
Mobil yang membawa Rain dan Bianca memasuki area rumah mereka yang megah, terparkir sempurna di depan pintu utama rumah itu, dengan mantap Rain turun dari mobil Marcedes-Maybach S560 berwarna hitam, setelah dia turun dia segera mengitari mobilnya dan membukakan pintu untuk Bianca, Bianca segera keluar dan memberikan senyuman manis yang langsung disambut oleh senyuman tipis ala suaminya. Bianca tanpa canggung lagi segera mengandeng suaminya itu.
Mereka segera berjalan menuju ke pintu utama rumah mereka yang megah, namun baru saja mereka ingin masuk ke dalamnya, Luke tampak muncul dengan wajah yang sedikit panik dan tergesa-gesa, Rain melihat Luke itu segera mengerutkan dahinya.
"Selamat datang kembali, Tuan, Nyona," kata Luke dengan wajah cemasnya. Bukan hanya Rain, Bianca pun bingung melihat wajah Luke, mereka baru saja pulang dari liburan mereka di daerah bersalju itu dan Luke menyambut mereka dengan sangat panik seperti ini.
"Ada apa?" tanya Rain langsung, tak suka menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.
Luke lalu melirik ke arah Bianca, membuat Bianca semakin tertekuk dahinya, Luke seolah sungkan menjelaskannya di depan Bianca, apa harus Bianca pergi dulu? pikirnya.
"Tuan," kata Luke, dia segera mendekati Rain, berbisik sesuatu yang langsung membuat mata Rain membesar, Bianca langsung bertambah bingung dengan keadaan ini. Rain saja tampak begitu kagetnya.
"Ada apa?" tanya Bianca lembut, Namun seperti baru disambar petir, bahkan suara lembut Bianca tidak berpengaruh pada Rain, dia langsung menatap ke arah Luke.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak mengusirnya?" suara Rain tampak sedikit meninggi, membuat Bianca menjadi kaget karena suara suaminya itu, apa yang sudah di sampaikan oleh Luke hingga sesaat saja membuat rain bisa tampak begitu kesal dan marah.
Luke kembali terlihat panik, dia kembali segera mendekati Rain, sekali lagi membisikkan sesuatu, kali ini Bianca yang merasa sedikit kesal, kenapa harus saling berbisik di depannya, jika tak ingin dia dengar lebih baik menyuruhnya pergi atau masuk duluan, pikir Bianca.
Kali ini mata Rain kembali membesar sempurna, bahkan lebih besar dari pada yang tadi, Bianca hanya bisa melempar pandang pada Luke dan Rain, kali ini Rain hanya menatap ke arah Bianca, membuat Bianca kembali tak bisa menutupi rasa kesalnya.
"Ada apa sih?" tanya Bianca.
"Bianca, masuklah dari pintu samping, ada yang harus aku bereskan sebentar di sini, Yuri, bawa Nyonya masuk," kata RainĀ memerintah, dia bahkan tidak menunggu Bianca untuk menjawab apalagi bertanya, Rain masuk begitu saja ke dalam rumahnya yang segera diikuti oleh Luke.
"Nona, mari," kata Yuri dengan patuh mengikuti perintah tuannya, namun Bianca tidak bergeming, matanya masih terpaku dengan sosok pria yang sekarang tampak berhenti di ruang tamu itu, dihadapannya seperti ada seseorang, dia tampak berbicara, namun Bianca tidak bisa melihat siapa lawan bicaranya karena terhalang oleh tembok.
"Nona?" tanya Yuri yang tahu apa yang diperhatikan oleh Bianca, namun dia pun tak bisa memaksa Bianca untuk ikut dengannya. Bianca memberikan gestur tangannya untuk menunggu, dia ingin tahu, dengan siapa Rain berbicara hingga dia tidak boleh masuk dari pintu utama.
