
Bianca menarik selimutnya, bukan karena ruangan itu cukup dingin tapi karena dia sedang sangat gugup sekarang.
Ini bukan pertama kalinya dia akan tidur dengan Rain, tapi ini pertama kalinya dia melakukan itu dengan sadar, 2 kali sebelumnya dia sama sekali tak sadar dirinya tidur dengan Rain.
Setelah makan malam tadi, Rain kembali mengurusi pekerjaannya bersama Luke dan mengatakan Bianca untuk istirahat duluan, Bianca sudah menunggunya lebih dari 1 jam namun pria itu belum juga menunjukkan batang hidungnya, setiap detik malah membuatnya semakin tegang dan gugup.
---***---
Rain masih mengurusi pekerjaannya, dia masih membahas tentang perusahannya dengan Luke yang memang selalu menjadi perpanjangan tangannya di perusahaan, berbeda dengan Ken yang selalu di bawanya kemana-mana, Luke lebih sering di tinggal dan selalu menjadi bayangannya di seluruh perusahaannya.
"Tuan, ada rapat para direksi Minggu depan di kantor pusat kita, apakah kali ini anda akan datang?" Ujar Luke.
"Bagaimana kabar dari Takigawa?" Ujar Rain melirik ke arah Luke.
"Tuan Drake sudah menandatangani surat kontraknya, mungkin besok dia akan mulai memasukkan investasinya pada perusahan kita," ujar Luke tersenyum.
Rain menaikkan sedikit sudut bibirnya,menggelengkan kepalanya sedikit, benar-benar terlalu gegabah dan dibutakan oleh kesuksesan dan rasa ingin menang hingga terlalu terburu-buru dan juga gegabah.
"Kapan rapat itu akan dilakukan?" Tanya Rain lagi.
"Jika Anda datang, itu semua terserah anda, tak akan ada yang berani menentangnya," kata Luke lagi.
"Atur setelah pernikahanku namun pastikan dia telah memberikan semua syaratnya, jika belum, batalkan saja kerjasamanya," kata Rain segera.
"Sayang sekali jika kita membatalkannya," ujar Luke.
"Percayalah, dia tak akan mau membatalkannya, susun sesuai dengan rencana," ujar Rain lagi sambil menatap tembok dengan tatapan tajam, senyum sinisnya mengembang, ingin tahu bagaimana wajah Drake saat tahu bahwa sekarang dia bekerja di bawah naungan Rain, mau tak mau dia harus mengikuti apa mau Rain, jika tidak semua yang dia kerjakan dan semua kerja kerasnya akan hilang hingga tak tersisa.
"Bagaimana dengan masalah pernikahanku?" Ujar Rain kali ini melirik ke arah Luke.
"Esok siang aku akan mendaftarkannya, dokumen tentang nona Bianca baru selesai besok pagi karena Nona Bianca sama sekali tidak punya dokumen apapun, semua harus dibuat dahulu," kata Luke menjelaskan.
__ADS_1
"Baiklah," kata Rain sedikit menganggukan kepalanya.
"Tuan, apakah anda akan mengadakan pesta? berapa undangan yang harus di sebar, para petinggi negara mereka selalu mengingatkan untuk di undang saat pernikahan Anda, mereka sudah menantikan hal itu karena anda sama sekali tak pernah mengadakan jamuan sama sekali, selain itu, apakah keluarga anda di negara X harus diberitahu?" Tanya Luke panjang lebar, karena dia tahu semua itu akan menjadi tugasnya, mengingat sekarang Ken tak lagi ada di sini.
Rain diam sejenak, dia memutar-mutar pena yang ada ditangannya, tak pernah berpikir harus banyak hal dipikirkan untuk sebuah pernikahan, dia kira hanya menikah ya sudah tanpa harus memikirkan yang lain.
"Aku akan bertanya pada Bianca dulu," kata Rain singkat saja.
"Baik Tuan," ujar Luke yang sebenarnya ingin hal itu diputuskan secepatnya, Minggu depan bukan waktu yang lama untuk bisa menggelar pernikahan, apalagi jika tiba-tiba diadakan pesta dan pernikahan Rain tentunya tak bisa hanya biasa saja.
"Baiklah, kau sudah bisa istirahat," kata Rain segera berdiri, Luke pun mengikutinya.
"Terima kasih Tuan," ujar Luke memberikan salam.
Rain segera keluar dari ruang kerjanya, perlahan menaiki tangga menuju lantai dua dan segera berjalan ke kamarnya, dia membuka pintu kamarnya perlahan, tak ingin membangunkan Bianca yang menurut asumsinya sudah tidur.
Dia langsung menemukan wanita itu bergulung selimut, Rain mendekat sejenak meletakkan ponselnya di dekat ranjanganya saat itulah dia sadar bahwa wanita itu nyatanya belum tidur.
"Eh, sudah selesai?" Kata Bianca langsung terduduk melihat Rain.
"Ehm, menunggumu," ujar Bianca yang tak bisa mengatakan bahwa dia tak bisa tidur karena begitu gugup membayangkan dia akan tidur berdua dengan Rain, seolah seperti anak remaja saja.
"Aku akan kembali," kata Rain berjalan menuju walking closet itu, dia pasti ingin membersihkan dirinya, jantung Bianca kembali berdegup kencang, apa yang harus dia lakukan? Apa lebih baik dia pura-pura tertidur saja, bagaimana jika, banyak hal yang membuat Bianca nyatanya kembali melalang buana.
