Rain In The Winter

Rain In The Winter
49. Kau punya ibuku, aku punya informasinya.


__ADS_3

Bianca membuka matanya perlahan, kepalanya tentu pusing, dia memutar tubuhnya, sedikit menutupi matanya dengan telapak tangannya karena silau dari cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam ruangan itu.


Bianca mencoba menatap ruangan itu, akhirnya dia ingat terakhir kali dia ada di kamar Rain dan dia berniat ....


Bianca diam, dia membesarkan matanya sambil menaikkan sedikit selimutnya, melihat ke arah tubuhnya, dia masih dengan pakaian lengkapnya.


Apa kemarin dia tidak jadi melakukannya? apa kemarin dia terlalu mabuk hingga tak sadarkan diri? tapi seingatnya dia tidak menyentuh sama sekali ranjang ini dan sekarang dia ada di ranjang yang sangat empuk ini.


Bianca melihat ke arah sebelahnya, bagian sebelah itu rapi tanpa tanda-tanda adanya orang yang menidurinya, itu artinya Rain tidak tidur dengannya, lalu dimana pria itu tidur, setahu Bianca, bangunan ini hanya memiliki dua ruangan, satu ruangan yang luas itu, satu lagi kamar Rain, yang lain hanyalah dapur kecil.


Bianca mengerutkan dahinya, apa yang terjadi semalam? pikirnya yang mencoba mengingat namun tak bisa ingat apapun.


Bianca menjejakkan kakinya ke lantai, jam di meja dekat ranjangnya menunjukkan pukul 09.00 pagi, tumben sekali dia tidak dibangunkan untuk sarapan.


Bianca melirik semua tempat di ruangan itu, kosong tanpa seorang pun, sosok Rain juga tak terlihat, bahkan saat dia memeriksa kamar mandi, tempat itu juga kosong.


Setelah menggosok gigi dan mencuci mukanya agar sedikit terlihat segar, Bianca akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan itu, di sana dia melihat sosok Yuri sudah berjaga dengan sikap biasanya.


"Selamat pagi Nona Bianca," ujar Yuri tersenyum hangat lebih ke sumringah pada Bianca.


"Pagi, kenapa aku tidak dibangunkan untuk sarapan?" tanya Bianca melirik liar mencari keberadaan Rain.


"Tuan Rain sendiri yang meminta agar Anda tidak dibangunkan, beliau sudah pergi pagi-pagi sekali dengan helikopter, Tuan Rain mengatakan jika ingin tetap menginap di sini silakan, Nona bebas menikmati waktu di sini sebelum pulang kembali ke pulau," ujar Yuri.


"Oh, benarkah?" tanya Bianca yang tak menyangka, pria itu tiba-tiba saja sudah tidak ada lagi di sini.


"Benar, Nona, apakah sarapan sudah bisa disiapkan?" tanya Yuri.

__ADS_1


"Ya, bisa, Yuri, bolehkah aku bertanya, berapa jam perjalanan dari sini ke ibukota?" tanya Bianca yang mengundang sedikit kerutan di dahi Yuri.


"Sekita 8-10 jam jika menggunakan mobil berkecepatan sedang Nona," ujar Yuri.


"Oh, baiklah, bisa membuatkan ku steak sapi? aku sedang ingin makan itu," kata Bianca lagi.


"Steak sapi? pagi-pagi Nona?"


"Ya, tidak apa kan? aku tiba-tiba saja ingin, mungkin karena dari kemarin perutku kosong jadi sekarang permintaannya aneh," alasan Bianca untuk bisa mendapatkan waktu yang lebih lama, dia harus segera melancarkan rencananya.


"Ehm, baiklah," ujar Yuri walau permintaannya aneh, namun dia harus tetap menyanggupinya.


"Yuri, tolong pastikan dagingku masak sempurna, aku tak suka jika masih berwarna merah, tunggulah hingga masak ya," ujar Bianca.


"Baik, Nona," kata Yuri segera meninggalkan Bianca, aneh tapi tak bisa terbantah.


Bianca segera berjalan menuju ke arah telepon yang ada di dekat bar kecil itu, dia lalu segera mengangkat gagangnya, ada raut wajah ragu sebenarnya, namun akhirnya dia membulatkan tekatnya.


Dia mengambil tisu yang ada di sakunya, dengan perlahan dia menekan nomor demi nomor yang tertera, dia lalu meletakkan gagang telepon itu ke telinganya, suara nada sambung seketika terdengar membuat napas Bianca segera tercekat.