__ADS_1
Mata Bianca membesar, wajahnya terkejut sekali, Yuri yang melihat itu hanya bisa menunduk dan mengundurkan dirinya sedikit lebih jauh dari Bianca. Bianca tidak percaya dengan apa yang dia lihat, seorang wanita tiba-tiba muncul dan memeluk tubuh Rain, Rain tampak diam, namun wanita itu terus memeluknya, Bianca tak menyangka karena alasan itukah sampai dia harus masuk dari pintu samping? Siapa wanita itu? kenapa dia memeluk Suaminya? Ya, Rain adalah suaminya, tapi kenapa dia memeluk suaminya? Bukannya hak Bianca untuk tahu dengan siapa suaminya sekarang? Ya, Rain adalah suaminya, jadi dia yang berhak memeluk pria itu bukan wanita itu.
Bianca langsung terbakar cemburu, dia segera ingin melangkah masuk, namun baru selangkah dia ingin masuk ke dalam ruangan itu, dia melihat Rain tampak dengan kasar melepaskan pelukan dari wanita itu, dia berhenti sejenak, ingin melihat lebih lanjut apa yang terjadi, namun sepertinya Rain dan wanita itu tampak bertengkar, rasa penasaran Bianca semakin menjadi, apakah dia salah satu wanita dari masa lalu suaminya? Hal yang sampai sekarang tidak bisa dijawab oleh Bianca, kenapa Rain tidak mengizinkannya bertemu dengan wanita itu, bukannya akan lebih mudah menghalau wanita itu jika dia memperkenalkan Bianca sebagai istrinya, Bianca tidak ingin menyimpan perasaannya yang akan membuat dia merasa tak nyaman nantinya dengan Rain, karena itu dia putuskan untuk masuk.
"Nona! Nona!" kata Yuri yang mencoba untuk menahan Bianca, namun Bianca tak memperdulikannya, dia segera masuk dan ingin segera tahu semuanya, dia tak ingin menerka-nerka tentang hal ini.
---***---
Rain masuk ke dalam ruangan itu, langkahnya sangat mantap dan panjang hingga baru beberapa langkah saja dia sudah sampai dan bertemu dengan sosok yang sama sekali tidak ingin dia temui, wajah Rain tampak datar dan keras, dia menggenggam tangannya dengan erat.
Sosok wanita bergaun putih itu sebenarnya tampak begitu anggun, rambutnya terurai indah teratur, wajahnya manis dengan tubuh kurus semampai, wanginya yang lembut tampak menguasai ruangan itu, dia berdiri secepatnya ketika melihat sosok Rain di depannya, matanya berkaca-kaca, seolah menahan rindu yang amat sangat, sudah begitu lama mereka berpisah, membuat Lidia bahkan tak bisa menahan dirinya untuk menangis.
"Apa yang kau lakukan di sini? " tanya Rain, suaranya tak ada ramah-ramahnya, baginya wanita yang tumbuh bersamanya ini sudah menjadi salah satu orang yang seumur hidupnya tidak ingin dia temui lagi, terakhir kali, kelakuan Lidia sangat-sangat tidak bisa dia torerir, membuat Rain membencinya bahkan tidak bisa memberikan kata Maaf untuk wanita ini.
__ADS_1
"Kakak, aku sangat merindukanmu," isak Lidia yang tampak sangat haru, tak peduli bagaimana ketusnya Rain menyambutnya, namun bisa melihat satu-satunya pria yang hanya ada di dalam hidupnya ini membuat Lidia sudah begitu senang.
"Aku tak ingin kau ada di sini, pergi dari sini! " kata Rain mengusir dengan ketus Lidia, namun Lidia seperti tidak mendengarnya, dan dengan cepat Lidia berhambur dan memeluk tubuh Rain, kehangatan ini sudah lama tak Lidia rasakan, dulu dia adalah wanita yang paling penting buat Rain, pria ini bahkan selalu memanjakannya dengan memerikan semua yang Lidia inginkan, sedikit saja Lidia tergores maka semua yang melukainya akan menerima akibatnya, namun sekarang mereka sudah begitu jauh, Lidia bahkan merindukan harum tubuh pria ini selama dia berpisah dengan Rain, kenapa? kenapa tak bisa Rain mencintai Lidia? padahal seumur hidupnya Lidia selalu berbuat apapun yang akan membuat Rain menyukainya.