Bianca tak sempat pura-pura tidur saat Rain sudah keluar dari walking closet itu dengan baju tidur berwarna hitam berbahan nyaman, dia mengerutkan dahi melihat mata Bianca yang kosong terlihat sedang berpikir.
"Bianca, seberapa banyak orang yang ingin kau undang ke pernikahan kita nanti?" Ujar Rain datar, dia berjalan mendekat ke arah Bianca, Bianca yang sadar langsung tampak gelagapan, Rain dengan santainya duduk di samping Bianca, tak sadar akan keadaan Bianca yang hanya meliriknya.
"Aku tak punya siapa-siapa untuk di undang," kata Bianca matanya awas menatap pria itu yang tampak santai ada di sampingnya, tak langsung tidur malah mengotak-atik ponselnya.
"Aku juga, keberatan jika pernikahan kita hanya dilakukan sederhana? Aku tak suka di tempat ramai," ujar Rain masih punya sedikit pemikiran agar dia tak egois untuk menentukan pernikahannya, bahkan kalau mengikuti kemauannya maka dia tak ingin ada pesta sama sekali.
__ADS_1
"Tidak masalah, tapi …" kata Bianca ada keraguan dari kata-katanya.
"Ehm?" Lirik Rain dengan kerutan dahi, akhirnya Bianca bisa menarik perhatiannya, melihat Bianca yang gugup di sampingnya, Rain ingin menenangkannya, namun Bianca tampak sedikit kaget dan menjauh, Rain bertambah aneh, kemarin-kemarin saat mereka berdekatan Bianca tidak seperti ini.
"Ada apa?" Tanya Rain lagi memastikan.
"Apa kau benar-benar yakin menikah denganku? Di" ujar Bianca pelan.
Rain yang tadinya mengerutkan dahi semakin mendalam kan kerutannya, kenapa lagi wanita ini bertanya hal itu padanya?
Melihat reaksi Rain yang kaget dan juga penuh kerutan memandangnya, Bianca langsung merasa harus menjelaskannya.
"Aku hanya berpikir, apa yang kau lihat dariku? Aku sudah tak punya apa-apa Rain, apa kau tahu aku sudah pernah tidur dengan Drake! Bagaimana jika hal itu yang akan terus dikatakan olehnya, apa kau tidak akan kesal? Lagi pula entah aku bisa melakukannya atau tidak denganmu, aku takut akan sama seperti awal kita berciuman, aku akan menolakmu dan aku rasa hal itu tak akan mudah dihilangkan," ujar Bianca menjelaskan, hal ini yang membuat kepalanya penuh dari tadi.
Rain tetap menjaga kerutan wajahnya membiarkan Bianca mengeluarkan semua unek-unek yang tampak dia simpan.
"Kau pikir aku menikahimu hanya untuk itu?" Kata Rain melirik ke arah Bianca tajam, dalam pikirannya Bianca menyakamakannya dengan pria-pria lain, apalagi tadi dia mengatakan nama Drake, hal itu merusak moodnya seketika.
"Tapi jika sudah menikah tak mungkin tak melakukannya, aku rasa aku tak bisa melakukannya, bagaimana jika aku tak bisa melakukannya?" ujar Bianca lagi dengan wajah cemasnya.
"Perlahan, aku yakin kau bisa melewatinya, dan Aku tidak akan memaksamu," ujar Rain dengan tatapan serius yang menenangkan.
"Tapi? Drake?" Kata Bianca namun Rain segera menyelanya.
"Bianca?! Tak bisa kah tidak menyebut namanya? Aku tak akan masalah jika dia yang mengatakan hal itu, tapi jika kau terus menyebut namanya apalagi di kamar kita, aku rasa itu agak mengangguku," ujar Rain sedikit bernada tinggi hal itu membuat Bianca sedikit kaget, belum pernah dia melihat Rain kesal seperti itu, Bianca rasa dia memang salah mengatakan hal ini apalagi saat Rain ingin beristirahat seperti ini.
"Maafkan aku, aku hanya …." Kata Bianca bingung harus mengatakan apa.
"Lebih baik tak mengatakan apa-apa, aku tak ingin tahu dan mengungkit apa masa lalumu, aku menikahimu dan menerimamu sebagaimana kau saat ini, kita lewati saja dulu, jika ada sesuatu di depan maka kita jalani bersama," ujar Rain dengan nada serius, tatapan tajam tanda dia tak main-main itu terlihat, Bianca hanya terdiam melihatnya, dia mengangguk sambil menunduk.
Tundukan kepala Bianca itu membuat Rain merasa sedikit bersalah sudah menaikkan suaranya, Rain menarik tangan Bianca, membawanya dalam dekapannya, Bianca sedikit kaget, ingin berontak namun hangatnya terasa begitu nyaman.
__ADS_1
"Kita menikah saja dulu, biar aku jadikan dirimu milikku seutuhnya maka setelah itu kita hadapi semua berdua," kata Rain perlahan mengusap kepala Bianca, membuat Bianca terbuai, harum lembut itu menenangkan semua kekhawatirannya, ternyata dia hanya butuh pria ini di sisinya.
Bianca mengangguk pelan dan dengan perlahan Rain membaringkan tubuh Bianca, sebuah kecupan hangat di dahinya membuat Bianca benar-benar melepas semua ragunya dan perlahan dengan dekapan nyaman mengantarnya ke alam mimpi yang indah.