun lapar tak melupakan tata kramanya.

__ADS_1


__ADS_2