Beberapa kali nada sambung terdengar membuat Bianca semakin gugup, setelah itu dia bisa mendengar panggilannya di angkat.


"Aku sudah mendapatkannya tapi aku hanya ingin mengatakannya langsung pada Drake, jika tidak jangan harap aku mengatakannya," ujar Bianca dengan suara tegas, sebenarnya dia gemataran, namun dia mencoba sekuat tenaga agar terdengar tegas.


"Baiklah, di dekat loby Utara ada mobil hitam dengan nomor polisi XXYY, kau bisa masuk ke dalamnya dan dia akan membawamu ke sini," kata suara berat yang Bianca tahu adalah suara dari asisten Drake.


"Baiklah, aku ingin jangan ada yang macam-macam, jika tidak selamanya kalian tak akan tahu dimana lokasi Rain mengembangkan bisnisnya," kata Bianca.

__ADS_1


"Kau tidak sedang dalam keadaan untuk bernegosiasi," kata Ben mengerutkan dahinya, bagaimana wanita ini bisa seberani ini.


"Aku bisa, kau punya ibuku, aku punya informasinya,"


kau pasti tak ingin kehilangan informasi seharga 13 triliun bukan?" kata Bianca sedikit menaikkan sudut bibirnya, nadanya mengejek dan mengancam.


"Baik, aku pastikan tak ada yang macam-macam, datang saja, Tuan akan menunggumu," kata Ben lagi memutuskan panggilannya.


Bianca meletakkan gagang telepon itu dengan perlahan, dia lalu segera bersiap-siap, tak ada yang dia bawa, dia hanya mengikat rambutnya dengan cepolan, lalu segera melangkah ke arah pintu, setelah menarik panjang napasnya dia membuka pintu, seketika kedua penjaga itu melihatnya.


"Bisakah katakan pada Yuri saat dia datang, aku sedang ingin sedikit menghirup udara pagi, aku akan ada di pantai sana," ujar Bianca lemah lembut menunjuk pantai di bawah mereka.


"Saya akan menemani Nona," ujar salah satu dari penjaga itu.


Bianca diam, mencurigakan sekali kalo dia tiba-tiba menolak, Bianca menggigit bibirnya, dia lalu segera mengangguk.


Bianca berjalan ke arah bagian loby dari tempat itu, perlahan dia mengamati semua orang yang masih cukup ramai memenuhi restorannya, Bianca mengedarkan matanya dan tertambat di sebuah tempat buah, dia mendekatinya perlahan, tangannya sigap mengambil pisau buah kecil yang bahkan biasa dia sembunyikan di balik tangannya.


"Ehm, aku ingin ke kamar kecil, kau boleh menunggumu di sini saja," ujar Bianca yang pamit pada penjaganya. Penjaga itu menganalisa sejenak, " kau tak mungkin menjagaku di dalam kamar kecil wanita kan? itu hanya di sana, tenang saja," ujar Bianca.


Penjaga itu mengangguk sejenak, Bianca lalu tersenyum dan segera berjalan ke arah kamar mandinya sambil terus menyembunyikan pisau buah kecil itu.


Bianca masuk ke dalam kamar mandinya, melihat sekeliling bahkan dia memastikan di dalam bilik itu tidak ada siapapun, tak lupa dia mengunci pintunya takut kejadian kemarin terjadi lagi.


Bianca segera membungkus pisau itu dengan tisu toilet, dia lalu mencoba mencari tempat yang tidak mencurigakan untuk menyembunyikannya namun mudah untuk dia jangkau. dia akhirnya menyelipkannya di dalam Celana bagian dalamnya.


Bianca lalu memeriksa sekali lagi apakah bisa dia melakukan gerakan yang tak mencurigakan dengan pisau itu di dalam celananya, setelah memastikan tak tampak mencurigakan, Bianca lalu segera mengintip keluar, penjaga itu masih setia di sana.

__ADS_1


Dia menunggu cukup lama mencari bagaimana caranya agar dia bisa lolos dan akhirnya kesempatan itu datang juga, dia melihat seorang laki-laki tua yang tampak berbicara pada penjaga itu, Penjaga itu tampak melirik ke arah kamar mandi, Bianca tentu segera menutup pintunya, setelah itu penjaga itu tampak membantu dengan menunjukkan arah, sepertinya bapak tua itu ingin ke suatu tempat.


__ADS_2